“Diuntungkan” Fitur Scheduling Post di WordPress

Suka baca Short Story saya, ‘kan? Kalo engga, pokoknya harus baca deh. Nah, kalo yang ngeh, belakangan ini Short Story saya itu kebanyakan dan seringnya saya apdet di hari yang sama setiap minggunya, yaitu hari Senin. Jam apdetnya pun, saya lagi coba-coba buat disamain – meski kadang ada aja yang ga sama. Bukan, saya bukan mau ngomongin tren atau data analytics perilaku/kunjungan orang ke blog/website. Saya mau ngomongin gimana kok saya bisa ngapdet postingan di hari yang sama, setiap minggunya.

WordPress. Itulah CMS – Content Management System yang saya pake buat blog saya ini. Kenapa pake WordPress? Soalnya gratis – kalo udah pake hostingan sendiri. Soalnya gampang pakenya. Soalnya udah familier – blog saya yang lain juga pake WordPress. Soalnya gampang kalo mau “nempelin” themes – buat tampilan blog jadi lebih beragam. Soalnya gampang buat nambah-kurang plugin. Soalnya… dst. dll. dsb.

Iya, banyak banget alasan kenapa saya pake WordPress.

Trus, apa hubungannya saya pake WordPress dan apdet post di hari yang sama setiap minggunya? Nah, ada salah satu fitur/opsi di WordPress yang namanya scheduling post – penjadwalan terbit. Fitur ini bakal keliatan tiap kali kita lagi ngedit post, baik itu postingan baru atau postingan eksisting. Secara singkat, scheduling post ini ngebantu kita buat nerbitin/publish post di waktu yang kita mau – baik itu tanggal maupun jam.

ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru
ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru

Kalo lagi ngedit postingan baru (new post) ataupun postingan eksisting, saat scheduling post ini ditambahin untuk waktu yang akan datang, maka postingan kita bakal ke-save di daftar postingan dan akan terbit di waktu yang diminta. Lucunya adalah, scheduling post ga cuman bisa buat ngejadwal nerbitin/publish post di waktu yang akan datang, tapi juga di waktu yang lampau. Iya, bisa dijadwalin buat di tanggal atau jam yang udah lewat.

Nah, berkat fitur scheduling post inilah, saya pun “diuntungkan”. Soalnya, saya jadi lebih bisa keliatan tepat waktu nerbitin postingan. Ehehehe.. jadi postingannya ga dibuat serta-merta dan langsung publish atau publish-nya bergantung sama koneksi yang lancar, melainkan bisa kelarin postingan trus dijadwal di waktu yang kita pengen. :mrgreen: Ya, sederhananya adalah.. fitur penjadwalan terbit/publish postingan ini, bikin hidup saya jadi lebih “tentram”, karena saya ga dikejar-kejar deadline buat selalu terbit di hari yang sama – meski terkadang kalo ide lagi abis dan mandeg, ujung-ujungnya ya.. dikejar-kejar deadline juga. *eh*

Trus, kenapa kok jam terbit/publish-nya kadang beda-beda meski bisa disetel pake fitur scheduling post? Ah.. saya jawabnya di postingan lain kali aja ya. Karena kalo udah soal yang itu, selain faktor teknis berupa fitur, juga berupa pertimbangan saya pribadi. SOK SERIUS *halah*

Cerbung

Membuat (baca: menulis) novel atau buku cerita adalah salah satu impian saya sejak kecil. Alhamdulillah, terlepas dari tiras dan angka penjualannya, saya sudah pernah menerbitkan satu judul novel dari salah satu penerbit bergengsi di tanah air. Dan, sebenarnya keinginan hati adalah kembali menerbitkan novel. Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya tidaklah mudah.

Mungkin sudah banyak yang tahu, menembus penerbit dan kemudian menerbitkan naskah buku itu bisa dibilang amat sangat sulit. Mulai dari tahapan penyaringan secara kilat, penyeleksian, penyuntingan, penulisan ulang/penambahan (jika perlu), hingga penjadwalan terbit, dan juga pemasaran plus penjualan. Semua itu tidaklah mudah — walau juga tidak mutlak disebut sulit. Mengantisipasi itulah, maka kemudian banyak penerbit “indie”, penerbit buku dengan pemasaran yang “menumpang” penerbit besar, hingga penerbit on demand/by request.

Anyway, bukan soal penerbit dan proses menerbitkan buku yang mau saya bahas. Melainkan cerita bersambung (cerbung) yang semula saya siapkan untuk menjadi novel. Iya, semula naskah cerbung ini adalah naskah novel. Namun karena tak kunjung juga diterbitkan oleh penerbit (baca: ditolak oleh penerbit), jadilah saya publikasikan cerita novel tersebut per bab secara bersambung.

Mau tahu apa cerita bersambung tersebut? Simak aja di sini. Judulnya adalah Burung Kertas, dengan 21 bab yang saya bagi menjadi 21 post.

Selamat menikmati ya..

Rencanakan dan Lakukan dari Sekarang, Untuk Masa Depan

Well-planned, begitu yang saya coba lakukan setiap harinya. Sebelum saya melakukan sesuatu, saya berusaha untuk membuat rencana agar bisa dan tahu apa dan bagaimana harus menjalankan hari-hari saya. Mulai dari hal-hal kecil seperti waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, hingga mengurus keluarga. Terutama, si kecil Cissy yang semakin lucu setiap harinya. Oiya, Cissy itu nama panggilan bagi anak saya kalau ada yang belum tahu. ^^

Salah satu hal yang saya coba jalankan untuk well-planned bagi Cissy adalah rencana masa depan buat dia. Rencananya bukan yang ribet-ribet macam nanti siapa jodohnya dll, melainkan yang “mudah” saja dulu yakni rencana pendidikan buat dia nantinya. Tentunya, rencana pendidikan tersebut harus didukung oleh perencanaan finansial demi mendukung pendidikan Cissy nantinya, mulai dari yang “kecil” seperti masuk TK, hingga (mudah-mudahan) perguruan tinggi. Karena walau banyak sekali pemberitaan bahwa pendidikan gratis serta banyak sekali kesempatan beasiswa, namun riilnya di lapangan begitu banyak sekali yang harus dilakukan untuk mendapatkan “fasilitas” tersebut. Anyway, bukan soal pendidikan gratis atau beasiswa itu yang ingin saya bahas, melainkan apa rencana pribadi saya untuk finansial pendidikan Cissy nantinya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perencanaan pendidikan Cissy nantinya adalah ucapan dari orangtua saya. “Pendidikan seorang anak haruslah lebih baik daripada orangtuanya. Jika orangtuanya hanya sanggup menyelesaikan hingga SMA, maka anaknya haruslah sanggup menyelesaikan hingga perguruan tinggi.” Kurang lebih, ucapan tersebut terpatri di benak saya, bahwa kelak Cissy haruslah lebih tinggi pendidikannya dibandingkan saya. FYI aja: (saat ini) saya “cuma” lulusan D3; sehingga (mudah-mudahan) Cissy bisa jadi lulusan S1. Amin.

Untuk mendukung rencana tersebut, tentunya perlu didukung oleh layanan perbankan yang memberikan solusi. Tabungan, adalah salah satu bentuk produk perbankan yang bisa dipilih. Ragamnya pun banyak, mulai dari tabungan reguler yang bisa ditambahkan terus saldonya dari hasil menyisihkan pendapatan setiap bulan, ataupun tabungan pendidikan dan skema lainnya. Semua itu tentunya merupakan solusi perbankan yang bisa ditemui di berbagai bank. Salah satunya adalah BCA (http://www.bca.co.id).

Lalu, apa rencana masa depan saya untuk kebutuhan finansial pendidikan Cissy? Jujur saja, saat ini saya baru memilih untuk menggunakan tabungan reguler – yakni Tahapan BCA atas nama saya untuk menjadi “lumbung” pengumpulan finansial bagi kebutuhan pendidikan Cissy kelak. Alasannya, karena mudah untuk bertransaksi.

Sekian tahun saya memiliki rekening berupa Tahapan BCA, sekian tahun pula kemudahan transaksi berupa penggunaan ATM BCA, debit BCA, transfer via ATM BCA, pembelian voucher telepon seluler, hingga pembayaran asuransi melalui ATM BCA begitu membantu keseharian saya. Jadi, tentu saja alasan tersebut cukup kuat bagi saya untuk kemudian menggunakan Tahapan BCA saya untuk menjadi “lumbung” bagi rencana finansial pendidikan Cissy.

Saat ini, rencana besaran minimal yang saya sisihkan per bulan untuk Cissy belum begitu besar. Masih di bawah 300ribu rupiah per bulannya. Mungkin kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan total finansial pendidikan jaman sekarang (atau nanti) yang bisa jadi membutuhkan hingga belasan atau puluhan juta rupiah. Tapi, rencana tersebut tujuannya tak lain agar cash flow setiap bulan dari pendapatan dan pengeluaran saya tetap stabil, tidak bergelombang, dan saya pun tertib untuk terus menabung. Pernah dengar kan prinsip “menabung itu yang penting terus bersambung”? :mrgreen: Lagipula, saya juga kan pengen dong punya kebebasan finansial dengan cash flow yang stabil tersebut.. – meski riilnya cukup “menantang” untuk dilakukan. 🙂

Well, saya memang kurang pandai berhitung untuk keuangan yang berkaitan dengan tabungan di bank. Tapi setidaknya saya berharap dengan rencana kecil ini, saya di kemudian hari menjadi lebih tertib, lebih mawas diri, dan lebih terbantu untuk kebutuhan finansial pendidikan Cissy kelak. Sambil tetap dan terus berdoa, berikhtiar, dan melakukan pekerjaan halal untuk mengumpulkan rezeki. Karena itulah, perlu rencanakan dan lakukan dari sekarang, untuk masa depan. Amin.

Kalau kamu, punya rencana finansial apa?

NB: tanpa mempengaruhi isi & kondisi riil, blogpost ini sedang diikutsertakan di BCA blog competition.

Keterangan foto: tabungan dari sini, dan topi toga dari sini.

Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

Lalu apa masalahnya?

Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

Menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Designing While Modifying

As I said before, I’m improving my skill as a designer. And yes, actually the improvement itself already started since few days nor weeks ago. I can’t remember the first day I start improving it, since I don’t have any related background on designing.

Well, now my phase on improving the web designing skill, are on the phase of “Designing While Modifying”. I think it’s the phase of absorbing any resources which is provided on the internet world and then study it deeply to gain more informations and lessons.

Google, Facebook, and Twitter are the most resources that I use to gain so many informations. The three of them are counted as the most reliable source to gain -almost- everything. Now, I’m learning about php, css, js (javascript) and so to improve my web designing abilities using the information gained from them.

So, let’s start designing while modifying the web!

Blog Contest (Freak!)

Hakimtea.com Blogging Contest
Hakimtea.com Blogging Contest

Since I’ve won the blogging contest which is held by AXIS for the Java Jazz few weeks ago, I was more realizing that blogging could – actually – give us many things. Those things may vary, but the possibilities are big enough – starting from money, gifts, souvenirs, tickets, and so.

Now, if I went to the search engine such as Google and Yahoo! I – sometimes – search for another blogging contest in the internet. Why? Because, I have a curiosity about the gift that would be given if I won the contest.
Read More