Rss Feed
  1. Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

    November 8, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya.

    Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke arah jam dinding di dekat pintu masuk, kemudian melihat ke arlojinya. Sama. Walau detiknya mungkin beda.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Menahannya sejenak sebelum menghembuskannya.

    Dua orang perempuan melewati tempat pria itu duduk. Melihat ke mejanya sejenak, kemudian ke kursi kosong di depan pria itu. Salah satu perempuan berbisik cepat, dan yang lainnya tersenyum kecil. Mereka kemudian pergi memunggungi pria itu. Tanpa mereka sadari, pria itu tahu apa yang kedua wanita itu pikirkan.

    Sudah biasa. Seperti biasa. Pria itu bergumam.

    Di bawah meja, pria itu mengubah posisi kakinya. Semula lurus, kini menyilang ke arah belakang. Rasa pegal lama-lama menerpanya juga. Walau begitu, tangannya di atas meja masih sama. Tangan kiri memegang cangkir kopi, yang kanan memangku dagunya sambil jemarinya menahan rokok di mulutnya.

    Tatapan pria itu kini berpindah ke jendela. Melihat ke arah aliran air yang garisnya tinggal sedikit saja di kaca. Melihatnya jatuh dari pangkal di kusen atas, lalu bergulir sepanjang garis yang tak rata. Kadang berbelok membentuk garis baru, kadang tetap berada di garis yang sudah ada. Lalu menyentuh kusen bawah. Hilang. Membasahi kusen jendela.

    Jauh dari mejanya, bel pintu berbunyi. Seorang pengunjung lain telah masuk ke dalam café.

    Sedikit bergerak, tangan pria itu menyisir dagunya yang kasar. Jenggot. Berewok. Sudah hampir 4 hari sejak terakhir. Sejalan dengan matanya yang sedikit merah berair. Selaras dengan kantung mata yang sedikit terlihat gelap.

    “Ujan selalu bikin macet.” kata seorang pria bermantel sambil duduk di depan pria itu.

    “Tapi cuma macet jalan raya doang. Ga yang laen.” jawab pria perokok itu. Tangannya merogoh sebuah paket berwarna cokelat yang sedari tadi ia tempelkan di bawah meja. “4 hari.”

    “Nice job.” jawab pria bermantel sambil menerima paket cokelat itu, dan menaruhnya ke saku mantelnya. Kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah kantong plastik cukup tebal. “50 persen sisanya.”

    Pria perokok itu langsung menarik kantong plastik itu dan menggesernya hingga terjatuh ke dalam tas terbuka tepat di bawah tepi meja.

    “Liburlah 2 minggu.” ujar pria bermantel sambil bergeser untuk berdiri.

    “Pasti.” jawab pria perokok. “Bisa jadi lebih.”

    Pria bermantel diam berdiri sebelum beranjak. Ia melihat ke arah bartender.

    “Jangan matikan ponselmu.” kata pria bermantel sambil kemudian beranjak.

    Pria perokok tak menjawab. Ia menyesap rokoknya lagi. Dalam, dan menghembuskan asapnya.

    Bel pintu terdengar kembali. Dan, sepersekian detik berikutnya terdengar ledakan keras. Memekakkan telinga. Menghancurkan kaca. Melemparkan hampir semua orang yang ada di dalam café. Apalagi, orang-orang yang sedang berada dekat dengan pusat ledakan. Tapi pria perokok itu tak ada di mejanya.


  2. Cerita Rak Majalah

    October 21, 2011 by Billy Koesoemadinata

    dari stream yang dibuat putri pratiwi di googleplus soal cover buku, saya jadi keingetan salah satu laporan dan riset “kecil-kecilan” soal cover majalah yang pernah saya buat dulu waktu masih jadi pekerja media.

    kurang lebihnya, intisarinya seperti ini: selayaknya manusia, cover itu adalah tampilan terluar sebuah produk buku/majalah. bisa itu baju yang kita kenakan, wajah, ataupun tampilan kita secara keseluruhan. itulah cover.

    dan, selayak manusia pula, buku/majalah pun “ingin” terlihat berbeda. tapi apabila manusia mampu membedakan dirinya selain dengan penampilan tapi juga dengan keahlian dan kelihaian dalam komunikasi 2 arah, maka buku/majalah “hanya” bisa berkomunikasi 1 arah, sehingga belum tentu keahlian dan kelihaian yang dimilikinya dapat “dinikmati” pembacanya apabila covernya tak menarik.

    lalu bagaimana agar bisa menarik? apakah perlu desain yang kreatif, menonjol, dan mahal? jawab singkatnya, iya dan tidak. iya, karena hal itu dapat menunjang, dan tidak karena hal itu akan percuma apabila produk buku/majalah nantinya disimpan di bagian rak yang tak terjangkau — baik oleh pandangan mata, maupun tangan.

    yes, penempatan di rak adalah hal yang juga penting bagi sebuah produk buku/majalah agar bisa “laku” — diambil, dibaca, lalu (mudah-mudahan) dibeli. lalu, kalau penempatannya tidak di lokasi yang bagus, maka percuma saja sebuah cover dibuat sesempurna mungkin. contoh mudahnya, cover yang terbuat dari lembaran emas sekalipun takkan menarik untuk dilihat atau dibeli, apabila diletakkan di bagian bawah rak — yang sejajar dengan kaki kita, dan atau kemudian ditumpuk dengan deretan majalah/buku lain.

    jadi bagaimana membuat sebuah cover agar bisa menarik untuk dibaca, dan (mudah-mudahan) dibeli? pertimbangkan faktor ini,
    1. majalah/buku cenderung ditumpuk secara cascade ke atas. jadi, pertimbangkan meletakkan header yang menarik.
    2. majalah/buku juga cenderung ditumpuk secara cascade ke samping, dengan meletakkan jilid di bagian luar. jadi, pertimbangkan membuat sidebar yang juga menarik.

    silakan cermati rak buku/majalah di lapak, hingga toko buku. kebanyakan, pasti akan melakukan hal ini. soal image/foto yang digunakan sebagai cover, itu nilai plus yang lebih menampilkan isi dari majalah/buku itu.

    begitulah, kurang lebihnya..

    NB: gambar asli dari sini.


  3. Ketika Kesempatan itu Datang

    May 30, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Setiap langkah dalam hidup, baiknya memang dipikirkan matang-matang. Baik itu langkah yang kecil, ataupun besar, baik itu yang invidividu kita sendiri, ataupun yang berkaitan dengan orang lain. Ada baiknya, setiap langkah tersebut dipikirkan dan direnungi sebelum diambil. Tapi tak jarang juga, sebuah langkah memang harus segera dilaksanakan dan diambil, sebelum kesempatan untuk melangkah itu hilang, dan belum tentu datang lagi.

    Dan, ya, saya pun melangkah.

    Sudah cukup lama pemikiran untuk melangkah itu timbul, dan dengan berbagai pertimbangan serta tujuan yang ingin dicapai. Namun berkali-kali, niatan saya untuk melangkah tersebut terhenti. Banyak alasannya, mulai dari diri sendiri, faktor orang-orang sekitar, hingga perhitungan rencana yang akan terjadi kemudian. Intinya, banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan saya ketika saya memikirkan tentang melangkah. Dan, pemikiran tersebut memakan waktu yang tak sedikit, timbul dan tenggelam.

    Kini, setelah hampir 3 tahun, saya pun melangkah untuk menaklukkan tantangan baru dalam hidup saya. Bukan, bukan tentang menikah – karena itu sudah ada di postingan sebelumnya *eh*, melainkan beralih karir dari pekerja media menjadi pekerja humas dan komunikasi.

    It’s been a great journey to be a media worker, but then, I want to fulfil another challenging field and conquer it! :)

    Bismillah!

    NB: cerita versi lain dan yang lebih lengkap, bisa disimak di sini.


  4. Dskon: Info Lengkap, Harga Hemat yang Seru!

    May 23, 2011 by Billy Koesoemadinata

    DskonSiapa ya yang ga suka beli sesuatu dengan harga miring? Putri Catherine (Kate Middleton) aja, kabarnya suka lho beli baju-baju dengan harga miring. Selain harganya yang murah, kadang kita bisa nemuin “harta karun” yang nilainya lebih daripada harganya yang murah itu. Entah itu promosi atau engga, beli sesuatu yang berbau diskon atau ada potongan harga, atau bisa dibilang dengan harga khusus, selalu bikin tertarik. Yep, saya juga. :mrgreen:

    Dan, sekarang ini makin banyak lho cara-cara buat dapetin harga khusus buat hal-hal tertentu. Apalagi, semenjak ada internet dan juga kebangkitan industri internet yang makin stabil, makin banyak pula pilihannya. Sebut aja macam dealkeren, disdus, ogahrugi, dll. Saya sendiri jadi member di beberapa situs tersebut. Dan, kadang2 beli paket harga khususnya.. kebanyakan sih, beli harga khusus buat makanan *gembul* :lol:

    Tapi kemudian, kadang suka gemes sendiri. Misal nih, baru hari ini beli paket harga khusus tertentu di situs A, eh.. besoknya ada paket lain dengan harga khusus yang beda tapi menarik juga, dan tempatnya di situs B. ribet gitu kan jadinya? Apalagi, kadang pengen ngebanding-bandingin, tapi ada kendala di koneksi.. *fakir benwit* :P

    Anyway, kaya’nya keribetan itu mulai terjawab. Ada salah satu situs layanan yang hadir dan ikut ngebantu keribetan saya. Dan, namanya Dskon. Di situs webnya, dia jadi semacam aggregator (pengumpul) tawaran paket harga khusus tersebut, dan ngebuat semuanya lebih gampang buat dicari, dibandingin, dan juga ngedapetin! Seru euy..

    Ga cuman paket harga khusus yang jadi info utama, tapi juga ada detil info dari website penyedianya, cara bayarnya, ada di kota mana aja, dan banyak lagi. Belom lagi, bisa nulis review juga lho.. Wew, lengkap ya tawarannya.. Soalnya, kepuasan pelanggan itu kan penting banget, dan review-lah yang jadi patokan pelanggan atau pembeli lainnya. macam saya gini lah.. ;-)

    Oiya, denger-denger sih, Dskon juga bisa terhubung sama facebook. Jadi, kalo kita nemu ada tawaran paket khusus yang wuokeh di sana, bisa langsung dishare di facebook. Kali-kali aja, salah satu temen kita yang jumlahnya bejibun di facebook itu, ada yang tiba2 bilang, “eh, seru nih! Yuk beli, nanti gue traktir!” *maniak haratisan* :lol:

    Dan, yang paling penting adalah apdet! Iya dong, situs tawaran paket harga khusus itu apalagi yang lebih penting selaen apdet? Apalagi, semenjak banyak brand atau venue yang ikutan, pastinya makin banyak tawaran yang bisa hadir setiap harinya.. Hmmm.. jadi laper *lho* :P

    Ah.. cari2 tawaran yang asik aaahh.. kali2 aja ada yang seru dan ada harga muraaaahh.. :mrgreen: yuk.. yuk.. ke Dskon!

    NB: image dskon, sourcenya dari dailysocial di sini.


  5. Exist, To Be or Not To Be?

    April 16, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Berkaitan dengan New Media, saya ada sebuah file presentasi yang sudah saya aplod di slideshare.net. File ini berkaitan dengan habits kita di New Media, yang -menurut saya- kurang lebih akan berkaitan dengan eksistensi kita di internet.

    Silakan menyimak, dan kalau mau download, bisa koq. Asal ada akun slideshare tentunya.. :mrgreen: