Rss Feed

November, 2011

  1. Short Story #73: Tanggung Jawab

    November 24, 2011 by Billy Koesoemadinata

    TOK! TOK! Pintu kamar Sandra diketuk.

    Sandra membuka pintu. Seorang lelaki ada di sana. Melihatnya dengan haru.

    “Sudah saatnya..” ujar lelaki itu.

    “Baiklah..” jawab Sandra sambil keluar dari kamar dan menyambut tangan
    lelaki itu.

    Sambil berjalan perlahan melewati ruangan demi ruangan, Sandra
    memegang lengan lelaki itu erat. Memegang dengan kedua tangannya
    seakan ia takut jatuh.

    “Kamu ragu?” tanya lelaki itu setengah berbisik sambil melihat ke arah Sandra.

    Sandra menggeleng pelan. “Tidak.”

    “Bagus.” ucap lelaki itu. “Tapi andaikata kau ragu, aku…”

    “Tidak. Aku tak apa-apa.” potong Sandra segera. “Aku hanya gugup..”

    Sambil terus berjalan, Sandra bisa melihat dari ujung matanya bahwa
    lelaki itu tersenyum kecil.

    “Wajar..” kata lelaki itu pelan. “Bahkan mungkin sudah seharusnya..”

    Sandra menghela napas.

    “Ini kan pertama buat aku..” kata Sandra.

    “Aku tahu..” respon lelaki itu.

    Sayup-sayup terdengar irama penuh harmoni.

    “Sudah dekat.” lelaki itu bergumam.

    Sandra tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lelaki itu ikut berhenti. Ia
    langsung melihat ke arah Sandra.

    “Take your time, Sandra. No rush.” lelaki itu menghibur.

    Entah, tapi dada Sandra seakan sesak. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi
    air matanya ia tahan agar tak tumpah.

    “Harus seperti ini, ya?” tanya Sandra sambil menatap lelaki itu.

    “Mungkin..” jawab lelaki itu mantap. “Tapi, andaikata…”

    Sandra menggeleng.

    “Aku takut..” ucap Sandra.

    “Jangan takut.. Ini kan pilihan kamu.. Aku gapapa koq.” jawab lelaki
    itu menangkap maksud Sandra.

    “Tapi.. Kita…”

    “Sstt..” lelaki itu mencium kening Sandra. “Selama ini aku bisa
    survive. Kenapa setelah ini ga bisa survive?”

    Sandra tak dapat menahan air matanya lebih lama. Pipinya pun berlinang air mata.

    “Terima kasih..” ucap Sandra sambil tersenyum. “Udah bikin aku seperti ini..”

    “Itu kan tanggung jawab aku.” jawab lelaki itu. “Dan sebentar lagi,
    akan ada lelaki lain yang bertanggung jawab akan kamu..”

    Sandra memeluk lelaki itu. Erat.

    “Tanggung jawab aku hanya beberapa langkah lagi. Hanya sampai kamu
    tiba di depan sana dan bersanding dengan pilihan kamu.” bisik lelaki
    itu.

    Sandra melepas pelukannya. Ia tersenyum dan dibalas pula dengan
    senyuman oleh lelaki itu.

    “Terima kasih, Ayah..” ucap Sandra perlahan. Tulus.

    Sandra pun memegang lengan Ayahnya kembali. Lalu berjalan. Mendekati
    arah suara. Menuju lorong yang berujung di altar.


  2. Short Story #72: Ga Pernah Putus

    November 22, 2011 by Billy Koesoemadinata

    “Oke, I’m officially single since this morning.” kata Andra sambil
    menyimpan tasnya di atas meja.

    Umar, teman sebangkunya langsung menoleh dengan penasaran. “Loe putus
    sama Wanda?”

    “Yah, kalo resmi single berarti udah ga berhubungan lagi, ‘kan?”
    respon Andra sambil duduk di bangku.

    “Seriusan loe?”

    “Yaelah, apa harus gue ulang dua kali? Kalo loe ga percaya, tanya aja
    sama Wanda deh..” jawab Andra agak sebal.

    “Oke..oke, Sob. Tenang lah.. Gue kan cuma pengen mastiin aja..” kata
    Umar. “Tapi loe gapapa, kan?”

    “Kenapa juga gue harus ada apa-apa?”

    “Mastiin aja, Ndra.. Mastiin..” ucap Umar. “Soalnya ‘kan, loe udah
    jadian sama dia dari SMP. Dan sekarang, pas udah pacaran lama sampe
    kelas 3 SMA malah putus.. Aneh aja gitu..”

    “Ceritanya panjang, brur..” respon Andra.

    Umar pun mengangkat bahunya lalu membaca beberapa halaman buku
    pelajarannya sambil menunggu bel masuk berbunyi.

    “Gue sedikit nyesel sih..” ucap Andra pelan.

    Umar langsung menoleh sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

    “Loe harusnya belajar dari gue, Ndra.. Gue kan ga pernah putus
    pacaran..” Umar coba menasihati.

    “Seriusan loe?” Andra langsung bertanya sambil mengernyitkan dahi.

    “Woh, ya serius laaahh..” ucap Umar dengan yakin. “Gampang aja koq
    caranya. Yaitu, jangan pernah jadian!”


  3. Short Story #71: Salah Nilai

    November 18, 2011 by Billy Koesoemadinata

    “Jadi ga ke pensi sama gue?” tanya Rama sambil duduk di samping Nita
    di bangku dekat gerbang sekolah.

    “Eh elo, Ram…” kata Nita pelan. “Loe emang serius ya ngajakin gue ke pensi?”

    “Ya serius lah, Nit..” jawab Rama.

    “Loe ga ngajak cewek loe atau siapa gitu?” tanya Nita.

    “Loe tau sendiri kan, gue ga punya cewek. Lagipula, cewek paling deket
    sama gue ya.. elo doang. Makanya gue ngajakin loe..” ucap Rama.

    “Eng.. Gimana, ya..” Nita bimbang.

    “Jangan bilang loe udah diajak orang, nih..” tebak Rama.

    Nita bukannya menjawab justru berdiri. Ia memegang tali tasnya. Rama
    pun ikut-ikutan berdiri di sampingnya.

    “Tebakan gue bener, ya?” tanya Rama.

    Nita memiringkan kepalanya sedikit sambil menutup sebelah matanya.

    “Tadi pagi Erry nyamperin gue pas gue baru banget duduk di kursi
    kelas. Dan, ga pake ba-bi-bu dia langsung nanya. Gue pun entah gimana,
    langsung jawab iya, Ram..” jawab Nita.

    “Yaahh.. Koq bisa, sih? Kan gue udah nanya duluan sama loe dari
    kemaren.. Dan loe bilang mau mikir-mikir dulu, sementara si Erry
    sekali tanya langsung loe jawab aja..” Rama mengeluh sambil
    mendudukkan dirinya di bangku.

    “Aduh sori Rama.. Abis gue ga ngira kalo Erry bakal sespontan itu..” ucap Nita.

    “Tetep aja, harusnya loe kan lebih mikir gue dulu lah.. Secara kita
    kan udah temenan dari dulu..” respon Rama sambil melihat Nita yang
    tetap berdiri.

    Nita diam sejenak. Ia menarik napas.

    “Abis semaleman gue ngerasa aneh aja gitu, ke pensi bareng cowok yang
    bukan pacar gue. Cuma best friend doang..” Nita memberi alasan.

    “Ya gue kira dengan pertemanan kita selama ini loe ga bakal masalah
    kalo gitu..” sahut Rama.

    “Berarti loe salah ngenilai gue, Ram..” respon Nita.

    Lalu tak seorang pun di antara mereka berbicara. Rama membuang
    pandangan ke arah gerbang, sementara Nita melihat ke arah lorong
    sekolah di seberang gerbang.

    “Setelah jawab iya ke Erry, gue juga kepikir ini sih.. Kalo gue jalan
    sama dia seenggaknya gue ga bakal susah transport ke pensi. Apalagi
    kalo pulang larut, gue ga usah susah-susah nyari taksi. Secara, dia
    bawa motor, ‘kan..” Nita menjelaskan.

    “Oh.. Jadi ada unsur itu juga..” ucap Rama pelan sambil kemudian
    berdiri di samping Nita kembali. “Okelah.. Kalo gitu loe yang salah
    ngenilai gue..”

    “Maksud loe?” tanya Nita segera.

    “Gue padahal udah bawa transport sendiri mulai hari ini. Mumpung anak
    kelas 3 udah pada ujian dan jarang ke sekolah lagi..” jawab Rama
    sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana.

    “Ah, loe bukannya jalan kaki? Dari dulu juga kan loe jalan kaki mulu
    kalo ke sekolah..” Nita berujar.

    Rama mengeluarkan sebuah kunci dan gantungannya dari saku celana.

    “Sengaja sih, biar ga dipelonco sama senior, gue selalu diturunin di
    belokan setelah dianter sama bokap gue.” ucap Rama. “Tapi bokap gue
    bilang mulai hari ini gue harus berani bawa transport sendiri mumpung
    anak kelas 3 udah mau lulus..”

    Rama memencet sebuah tombol di gantungan kunci, dan sebuah mobil merek
    Eropa berwarna hitam di dekat gerbang sekolah pun berbunyi. Tak lama,
    Rama pun melangkah meninggalkan Nita.


  4. Short Story #70: Bukan Soal Duit

    November 16, 2011 by Billy Koesoemadinata

    “Yaaaahhh.. kenapa tim yang gue dukung malah kalah, sih?!” Arya sedikit berteriak.
    “Namanya juga sepakbola bung, apapun bisa terjadi. ‘Kan bola itu bundar..” Bima menimpali dengan santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
    “Tapi kenapa harus kalah, coba? Sepanjang penyisihan sampe semifinal, maennya apik. Menang terus!” respon Arya sambil menggaruk-garuk kepala meski tidak gatal.
    Bima tersenyum melihat teman se-kostnya ini.
    “Santai aja lah.. ga perlu kesel-kesel banget mereka kalah. Toh, tim negara laen ini. Bukan negara kita. Kalo negara kita yang maen, terus di final dan maennya sampe kalah, ya.. baru deh kesel banget. Sekaligus sedih kali, ya..” ucap Bima.
    Arya langsung melihat ke arah Bima. “Ga sesimpel itu, Bim.”
    “Loe taruhan, ye? Kalah berapa duit?” Bima langsung bertanya.
    Arya diam sejenak. Ia melihat langit-langit ruang tengah kost yang sudah kosong.
    “Bukan soal duitnya, Bim.” jawab Arya singkat.
    “Wah, hebat bener loe kalah taruhan gini sampe ga mikir duitnya!” celetuk Bima. “Tau gitu gue ikut taruhan sama loe deh. Kalo menang kan untung banget..”
    “Yee.. maunyeee…” kata Arya sebal. “Tapi ya, bukan soal duit sih Bim.. Beneran, deh..”
    “Terus apa, dong?” Bima bertanya lagi saking penasarannya. Meski begitu, satu tangannya yang tak memegang remote control TV mengambil segelas kopi dari meja.
    “Taruhannya adalah, siapapun yang kalah harus joget-joget ala topeng monyet di pendopo kampus, pake baju badut. Pas jam istirahat pula.” jawab Arya yang langsung direspon dengan semburan kopi dari mulut Bima.


  5. Short Story #69: Demam Panggung

    November 14, 2011 by Billy Koesoemadinata

    “Grogi nih..” ujar Diana sambil memilin ujung rambutnya saat ia berjalan mendekati pintu.

    “Lah, kenapa harus grogi? Kan udah latian dari dulu. Harusnya hari ini bisa, lah.” respon Okta, sahabatnya.

    “Loe ga ngeliat nih jari-jari gue udah gemeteran?” ucap Diana sambil menunjukkan jemari kedua tangannya ke Okta.

    “Yah, itu sih karena kedinginan kali. Gue juga ini kedinginan. Secara, pake baju kebuka gini..” jawab Okta.

    Sayup-sayup, terdengar riuh yang membahana dari balik pintu.

    “Aduh, jadi makin grogi. Demam panggung gue.” suara Diana mulai bergetar.

    “Udah, ga usah mikirin yang laen-laen. Pikirin aja kalo hasilnya bagus nanti, loe bisa dapet bonus berjuta-juta. Bonus itu ‘kan bisa buat beli rumah, naekin ortu loe naek haji, dan masih banyak lagi.” Okta menyemangati.

    Diana diam. Ia menarik napas sambil mencoba menenangkan dirinya.

    “Oke, gue bisa. Gue pasti bisa!” Diana berseru.

    “Loe harus bisa!” Okta menambahkan. “Kita pasti bisa!”

    Kedua gadis yang bersahabat sejak kecil itu tersenyum bersama-sama. Mereka tahu, bahwa inilah saatnya. Inilah salah satu momen yang menentukan bagi hidup mereka. Inilah jalan yang dirintis sejak mereka kecil dan memulai hobi yang sama.

    Diana membuka pintu. Ia melangkahkan kakinya ke luar diikuti oleh Okta. Gemuruh penonton menyambutnya.

    “Inilah dia, kita sambut para finalis cabang olahraga berenang! Diana Mulyasari dari Indonesia, Okta Laura dari Indonesia…..” ujar suara pengumuman dari pengeras suara yang langsung tenggelam oleh riuh tepuk tangan penonton, dan sorakan penuh semangat.