Gyeongbok: Kediaman Raja-Raja Korea

Korea, negeri yang terletak di sebuah semenanjung antara China dan Jepang ini adalah sebuah negara yang memiliki sejarah cukup panjang. Baik itu pada jaman kuno, maupun jaman modern. Sejarah yang kini menjadi salah satu landasan kuat dari budaya bangsa. Dan, salah satu saksi berbagai sejarah tersebut adalah Gyeongbok, sebuah istana yang dulu pernah menjadi kediaman resmi Raja Korea.

Secara singkat, Korea dulunya merupakan sebuah negara berbentuk kerajaan hingga beberapa generasi. Seperti layaknya sebuah kerajaan, pasti ada dinasti yang memerintah dari waktu ke waktu. Salah satu dinasti yang terkenal pada sejarah Korea adalah dinasti Joseon – yang juga menjadi dinasti terakhir yang memerintah kerajaan Korea. Salah satu raja yang terkenal dari dinasti tersebut adalah Sejong – juga dikenal sebagai Raja Sejong yang Agung. Mau tau apa aja sebabnya dia terkenal? Mungkin bisa diliat sebagian di sini.

Anyway, blogpost ini ga bakal bahas soal silsilah atau sejarah kerajaan Korea ya.. Itu cuman pengantar aja buat bahas salah satu peninggalan kerajaan Korea yang masih bisa dilihat dan dikunjungi saat ini. Yaitu… Gyeongbok, dikenal juga sebagai Gyeongbokgung, atau Istana Gyeongbok. Istana yang dulu pernah menjadi kediaman resmi dari sang Raja Korea.

Untitled

Gyeongbok ini terletak di bagian utara dari Seoul – ibukota Korea Selatan (atau juga disebut Republik Korea). Arti dari Gyeongbok itu kurang lebih adalah “Penuh Berkah Surga”, jadi kalo Gyeongbokgung artinya jadi “Istana yang Dipenuhi Berkah dari Surga”. Keren ya?

Sejarahnya, Gyeongbok ini dibangun pada tahun 1395 dan terus mengalami perubahan sampai akhirnya bisa terlihat seperti yang ada sekarang. Dibakar, dihancurkan, dibangun lagi, dan direnovasi sudah pernah dialami oleh Gyeongbok. Tapi sejak dulu sampai dengan berakhirnya masa kerajaan di Korea, fungsinya tetap sama, yakni sebagai Istana Raja.

Ada apa aja di sana? BANYAK! Terutama bangunan antik khas Korea dan berbagai peninggalan sejarah. #yaiyalah. Nah, salah satu yang ada di komplek Gyeongbok itu Gwanghwamun, gerbang masuk Gyeongbok yang keliatan banget ke jalan raya. Beberapa peninggalan sejarah di Gyeongbok juga terawatt dengan baik, mulai dari gedung utama tempat tahta raja, tempat tidur, dan masih banyak lagi.

Ciri-ciri Korea terlihat jelas di Gyeongbok, salah satunya sistem pemanas ruangan. Jadi, Korea itu kan termasuk negara yang mengalami 4 musim, jadi dia butuh penghangat kalo lagi musim dingin. Nah, rumah atau bangunan di Korea itu pada jaman dulu dibuat tinggi, trus di bawahnya ada pemanas yang dibuat dari api/bara yang memanaskan lantai. Jadinya dalam rumah tetap hangat.

Walaupun Korea memiliki aksara sendiri berupa Hangul, tapi beberapa papan nama asli di Gyeongbok masih menggunakan aksara Mandarin/China. Karena pada saat pembangunan Gyeongbok, Korea menggunakan aksara China untuk berkomunikasi, namun dengan dialek dan pengucapan Korea – info ini saya dapat dari tour guide di Gyeongbok. Walau begitu, banyak rakyatnya – pada waktu itu tidak bisa baca dan tulis, sampai akhirnya Raja Sejong membuat aksara Hangul yang kemudian disebarkan ke seluruh masyarakat.

Foto-foto Gyeongbok, di bawah ini ya.

[set_id=72157638851424626]

Kalo datang ke Gyeongbok, ga usah takut nyasar atau ga ngerti sejarahnya. Soalnya, ada tur gratis yang dikoordinasiin sama bagian informasi dari pengurus Gyeongbok. Iya, resmi. Kemaren aja waktu saya ke sana, dapet tur gratis sama pemandu dari pengurus Gyeongbok. Berbahasa Inggris pula. Dan, karena turnya gratis jadi rombongannya bebas, siapa aja boleh ikutan. Dalam sehari, tur gratis itu ada 3x – kalo ga salah.

Trus, kalo ke Gyeongbok juga jangan takut bayar mahal. Harga tiketnya terhitung murah kok: 3.000 Won buat sekali masuk buat dewasa. Kalo dirupiahin sekitar 36.000 – kurs 1 Won = Rp 12. Nah, tapi kalo beli satu tiket doang sayang kaya’nya jadi mending beli tiket terusan/kombinasi yang juga bisa dipake buat masuk ke istana-istana lain di Seoul yang merupakan bagian dari 5 Grand Palace – 5 Istana Utama di Seoul. Tiket terusannya berlaku selama 1 bulan sejak dibeli ke semua tempat itu – jadi ga musti dalam 1 hari buat ke semua tempatnya. Tempat lainnya? Changgyeong, Jongmyo Shrine, dll.

Oiya, salah satu “tantangan” jalan-jalan di negeri Asia Timur adalah sedikitnya orang yang bisa berbahasa Inggris, dan sulitnya membaca aksara lokal. Tapi, sepertinya Korea Selatan – Seoul lebih ramah bagi turis kaya’nya, soalnya Metro (pelayanan subway di Seoul dan sekitarnya) sudah banyak menggunakan aksara latin dan Bahasa Inggris pada tulisannya. Selain itu, setiap kali berhenti di stasiun, ada pengumuman berbahasa Korea dan Inggris. Jadi, tenang aja.

Kalo udah cukup berani buat jalan-jalan, ke Gyeongbok itu gampang kok. Naik Metro line 3, turun persis di stasiun Gyeongbokgung. Dari situ tinggal ngikutin exitnya nanti langsung keluar di salah satu sisi di dalam halaman depan Gyeongbok. As simple as that.

Kapan waktu yang tepat buat dateng ke Gyeongbok? Bisa dibilang, hampir setiap saat, setiap musim. Tapi pastinya, masing-masing musim atau waktu punya pengalaman dan sensasi yang berbeda. Seperti yang saya alami kemarin, datang ke Gyeongbok saat musim dingin, jadinya seluruh lapangannya hampir ketutup salju. Oiya, kalo dateng di jam-jam tertentu ada “atraksi” yang bisa dilihat oleh pengunjung yakni pergantian penjaga. Kemaren, saya beruntung banget soalnya dapet 2x nonton atraksi itu, yakni pas jam 12an dan jam 3an. Mau tau seperti apa? Ini di bawah.

Jadi, kalo kelak ke Korea Selatan dan ke Seoul, pastiin sempetin buat mampir ke Gyeongbok ya. Ke salah satu istana terindah di dunia.

Keinginan yang Terwujud Bertemu Arsenal FC Berkat Telkomsel

Nonton pemain bola beradu kemampuan untuk saling mendapatkan kemenangan, lazim bisa dengan cara ditonton di TV. Kalopun nonton langsung ke stadion, pengalaman berbeda bakal didapatkan karena atmosfer yang berbeda. Nah, kalo sampai ketemu langsung berada di satu ruangan, bisa berinteraksi, atau bahkan foto bareng dan juga salaman sama pemain bola idola? Tentunya jadi pengalaman yang luar biasa dan bakal dikenang seumur hidup, dong. Seperti yang dialami mereka yang ikutan nonton dan atau ketemu Arsenal Football Club wiken (12-14 Juli 2013) lalu.

Dan, saya salah satunya. Tepatnya, saya ketemu dengan beberapa pemain Arsenal Football Club!

Iya, ini Arsenal Football Club yang dari London, Inggris itu. Arsenal yang dilatih sama Arsene Wenger. Arsenal yang beberapa bintangnya antara lain Theo Walcott, Lukas Podolski, Tomas Rosicky, Alex Chamberlain, Olivier Giroud, dan masih banyak lagi.

Wiken lalu, sekurang-kurangnya puluhan ribu orang berhasil mewujudkan mimpi untuk menonton langsung Arsenal FC bertanding, di Stadion Utama Gelora Bung Karno pula! 400an orang pula berhasil mewujudkan mimpi untuk bertemu langsung dengan pemain-pemain Arsenal dan sempat salaman atau foto bareng!

Termasuk saya. *mengulang*

Saya pertama kali “kenal” dengan Arsenal FC kira-kira di periode 1998 akhir. Kalo ga salah, waktu itu dari artikel tabloid olahraga lagi memuat profilnya Dennis Bergkamp – kalo yang ngaku fans Arsenal, pasti tau beliau siapa. Dennis Bergkamp, salah satu pemain penting di timnas Belanda pada jaman itu, adalah salah satu penyerang top yang dimiliki Arsenal.

Trus, siapa lagi pemain Arsenal di jaman itu yang saya ingat? Ada Emmanuel Petit – yang waktu itu juga memperkuat timnas Prancis jadi juara Piala Dunia 1998, trus ada Marc Overmars, David Seaman, dan Martin Keown. Pemain-pemain yang menjadi sejarah dari Arsenal FC, yang kemudian beregenerasi ke masanya Thierry Henry, Patrick Vieira, Emmanuel Adebayor, Cesc Fabregas (sebelum pindah balik ke Barcelona), Robin van Persie (sebelum pindah ke MU), dan Theo Walcott.

Ada 2 “momen” penting dalam sejarah Arsenal yang cukup teringat oleh saya. Yakni pada saat mereka jadi juara Liga Inggris tanpa sekalipun terkalahkan – tahun 2003/2004 (CMIIW), serta pada saat mereka menjejak final Piala Champions Eropa – tahun 2005/2006 – walau kemudian belum berhasil jadi juara Champions.

Saya akui ada klub yang lebih saya favoritkan di Liga Inggris, tapi saya tetap mengikuti perkembangan berita Arsenal FC. Mulai dari transfer keluar masuk pemain, wacana penggantian pelatih Arsene Wenger – yang tetap belum bisa tergantikan, sampai dengan perpindahan stadionnya dari Highbury ke Emirates! Oiya, soal transfer keluar masuk pemain, beberapa yang saya ingat antara lain Mathieu Flamini ke AC Milan, kemudian ada Lukas Podolski masuk sebagai striker, dan juga perpindahan RvP ke MU.

Anyway, pada saat saya dapat kabar bahwa Arsenal FC akan datang ke Jakarta – Indonesia sebagai salah satu bagian dari Asia Tour-nya, saya termasuk yang seneng lho. Kenapa? Karena saya pengen banget bisa ketemu Lukas Podolski – atau minimal ngeliat dari deket lah! :mrgreen: Selain itu, saya juga pengen bisa ngeliat dari deket Theo Walcott dan juga Tomasz Rosicky. Untungnya, berkat Telkomsel keinginan itu terwujud.

Iya, Telkomsel kan jadi Official Mobile Network of Arsenal in Indonesia – dengan kata lain, Telkomsel jadi SPONSOR Arsenal FC Asia Tour di Indonesia.

13 Juli 2013 lalu, setelah sehari sebelumnya dapet undangan via email dan SMS, saya akhirnya bisa beneran ketemu: satu ruangan-tatap muka-foto bareng beberapa pemain Arsenal FC. Ada Theo Walcott, Tomasz Rosicky, Olivier Giroud, Lukas Fabiansky, Alex Oxlade-Chamberlain, Laurent Koscielny, dan Aaron Ramsey yang saya ketemuin di acaranya “The Arsenal simPATI Fan Party” yang diselenggarain Telkomsel. 400-an orang dari seluruh Indonesia dan juga sebagian dari Singapore-Malaysia-Filipina dapetin pengalaman berharga seumur hidup yang mungkin ga bakal keulang lagi.

Berdasar info yang saya terima, Acara “The Arsenal simPATI Fan Party” itu sendiri jadi salah satu rangkaian Telkomsel Football Experience yang dimulai sejak beberapa minggu sebelumnya. Buat yang ngikutin, pasti tau ada acara Meet & Greet legenda Arsenal FC: Freddie Ljungberg, Telkomsel Football Fair, nonton bareng ‘simPATI Big Match’, dan juga ada launching ‘simPATI Starter Pack Arsenal Limited Edition’!

[set_id=72157634650126872]

Back to the event itself, “The Arsenal simPATI Fan Party” itu bener-bener HEBOH! Acara yang dipandu sama duet Tamara Geraldine & Nico Siahaaan itu beneran memanjakan undangan yang dateng. Ada bagi-bagi hadiah dengan lelang poin Telkomsel, ada undian buat interaksi dengan pemain Arsenal FC, juga ada undian buat nonton latihan Arsenal FC malam harinya.

Yang paling bikin HEBOH itu adalah saat pemain Arsenal FC bersiap masuk ke dalam ruangan acara, hampir seluruh fans yang dateng nyanyi bareng lagu dukungan Arsenal FC. Bulu kuduk saya sampe merinding dengernya.. And you know what, saat pemain Arsenal FC itu mulai dikenalin satu-satu, seluruh ruangan sampe bergemuruh sambutan yel-yel nama masing-masing pemain Arsenal FC itu. Well, the fans who attended clearly really LOVE Arsenal FC.

Keseruan acara berlanjut waktu sesi foto bareng dimulai. Seluruh fans yang hadir diundang ke depan per sepuluh orang sesuai dengan nomer urutan kursi duduk. Dan ya, walaupun MC serta pihak keamanan udah ngasitau soal dos & don’ts, tapi tetep aja ada yang curi-curi kesempatan buat minta tanda tangan ke jersey yang dipake, foto bareng personal, dan lain-lain. Saya pribadi, setelah kesempatan foto bareng, “cuma” sempet salaman sama Tomasz Rosicky dan juga Theo Walcott – sayangnya ga ada bukti foto. :(

satuframe-by yeti_sugyati

Foto bareng pemain-pemain Arsenal FC. Thanks @yeti_sugyati atas fotonya!

Anyway, it’s such a GREAT event. Jelas, acara itu bener-bener bikin keinginan dan mimpi fans yang hadir terwujud: untuk bisa lebih dekat dengan pemain-pemain Arsenal FC yang biasanya cuman bisa diliat di TV-untuk foto bareng-untuk minta tanda tangan asli. Saya sendiri setelah foto bareng (sekitar jam 5 sore) langsung pulang, karena saya berencana untuk buka puasa di rumah, sementara acara masih berlanjut sampai dengan jam 6 sore.

Terima kasih Telkomsel. Terima kasih Arsenal FC. Kalian benar-benar tahu bagaimana cara membuat keinginan banyak orang terwujud.

NB: Baca juga tulisan saya di sini!

Mengelilingi Tempat Tertinggi di Sydney Tower Eye

Setiap kota pasti punya ciri khas berupa landmark. Entah itu gedung tertinggi, bangunan termegah, terantik, terluas, atau apapun. Yang pasti punya. Kalopun ga punya, pasti ada satu bangunan atau area yang emang jadi ciri khas kota itu.

Begitupun Sydney, dengan Sydney Tower Eye yang jadi salah satu landmark-nya.

Sydney Tower Eye dilihat dari Hyde Park

Sydney Tower Eye, singkat cerita adalah tempat paling tinggi di Sydney. Berdasar kelakar yang saya dengar dari seorang kenalan, dulunya menara ini tidak ada. Lalu seorang warga Sydney berujar bahwa sebagai salah satu kota maju, mereka harus punya sebuah menara layaknya menara atau gedung tinggi lain di dunia, maka diciptakanlah Sydney Tower Eye ini. Benar atau tidak, biarlah menjadi misteri. *halah*

Beda sama Monas di Jakarta, Sydney Tower Eye ga dikelilingi sebuah lapangan atau area terbuka khusus. Sydney Tower Eye justru dikelilingi deretan bangunan dan toko-toko. Akses menuju Sydney Tower Eye sendiri melalui lantai 5 sebuah pusat perbelanjaan bernama Westfield – pusat perbelanjaan yang berlokasi di Pitt Street dan juga Market Street. Pas banget di tengah-tengah CBD Sydney! Soal tiket, seperti pernah saya bilang di postingan sebelumnya, mendingan beli via online atau beli paketan sama objek wisata lain di Sydney. Pasti dapet lebih murah dibandingkan Go Show.

Eiya, sebagaimana gedung tinggi lain di dunia, lift di dan dalam Sydney Tower Eye ini cepet kok. Ga sampe semenit dari lantai 5, udah sampe ke Observation Deck. Selain itu, juga ada teater 4D yang emang bisa dikunjungi dalam perjalanan menuju ke atas dari loket tiket.

Trus, apa aja sih yang spesial dari Sydney Tower Eye selain jadi tempat tertinggi di Sydney? Banyak! Mau tahu? Ini dia:

  1. Pemandangan menyeluruh dari seluruh penjuru Sydney. Barat-Utara-Timur-Selatan. Dan itu bisa dikelilingi dalam 1 tempat yang tak putus di Observation Deck.
  2. Buat yang punya nyali cukup besar, pengalaman jalan-jalan di area outdoor di tempat tertinggi bisa jadi pilihan tambahan dengan ikutan Skywalk. Pastinya ada tiket tambahan selain tiket masuk ke Sydney Tower Eye, tapi ya buat pengalaman sekali seumur hidup ya jangan sampe kelewat – kecuali anggaran terbatas macam saya. Jangan khawatir, aman kok.
  3. Pernah makan di mana aja? Kalo pengen ngerasain makan di tempat tertinggi, ada lho pilihan Sydney Tower Dining. Makan malam sama orang tersayang di tempat tertinggi, pemandangannya kan bagus. Siapa tau ada yang pengen bikin prosesi lamaran di situ. *eh*
  4. Di Sydney Tower Eye juga ada beberapa poin spesial antara lain bis surat yang masih aktif (tapi saya belom coba sih), toko souvenir, dan juga tempat pembuatan pin manual gitu.

Cara buat ke sana? Gampang kok. Karena dia bentuknya unik dan bisa keliatan dari hampir seluruh penjuru Sydney, begitu kita bilang pengen ke Sydney Tower Eye juga (hampir) semua orang tahu. Kalo masih bingung juga, bisa diliat infonya di sini.

Kapan paling pas ke sana? Banyak yang bilang ga ada waktu yang pas. Tapi saya pribadi, pas kunjungan ke sana, timing-nya pas deket-deket sama waktu sunset –matahari tenggelam gitu. Ya, selain buat nyari experience berada di tempat tinggi dan ngeliat suasana perubahan siang/sore ke malam, saya juga nyari kesempatan buat foto-foto sih. Hasilnya? Saya dapet experience sunset yang seru berupa pemandangan pelangi di Timur Sydney, dan pemandangan matahari tenggelam di Barat Sydney. Foto-foto lengkapnya ada di bawah ini ya..

[set_id=72157634300043768]

Kamu pernah ke tempat paling tinggi di mana aja?