RSS Feed
  1. Short Story #257: Sejarah Pemenang

    February 9, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Keren, tim underdog bisa masuk ke final.” Dena berkomentar sambil menyiapkan kostum.

    “Kamu lagi ngomongin kita?” Astri menjawab sambil menyiapkan sepatu.

    “Ya, siapa lagi? Coba di awal-awal kompetisi, siapa sih yang nyangka kita bisa sampe babak final?” Dena menjawab.

    “Ga ada.” Astri menjawab. “Tapi aku emang pengen kita menang.”

    “Maksudmu, setelah sampai di final, jadinya nanggung kalo kalah?”

    “Nope, aku emang INGIN MENANG kompetisi ini.” Astri menjelaskan.

    “Jadi beban ga sih kalo emang ngebet menang gitu? Ngebet jadi juara?”

    “Kalo kamu ada di posisi aku, justru jadi beban kalo ga menang.”

    “Oh iya, you’re living on somebody else’s success.” Dena teringat sesuatu.

    “Dan selama ini itu selalu jadi bayang-bayang setiap kali aku mau ngelakuin sesuatu.” Astri menambahkan.

    “Padahal kan, kompetisi ini dan juga hal yang mereka lakuin beda bidang. Jauuuuuhh banget.”

    “Apapun, yang penting sukses.” Astri menegaskan. “Kompetisi ini jadi pilihanku, dan ini kesempatanku buat buktiin kalo aku emang bisa ngelakuin sesuatu dan jadi juara atau ahli.”

    “What is wrong with you and all those champion things, anyway?” Dena berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan menyiapkan kostum.

    “Karena sejarah adalah milik para pemenang.” Astri menjawab.

    Dena tersenyum kecil. Ia tak mengharapkan Astri untuk meresponnya, tapi ia justru kemudian terpikir untuk meresponnya lagi.

    “Iya, entah itu sejarah hanya mencatat para pemenang, atau para pemenanglah yang menentukan bagaimana sejarah harus tercatat.” Dena berkomentar.


  2. Short Story #256: Kemenangan

    February 2, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Berhari-hari kalian nginep di lab, dan hasilnya cuma begini?” Francis, salah satu dosen senior di fakultas teknik mengomentari hasil kerja anak didiknya.

    “Ini baru purwarupa, Pak. Masih akan dikembangkan lagi, sesuai review hari ini.” Abdul yang menjadi team leader, menjawab.

    “Ga ada yang bisa di-review!” Francis langsung menjawab. Kecewa.

    Abdul dan yang lain terdiam.

    “Sudah, pulang saja dulu kalian sana. Tunggu catatan saya nanti dari yang kalian kerjain ini.” Francis memerintah.

    Tanpa diulang, Abdul dan teman-temannya membereskan perlengkapan mereka, lalu keluar dari lab dan pulang. Tinggal Francis dan Wawan, koleganya yang masih berada di lab mengamati hasil kerja anak didik mereka dalam diam.

    “Ga perlu sekeras itu sama mereka. Namanya juga mahasiswa.” Wawan memberitahu.

    “Aku ga keras, Wan. Aku tegas.”

    “Ya, apapun itu, harusnya kamu bisa lebih kasih apresiasi.”

    “Apresiasi apa? Kamu liat sendiri hasilnya ini seperti apa, ‘kan?!” kekesalan Francis kembali muncul. Ia lalu mondar-mandir di sekitar hasil kerja anak didiknya.

    “Kalo mentalnya udah keburu jatoh pas persiapan gini, jangankan menang, tes pertama di kompetisi juga bakalan langsung jiper mereka.” Wawan melanjutkan sambil kemudian berjongkok. Melihat beberapa bagian dari hasil kerja Abdul dan tim.

    “Yang paling penting bukan menang, tapi bisa beneran operasional apa engga? Sesuai standar apa engga? Termasuk inovasi atau improvement apa bukan? Itu yang penting.”

    “Kamu ngomong gitu seakan-akan kalo pun mereka menang, ga akan ada artinya sama sekali sama kamu.” Wawan merespon. “Emang kamu ga bangga kalo mereka menang?”

    Francis mendengus. “Kebanggaanku itu kalo mereka bisa lebih jago dariku. Bukan sekadar menang, tapi beneran bisa jadi lebih mahir.”

    Wawan diam coba mencerna.

    “Kemenangan sejati seorang pelatih atau pengajar, adalah apabila didikannya bisa lebih sukses dan lebih baik daripadanya, Wan.” Francis memberitahu.


  3. Short Story #255: Empty

    January 26, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Berhentilah bermuram durja.” Cathy menegur sahabatnya, yang berdiam diri saja di ruang tengah flat mereka.

    “Engga, kok.” Rose menjawab sedikit enggan sambil menatap gelapnya langit yang sesekali dihiasi gemerlap kembang api dari jendela mereka.

    “Buka aja pintu kacanya, sekalian ke balkon.” Cathy menyarankan.

    “Buat apa?”

    “Biar suara kembang apinya juga kedengeran.” Cathy memberitahu. “It’s new year eve.”

    “Oh.” Rose menjawab sambil menggeser pintu kaca besar yang menjadi satu dengan jendela.

    Debur kembang api terdengar dari jauh.

    “Cheer up, will ya?” Cathy menegur lagi.

    Rose menjawab dengan dengusan. Ia meneguk minuman ringan di tangannya.

    “Bete karena ga jadi pergi?” Cathy penasaran.

    “Bakal lebih bete lagi kalo jadi pergi.”

    “Kenapa?”

    “Begitulah.”

    Cathy membiarkan sejenak sahabatnya itu yang kini sudah berada di balkon dan menyandarkan tangannya ke pegangan.

    “You look sad.”

    “I’m not. I’m just empty.” Rose memberitahu.

    “Maksudnya empty?”

    Rose menghela napas sejenak. “If you’re surrounded by people – even those you love, but you feel nothing.”


  4. Short Story #254: Jakarta

    January 19, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Gue ga pernah ngerti kenapa lo demen banget naik busway malem-malem, ke arah ujung satunya dulu baru kemudian pulang. Jadi muter-muter ga jelas, padahal rumah lo deket banget kalo sekali jalan pulang.” Eko berkomentar sambil memegang pegangan bus transjakarta yang sedang berjalan.

    “Sengaja. Buat liat-liat.” Kania memberitahu. Ia duduk di depan Eko yang berdiri di depannya.

    “Enaknya kalo udah capek kerja itu cepetan pulang, Kan. Istirahat. Atau cari hiburan, kek.” Eko kembali berkomentar.

    “Buat gue ini hiburan.” Kania menjawab. “Nyadar ga sih lo, Jakarta tuh cantik banget kalo diliat malem-malem gini. Jalanan udah mulai sepi, lampu-lampu nyala di sana-sini.”

    Eko diam. Sambil masih berdiri ia melihat ke luar jendela belakang Kania, sementara Kania melihatnya dari duduknya. Kontras dengan sekeliling mereka yang asyik dengan perangkat di tangan masing-masing.

    “Gimana, cantik kan?”

    Eko tak langsung menjawab. Ia menelan ludah dulu. “Dan selama ini gue selalu ngira kalo Jakarta itu kota yang laki.”

    “Siang dia jadi laki. Jantan, angkuh, dan terlihat riuh dengan penuh kekuasaan.” Kania menjelaskan. “Tapi kalo malam, dia jadi perempuan. Cantik.”

    “Dan juga misterius.” Eko menambahkan. “Banyak hal yang terjadi di malam hari ga keliatan jelas, samar, dan tersembunyi.”

    “Tapi dia tetaplah cantik.”


  5. Short Story #253: Bukan 4L4y

    January 12, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Pinjem laptop lo dong, bentar.” Jim meminta.

    “Ada tuh, di meja makan.” Sandra memberitahu sambil masih asik memotong-motong sayuran di dapur.

    “Udah nyala?” Jim bertanya sebelum beranjak.

    “Udeh.”

    Jim kemudian pergi menuju meja makan, dan menggerakkan jemarinya di atas touchpad.

    “San, passwordnya apaan?” Jim setengah berteriak.

    “Nama gue ya, alay.” Sandra menjawab setengah berteriak juga dari arah dapur.

    Jim kemudian menunjuk kursor ke arah isian password. Lalu mulai mengetik.

    “San, passwordnya salah!” Jim setengah berteriak lagi.

    “Bener kok passwordnya, nama gue alay!” Sandra menjawab juga dengan setengah berteriak dari arah dapur. Ia berhenti sebentar dari memotong sayurannya.

    Lalu hening. Beberapa menit. Sandra menunggu.

    “Bisa login ga?” Sandra bertanya dari arah dapur.

    “Ga bisa, passwordnya salah mulu!” Jim berteriak tanpa beranjak dari depan laptop Sandra. “Lo ke sini deh mendingan, login sendiri. Udah gue tulis passwordnya sesuai yang lo bilang padahal..”

    Sandra menyimpan alat-alat dapurnya, mencuci tangan, kemudian menuju meja makan. Jim menunggu sambil memperlihatkan layar laptopnya yang masih meminta password.

    “Kenapa bisa sih passwordnya salah mulu, padahal udah gue kasitau juga…” Sandra mulai mengetik password sambil disaksikan Jim.

    “Lah, kok lo ngetiknya 54Ndr4? Katanya passwordnya ‘nama gue alay’?”