Short Story #304: Aku Tak Tahu

“Dari pertama kali juga kan harusnya kamu tahu kalo ini bakal terjadi kalo kamu begitu!” Dwi berteriak pada Indra.

“But I’m not leaving you! I’m not going anywhere!” Indra balas berteriak.

“Kalo kamu ga pergi, ngapain juga kamu ngerencanain semuanya sendirian? Moving out of town without noticing me?”

“I’m looking for a better life-“

“EGOIS!” Dwi memotong lalu berjalan menuju pintu apartemen.

Indra mengejar lalu memeluk Dwi dari belakang meski ia meronta-ronta.

Menyadari bahwa ia adalah perempuan yang tak dapat melawan tenaga seorang lelaki, Dwi berhenti terdiam dengan masih sesenggukan.

“I’m looking for a better life for us. For both of us.” Indra memberitahu. “I’m going to start something there, which is better from here, and I’ll take you there once everything’s ready.”

Dwi masih emosi. Ia tak langsung percaya begitu saja dengan omongan Indra.

“Kamu tahu kan kalo apapun yang kamu lakuin ke aku, bakal aku lakuin balik juga ke kamu, dan bahkan lebih daripada yang kamu lakukan?”

“Aku tahu.” Indra menjawab sambil masih memeluk Dwi.

“I you lie, I’ll lie back to you. Maybe worse.”

“Aku tahu.”

“If you hurt me, I’ll hurt you. Even more.”

“Aku tahu itu juga.” Indra menjawab. “Tapi ada yang aku tak tahu: Why can’t you love me, the way I love you?”

Short Story #303: Leaving

“I’m leaving him.” Anna memberitahu Wahyu yang sedari pagi sudah berada di apartemennya.

“Mulai kapan?” Wahyu bertanya datar.  Mukanya tak berpaling dari layar komputer di depannya.

“Mungkin segera.”

“Ga pasti, ah.” Wahyu berkomentar. Pedas. “Ntar sama kaya’ yang terakhir kali.”

Anna sedikit tersentak karena Wahyu masih mengingatnya. Ia meregangkan badannya, menatap jendela besar di sampingnya.

“Aku mungkin ga bakal ada di sini lagi, kalo kejadian kaya’ waktu itu terulang.”

“Got it. Aku tahu.” Anna menjawab segera.

“Aku serius.” Wahyu menegaskan.

“Iya. Aku tahu.” Anna menjawab lagi. Kali ini berdiri dan menghadap jendela melihat deburan ombak yang memecah tebing jauh di jajaran pesisir bawah gedung apartemennya.

“Aku penasaran, kali ini apa karena kamu nanya atau minta dia untuk ninggalin istrinya dan dia jawab ga bisa? Lagi?”

Anna mendengus. “Justru sebaliknya.”

Wahyu berhenti mengetik naskah pekerjaannya lantas melihat ke Anna yang memunggunginya.

“What did he exactly say?”

Anna berbalik. “She cannot move on from the last time. So he’s leaving her.”

“Biar gimanapun, kamulah penyebabnya.”

“Mungkin. Mungkin juga engga.” Anna menyesap kembali minumannya sambil tetap melihat keluar jendela.

Short Story #302: Hak Milik

“Kita harus bergerak. Dan saatnya adalah sekarang!” Emma menutup ceramahnya dengan disambut tepuk tangan yang menggemuruh dari hadirin.

Tak lama dari itu, ia kemudian turun mimbar lalu ke belakang panggung dan posisinya untuk memberikan ceramah digantikan oleh pembicara berikutnya.

“Ceramah yang bagus.” Jennifer mengomentari sambil mengikuti Emma ke ruang ganti. “Inspiratif.”

“Sudah saatnya kita, perempuan tahu apa saja hak kita, dan kenapa kita harus membuat klaim atasnya.” Emma menjawab.

“Aku setuju, tapi…”

Emma tiba-tiba berhenti berjalan dan melihat ke arah Jennifer untuk melanjutkan kalimatnya.

“Sepertinya masalah terbesar bukan di diri kita perempuan, melainkan para lelaki.”

“Maksudmu?” Emma bertanya hendak tahu lebih lanjut.

“Yah.. seperti yang kau sebutkan, kita perempuan harus tahu hak dan bagaimana menuntutnya.” Jennifer menjawab. “Sayangnya… itu semua akan percuma jika para lelaki tak tahu apa yang tidak jadi haknya.”

“Itu seharusnya menjadi tanggung jawab para lelaki juga.”

“Menurutku justru itu menjadi tanggung jawab kita juga, memberitahu dan menyebarkan kesadaran yang sama akan hak-hak kita terhadap mereka yang seringkali lupa atau bahkan tidak tahu bahwa itu bukan menjadi hak mereka.”

Emma melanjutkan jalannya sambil diam mendengarkan Jennifer.

“Menurutku, salah satu hal tersulit bukanlah menyadari apa saja hak kita dan memintanya, melainkan menyadarkan orang lain apa yang bukan menjadi hak mereka dan kemudian berhenti menuntutnya.” Jennifer melanjutkan.

Short Story #301: Unsettled

“Jangan gitu, dong. Aku mau berangkat lho, ini.” Gary memohon dari balik pintu yang terkunci.

“Suka-suka aku, dong!” Lily menjawab sambil merajuk di atas ranjangnya di dalam kamarnya.

“Ayo buka dong, pintunya. Kita bicarain sampe tuntas.” Gary memohon lagi.

“Ga mau!”

“Ayo dong…” Gary memohon. “Aku ga bisa nih pergi ninggalin kamu kalo masih ada yang ganjel gini. Bikin perasaan ga tenang.”

“Trus kalo kamu pergi, kamu pikir perasaan aku bakal tenang?”

Gary menarik napas. Ia memikirkan harus memohon seperti apa lagi agar Lily mau membuka pintu dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi.

“Come on… I can’t go if there are things between us unsettled.” Gary memberitahu.

“I’m going to keep it unsettled, so you won’t go!” Lily berteriak dengan suara parau karena ia mulai menangis.

Gary terdiam. Perlahan ia meninggalkan pintu kamar Lily.

NB: terinspirasi dari salah satu adegan di film Interstellar

Short Story #300: Tujuan

“Hentikanlah sebelum kau menyesal.” Francine memberitahu.

“Ga bakalan.” Lukas menjawab, sambil masih tetap menggandeng Francine berjalan.

“Tapi aku… aku ga pantas ada di sini.” Francine kembali berkomentar. “Bagaimana kalau ada yang tahu siapa aku sebenarnya?”

“Sudah pasti mereka akan terkagum-kagum karena melihatmu bagaikan Cinderella.” Lukas tak mengindahkan komentar Francine sambil masih terus menggandengnya dan menikmati lirikan mata orang-orang sepanjang jalan masuk.

“Tapi…”

“Kita udah deal, ‘kan?”

“Kalo bisa dibatalin aja, deh.”

Lukas berhenti. Ia memegang kedua pundak Francine dan menatap matanya lekat-lekat.

“I’d be better go home.” Francine memberitahu.

“No. You are going with me.” Lukas menolak. “Jangan takut ada yang mengenalimu. Kamu di sini, saat ini, bukanlah kamu yang tadi, atau kemarin, di tempat lain. Kamu berbeda.”

“Tapi aku tetap orang yang berasal dari tempat yang sama…” Francine bereaksi. “…dari jalanan.”

Lukas diam sejenak.

“Lagipula, apa sih tujuanmu mengajakku ke sini? Ke undangan gala dinner ini?”

“Karena aku melihat sesuatu yang berbeda pada dirimu…”

“Berbeda denganmu, ‘kan? Kamu dari high class sementara aku dari jalanan?”

“…yang terlihat memiliki nilai lebih daripada sekadar penghuni jalanan. Memiliki kehormatan yang patut untuk dihormati.” Lukas melengkapi kalimatnya.

Francine kehabisan kata-kata sementara Lukas mengusap-usap pundaknya yang tak tertutupi apapun karena ia mengenakan gaun malam tanpa pundak.

“We cannot change where we come from, but we definitely can choose where are we going to.” Lukas memberitahu. “Which.. I hope better one, together.