RSS Feed
  1. Smooth Experience with Korean Air

    September 3, 2015 by Billy Koesoemadinata

    Udah lama ga nulis terkait jalan-jalan alias ngetrip, mau coba mulai lagi ah sekarang. :)

    Sekitar medio Desember 2013 lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Korea Selatan – tepatnya Seoul dan sekitarnya, terkait dengan pekerjaan. Karena saya udah cukup lama ga ke wilayah bumi dengan 4 musim dan waktu persiapan yang cukup mepet sementara masih banyak yang harus diurus, akhirnya urusan visa dan juga tiket perjalanan diserahkan ke salah satu agen perjalanan. Ya, mengurangi satu pikiran lah.

    Singkat cerita, setelah urun rembuk dengan rekan-rekan satu kelompok perjalanan-pekerjaan, akhirnya dipilihlah Korean Air sebagai maskapai yang akan digunakan untuk perjalanan pergi-pulang. Pertimbangannya banyak, mulai dari waktu keberangkatan yang sesuai, rekomendasi dari agen perjalanannya, sampai dengan harga. Tapi kali ini yang bakal saya omongin lebih ke pengalaman di perjalanannya ya, bukan detail lainnya.

    Hari H keberangkatan, setelah mengantisipasi akan terjadi banjir bandang lagi – pada waktu itu beberapa hari sebelumnya Jakarta banjir di sana-sini, tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan jarak 6 jam dari jam buka check-in. Setelah menunggu rekan sekelompok dan menghabiskan waktu, akhirnya sekitar 2 jam sebelum take off, mulai masuk untuk mengantri check in. Di sini pengalaman smooth dimulai.

    Group check-in. Pilihan ini sangat membantu untuk saya dan rekan-rekan, karena barang bawaan kami yang cukup banyak serta agak repot kalo harus mengantri satu-persatu. Serta, rencananya memang di pesawat hendak meminta kursi yang berdekatan – rencana awalnya ya supaya mudah mengobrol. Semuanya berjalan lancar dan cepat.

    Masuk ruang tunggu sampai dengan boarding, ga ada cerita berarti. Lebih berarti lagi saat mulai boarding, karena menjumpai air crew-nya tak semuanya warga Korea, tapi ada juga dari Melayu dan Indonesia. Ketauan dari mana? Jelas karena nanya, dong. :mrgreen: Kan buat mastiin, kalo butuh sesuatu di flight nanti terkait makan-minum atau entertainment services, ada yang mudah diajak ngobrol. :)

    Smooth take-off. Hampir ga berasa bump sama sekali. Setelahnya perjalanan di udara juga nyaman dengan pilihan makanan yang ramah dengan perut – saya lupa persis saya order makanan apa, yang pasti bukan Korean. Juga penawaran alkohol dengan cara sopan – menanyakan apakah memang minum atau tidak.

    Air crew yang cakap. Minimal dalam berbahasa Inggris, serta berbahasa Melayu dan Indonesia – untuk yang crew dari Melayu-Indonesia. Mungkin memang karena saya udah lama juga ga naik pesawat yang lebih dari 6 jam ke negeri dengan bahasa aslinya bukan bahasa Inggris, jadinya kalo nemu air crew yang cakap bahasa Inggris, semacam takjub gituh. :P

    Perjalanan malam yang memang sengaja dikondisikan agar bisa kill time di perjalanan, terasa nyaman juga dengan Korean Air. Pilihan in-flight entertainment yang up-to-date – pada waktu itu, mendukung buat saya yang cenderung susah untuk tidur lebih dari 1 jam jika sedang dalam perjalanan. Kecuali ya, kalo emang sebelum naik pesawatnya udah capek bingits. *eh*

    Jelang landing di Seoul, Korea, baru ketauan kalo ternyata air crew yang bisa berbahasa Indonesia tersebut adalah pramugari dari Garuda Indonesia yang sedang “pertukaran karyawan” ke Korean Air. Saya sempat heran, karena meskipun sama-sama maskapai besar dan punya trayek (halah) Jakarta-Seoul, kok pramugarinya tuker-tukeran gitu. Di kemudian hari, baru saya tau kalo “pertukaran” itu mungkin adanya, karena kedua maskapai tersebut berada di grup SkyTeam.

    Smooth landing. Satu-satunya hal yang saya ingat sebelum landing adalah pengumuman dari pilot untuk penumpang serta aba-aba “prepare for landing” untuk air crew. Setelahnya? Suara lepas seat-belt dan pemandangan Incheon Airport yang mulai bersalju dengan langit yang masih gelap. Iya, bump pada saat landing ga berasa banget. Hal ini tak hanya diakui oleh saya, melainkan juga oleh rekan-rekan seperjalanan.

    Perjalanan pulang beberapa minggu kemudian dengan Korean Air pun mendapati pengalaman yang kurang lebih sama. Baik itu saat masih di ground sebelum berangkat, take off, in flight, sampai dengan landing. Benar-benar sebuah strategi yang apik – dan sudah seharusnya dilakukan, oleh Korean Air.

    So, Korean Air? Smooth experience for me.


  2. Short Story #286: Susah Sembuh

    August 31, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Ga masuk lagi si Merry?” Dania melihat bangku kosong di sebelahnya di dalam ruang ganti.

    “Masih recovery mungkin.” Michelle menjawab santai sambil melanjutkan ganti baju.

    “Recovery apanya?”

    “Ya hatinya laaahh..” Michelle memberitahu. “Ga gampang kali buat dia diputusin sama cowoknya.”

    “Emang hatinya luka gitu?”

    “Sepertinya begitu.”

    “Lah…” Dania berkomentar sambil kemudian menyelesaikan ganti bajunya dengan pakaian olahraga.

    “Kamu sepertinya punya saran yang mujarab buat sembuhin luka. Coba ntar pulang sekolah ke rumahnya Merry, dan kasih dia wejangan.” Michelle menyarankan.

    “Buat apa?”

    “Ya biar dia cepet sembuh luka hatinya, dan masuk sekolah lagi.”

    “Oh.. begitu.” Dania mengikat tali sepatunya, lalu sedikit pemanasan. “Cemen banget sih, kaya’ luka gara-gara perasaan paling susah sembuh dan paling susah bikin gerak aja.”

    “Emang ada luka yang paling susah sembuh dan bisa bikin susah gerak banget?”

    “Ada. Luka-luka di persendian, luar atau dalam. Juga luka di gusi atau syaraf mulut karena sakit gigi.” Dania memberitahu.

    “Ebuset, itu beda bidang kali!” Michelle melempar Dania dengan perangkat olahraga yang akan mereka gunakan.


  3. Short Story #285: Lari

    August 24, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Lagi ngetren banget kaya’nya ya acara lari-lari itu.” Heru berkomentar sambil meletakkan surat kabar di meja yang bergambarkan iklan promosi acara lari.

    “Iya. Ada beach run lah, night run lah, macem-macem run, lah.” Joanne merespon sambil masih memainkan ponselnya.

    “Sponsornya lagi pada demen kali.” Farah menambahkan santai.

    “Padahal acara begituan bayar, ‘kan. Kalo mau lari doang sih, bisa gratis.” Heru berkomentar lagi.

    “‘Kan dapet memorabilia. Medali sama kaos gitu.” Joanne memberitahu, masih dengan menatap ponselnya.

    “Yaelah, begituan doang bikin sendiri juga bisa kali.” Heru balik berkomentar.

    “Tapi ‘kan beda rasanya tau..” Joanne bereaksi. Kali ini ponselnya sudah ia simpan di meja.

    “Beda karena pesertanya lebih banyak? Karena barengan gitu?”

    Farah melihat kedua teman kerjanya sesaat sebelum berkomentar. “Padahal ada acara lari yang gue tau berasa banget dan udah pasti banyak pesertanya, tanpa harus ada sponsor. Tapi, ga ada memorabilia gitu sih.”

    “Apaan?” Joanne dan Heru serentak.

    “Lari dari kenyataan.” Farah memberitahu dengan kalem.


  4. Short Story #284: Mabuk

    August 17, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Baru tau gue kalo lo minum juga.” Sharon mengomentari Nicky yang baru duduk dengan segelas bir di tangannya.

    “Lah, semua orang pasti minum bukan? Kalo engga, abis makan seret dong.” Nicky menjawab dengan cepat lalu meneguk birnya.

    “Maksud gue, gue kirain lo ga minum bir.” Sharon menjelaskan.

    “Jangankan bir, waktu naik pesawat Singapore aja itu kapan tau, wine juga dia minum.” Felix memberitahu.

    “Wew…” Sharon terkejut.

    “Kenapa harus heran?” Nicky bertanya sambil melanjutkan makannya.

    “Ya kan, lo imejnya alim, lurus-lurus aja, ga main ini-itu, trus ga taunya minum alkohol juga.” Sharon memberitahu, sambil sedikit mencondongkan badannya. Ia khawatir suaranya tak terdengar, karena resto tempat mereka makan malam ini mulai mengubah pilihan musiknya sejalan waktu yang semakin larut.

    “Gue minum bir dan wine, bukan alkohol.”

    “Ya sama aja.” Sharon membalas. “Gue kirain lo ga minum karena itu haram buat lo.”

    “Kalo buat dia sih, yang memabukkan baru haram.” Felix menyambar yang langsung disetujui Nicky.

    “Maksudnya?”

    “Sepanjang gue ga mabok, ya masih gapapa.” Nicky menjelaskan.

    Sharon diam, coba mencerna.

    “Makanya sampe sekarang masih jomblo nih dia, soalnya kan cinta itu memabukkan. Dan jadinya itu haram.” celetuk Felix yang langsung mengundang tawa.

     

    NB: Cerita pendek ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan atau menyerang agama, komunitas, atau ajaran keyakinan tertentu.


  5. Short Story #283: Peraturan

    August 10, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Peraturan dibuat untuk dilanggar.” Jamie mengomentari posisi parkir kendaraan di seberang mobil yang ia tumpangi.

    “Kesian ya, ga bisa ngeliat garis petunjuk posisi parkir.” Daniel merespon sambil menutup pintu mobil lalu mengunci.

    “Keburu-buru ‘kali.” Michelle menanggapi dari depan kap mobil.

    “Jangan selalu mikir positif, lah.” Jamie menjawab sambil kemudian mengambil foto kendaraan yang parkirnya salah tersebut, kemudian siap untuk mengetwit.

    “Mau ditwit?” Michelle bertanya.

    “Iya? Biar seluruh dunia tau, kalo masih ada yang #parkirlubangsat.” Jamie memberitahu.

    “Yaelah Jim, kaya’ lo ga pernah ngelanggar aturan aja.” Daniel menengahi.

    “Nope. Ga pernah. Gue sebisa mungkin selalu ngikutin peraturan yang ada.” Jamie menjawab, menghentikan sementara untuk mengetwit.

    “Bahkan ketika mungkin peraturan itu ngerugiin lo?” Daniel memburu.

    “Iya.”

    “Dan lo ga pernah sekalipun kepengen ngelakuin hal di luar peraturan?”

    “Gue ga ngerti maksud pertanyaan lo, Niel.” Jamie menjawab sambil terus jalan menuju gedung kuliah.

    “Seinget gue, Jamie selalu on time, ga bolos tanpa alasan ga jelas, dan masih banyak lagi, sih.” Michelle menambahkan.

    “Tuh, ‘kan…” Jamie merasa didukung.

    “Kenapa sih lo begitu? Ga ada tantangan banget kayanya hidup lo.” Daniel berkomentar.

    Jamie lalu berhenti, dan membiarkan Daniel jalan terlebih dahulu sampai kemudian ia menyadari jika Jamie berhenti.

    “Kenapa?”

    “Bukan soal tantangan sih.. Tapi lebih ke apa yang bisa lo hadapi dengan peraturan itu?” Jamie memberitahu.

    “Oh, jadi maksud lo, lo ga mau susah karena breaking the rules?” Daniel menyimpulkan.

    Jamie diam sejenak sebelum menjawab. “Well… ngikutin peraturan aja udah susah, apalagi kalo ngelanggar peraturan?”