Rss Feed

February, 2011

  1. “Aktif” di New Media

    February 13, 2011 by Billy Koesoemadinata

    New media, atau juga dikenali sebagai ranah internet dan digital, tentu memiliki potensi dan cara yang berbeda untuk dijelajahi ketimbang media lama seperti media cetak dan elektronik. Termasuk juga untuk urusan aktivitas, baik untuk urusan personal (pribadi) maupun brand atau perusahaan.

    Dengan berbagai kemudahan dan juga berbagai layanan yang tersedia, aktif di new media menjadi lebih mudah. Tujuannya pun beragam, mulai dari untuk menyalurkan hal-hal yang tak tersalurkan di dunia nyata, hingga memang ingin membuat diri sendiri atau brand lebih dikenal. Tentu tujuan tersebut akan dibarengi dengan cara tertentu yang membuatnya terlihat lebih khas agar mudah dikenali publik – dalam hal ini, publik pengguna new media.

    Salah satu cara antara lain dengan menyediakan konten yang menarik bagi para pengguna new media. Sebutlah konten untuk website (situs web), blog, hingga akun facebook, facebook page, dan akun twitter. Apapun jenis layanan yang dipilih, content tersebut haruslah menarik dan sesuai dengan karakter brand atau orang tersebut, sehingga terlihat khas.

    Tapi ada kalanya membuat konten yang menarik belum tentu dapat menarik perhatian pengguna new media dengan besar. Disebabkan oleh mudahnya dan beragamnya fasilitas yang bisa digunakan, konten brand ataupun individu menjadi tak lagi berarti karena sudah ada yang lain yang melakukannya. Singkat kata, sudah kurang update (pembaruan). Padahal, belum tentu yang kurang update tersebut sama dengan yang sebelumnya.

    Untuk mengatasi hal tersebut, dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pengguna new media, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yakni, dengan melakukan promosi. Sama halnya dengan media bentukan lama, promosi ini menjadi bagian yang cukup penting agar banyak pengguna mengenal individu ataupun brand yang aktif di new media.

    Beberapa langkah promosi tersebut antara lain,

    1. Mengadakan kuis. Bisa dibilang, mengadakan kuis melalui new media adalah cara paling efektif untuk menjaring perhatian paling besar. Apalagi, jika kuis yang dilakukan menggunakan jejaring sosial seperti facebook ataupun twitter. Informasi dapat sangat mudah tersebar, karena berada di situs yang memang berbasis pengguna yang banyak. Namun perhatikan aturan yang ada di situs tersebut, maupun juga buatlah peraturan yang jelas untuk diikuti.
    2. Membuat apdetan berkala dalam benang merah. Apdetan berkala ini dapat berupa kalimat bijak, kutipan menarik, hingga informasi yang diketahui secara spesifik mengenai hal tertentu. Dan, karena sifatnya yang berkala, maka ia perlu memiliki jadwal yang tetap. Tapi perhatikan panjang atau lama apdetan ini. Pada beberapa kasus seperti di twitter yang memiliki batasan karakter, jika terlalu panjang atau lama, justru membuat kondisi kurang nyaman.
    3. Bermain tebak-tebakan. Kini bermain tebak-tebakan dengan cara melontarkan pertanyaan yang aneh, nyeleneh, ataupun justru cenderung sporadis cukup banyak dilakukan. Banyak akun twitter yang melakukan cara-cara tersebut, dan berhasil meraih perhatian dari sekian banyak publik pengguna new media.
    4. Kolaborasi berbagai layanan new media. Makin beragamnya layanan yang bisa digunakan di new media membuat aktivitas brand atau individu di new media menjadi lebih mudah, dengan cara membuat kolaborasi di antara mereka. Contoh paling mudah, memadukan akun dari foursquare (layanan berbasis lokasi) dengan twitter, sehingga publik pengguna new media pun dapat mengikuti di mana saja akun tersebut berada, dan bisa jadi kemudian menghampiri atau mengetahui apa yang sedang dilakukan di sana.

    Selain 4 poin yang saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak lagi cara-cara dan strategi yang bisa dilakukan. Bagaimana dengan Anda? Boleh lho berdiskusi di komentar. :)

    NB: foto asalnya dari sini.


  2. Men-Digital

    February 9, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Judul postingan ini saya tulis sebagai “Men-Digital” yang merupakan terjemahan bebas atas “Digitalize”. Saya sebenarnya ingin menuliskan dalam bahasa aslinya, tetapi sepertinya maknanya kurang mengena. Jadilah, saya buat terjemahannya dalam bahasa Indonesia, walaupun memang menjadi rancu.

    Bagi saya sendiri, “Men-Digital” berarti mengalihkan atau memadukan sebagian kehidupan saya ke dalam bentuk digital. Baik itu kejadian sehari-hari, maupun juga beberapa properti yang saya miliki. Contoh paling mudah dari kehidupan saya yang saya alihkan atau padukan ke dalam bentuk digital adalah tulisan saya.

    Iya, tulisan saya.

    Seperti diketahui, saya gemar sekali menulis cerita fiksi. Salah satu cerita fiksi saya sudah terbit dalam bentuk novel yang terbit pada 2006 lalu. Beberapa cerita fiksi saya juga masih saya apdet di blog ini, ataupun juga di blog lainnya. Dan, agar bentukan tulisan fiksi saya tidak terbuang percuma, atau justru hanya mengendap di database komputer saya, jadilah saya pun mengalihkan dan memadukannya ke dalam bentuk digital.

    Saat ini, bentukan digital untuk tulisan yang saya gemari adalah cerita singkat di posterous. Cukup dengan mengirimkan melalui e-mail, maka saya dapat mengapdet tulisan fiksi saya di sana. Serta, kemudahan akses yang saya sambungkan dengan akun twitter saya, membuat saya tak perlu susah-susah mengapdet akun twitter saya setiap kali saya selesai menulis cerita baru. Otomatis, dan praktis!

    Oiya, alasan lain saya menempatkan tulisan fiksi saya di dunia digital seperti blog posterous itu, adalah karena saya termasuk orang yang pelupa. Sifat pelupa tersebut terutama sering muncul, di saat ide sedang liar-liarnya. Sementara ide saya yang sedang liar untuk menulis fiksi adalah ketika saya biasanya dalam perjalanan, di tengah menunggu, dan waktu-waktu yang “memaksa” saya untuk berada dalam kondisi diam di suatu tempat, namun tak bisa pergi ke tempat lainnya.

    Bingung ya?

    Oke, intinya sih segeralah membuat versi digital dari dokumen atau karya Anda. Mau itu tulisan, gambar, atau bahkan produk aplikasi. Banyak koq penyedia jasa untuk digitalisasi karya Anda tersebut. Ada posterous, wordpress, tumblr, deviantart, 4shared, dan lain-lain.

    Yuk, kita digitalkan hidup!


  3. Black Marketing, Strategi Miring Nan Jitu

    February 2, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Anda terlibat dalam pemasaran di kantor Anda? Mau itu produk, ataupun jasa, diperlukan strategi pemasaran atau marketing yang tepat. Baik itu tepat sesuai sifat dari produk atau jasa yang Anda tawarkan, maupun juga tepat sasaran, yakni para konsumen yang Anda tuju. Salah membuat strategi, justru akan muncul cap buruk akan penawaran Anda. Tapi, bagi sebagian orang, cap buruk tersebut adalah salah satu jenis marketing yang baik. Atau bisa dikatakan, lebih baik!

    Mengherankan memang, bagaimana bisa sebuah cap buruk justru menjadi salah satu strategi marketing yang oke. Tapi, justru itulah sebenarnya memang. Alasan sebenarnya adalah karena salah satu sifat manusia yang mudah terintimidasi. Sehingga, jika ada cap buruk yang melekat pada sebuah produk atau jasa, maka mereka pun akan dengan mudah terintimidasi untuk sama-sama mengecap buruk, meski sebenarnya mereka belum pernah atau takkan pernah mengonsumsinya.

    Strategi cap buruk pada produk atau jasa yang ditawarkan, bisa disebut juga sebagai Black Marketing.

    Black Marketing adalah konsep pemasaran produk atau jasa, dengan tidak mengedepankan kelebihannya, melainkan menampilkan kekurangannya secara total. Black Marketing memiliki tujuan utama membangun awareness, atau mempublikasikan nama brand dari produk atau jasa agar dikenal orang banyak, melalui sentimen negatif. Baru kemudian, di suatu titik, dilakukan kampanye “pemutihan” untuk memulihkan brand tersebut.

    Harus diakui, dengan menerapkan Black Marketing dapat menambah brand awareness dari produk atau jasa yang kita kelola. Bisa dibilang, cukup boosted. Namun ada hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. Yakni, perhatikan setiap masukan atau saran yang masuk. Jika ada pertanyaan, segeralah jawab. Selain itu, risiko terbesar adalah image negatif yang bisa timbul dari Black Marketing terhadap produk atau jasa.

    Yang paling penting adalah, setiap strategi tersebut, harus mampu mendongkrak kepekaan dari orang-orang yang tidak tahu persis mengenai brand yang dikelola. Dan yang paling penting adalah, langkah pemulihan dari Black Marketing tersebut. Caranya bisa dilakukan dengan membuat konferensi pers, menyewa jasa buzzer (pegiat daring dengan massa tertentu), ataupun membuat kampanye yang mengedepankan perubahan menjadi lebih baik. Manapun langkah pemulihan yang dipilih, tentunya harus sesuai dengan cap buruk yang sudah melekat melalui Black Marketing.

    Well, semoga berhasil bagi Anda yang akan mencobanya!

    NB: foto dari sini.