RSS Feed
  1. Short Story #262: Ramalan

    March 16, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Abang lo jago ramal, ‘kan ya?” Syarifah bertanya pada Tika saat sedang berkunjung di rumahnya.

    “Iya. Kenapa, mau diramal?” Tika bertanya balik tanpa memalingkan mukanya dari buku yang tengah dibacanya.

    “Mau dong.” Syarifah tertarik.

    “Gih, minta diramal sendiri sama orangnya. Mumpung dia lagi ada di rumah. Jarang-jarang lho dia ada di rumah siang gini.” Tika memberitahu.

    “Wah, asyik!” Syarifah  langsung berdiri dari kasur di kamar Tika dan langsung menuju dapur.

    “Bang Jo, sibuk ga?” Syarifah bertanya sambil melihat Jonathan yang tengah sibuk membuat minuman kopi.

    “Engga. Kenapa?” Jonathan menjawab sambil menyelesaikan adukan kopinya dan meminumnya sedikit.

    “Katanya Tika, Bang Jo bisa ngeramal. Aku minta diramal dong. Boleh?” Syarifah meminta dengan sopan.

    “Oh, boleh.” Jonathan menjawab datar lalu menarik kursi meja makan, dan duduk. Syarifah pun duduk di kursi dekat Jonathan.

    “Aku mau tahu ramalan buat besok dong, Bang.” Syarifah meminta. Siap untuk menyodorkan tangan atau apapun yang akan digunakan untuk diramal.

    “Besok?” Jonathan bertanya yang langsung dijawab dengan anggukan Syarifah dengan semangat. “Besok suram.”

    Syarifah diam. Ia sedikit kaget dan tidak siap dengan apa hasil ramalan Jonathan yang diucapkan dengan kalem.

    “Itu…peruntungan, cinta, atau apa Bang?” Syarifah meminta konfirmasi. Berharap bukan sesuatu yang buruk.

    “Overall sih.” Jonathan kembali menjawab singkat sambil minum kopinya lagi.

    Syarifah diam sejenak. Dadanya berdebar-debar, mengira-ngira apa yang akan terjadi di hari esok sehingga dia akan mengalami sesuatu yang suram.

    “Kalo boleh tau, gimana sih Bang Jo ngeramalnya?”

    “Gampang. Liat aja tanda-tanda langit sama keadaan saat ini.” Jonathan kembali menjawab dengan datar.

    Dada Syarifah semakin berdebar-debar. Gila, ramalannya udah pake tanda langit!

    “A-aku mau tau dong Bang, besok sebenarnya bakal kejadian apa sih kok diramal suram gitu…” Syarifah terbata-bata.

    “Oh.” Jonathan menyimpan kopinya di atas meja. “Besok ujan.”

    “Apa hubungannya?” Syarifah langsung bertanya lagi karena penasaran.

    “Ya dengan ujan, kan bikin suasana jadi gelap, trus jadi macet di mana-mana karena jalanan jadi rame dan kendaraan jalan pelan-pelan. Mood bisa rusak deh.” Jonathan menjelaskan dengan tenang.

    “Eng… Bang Jo, itu ramalan aku apa ramalan apa sih?” Syarifah makin penasaran.

    “Ramalan cuaca. Itu kan yang kamu pengen tau?”


  2. Short Story #261: Hadiah Ulang Tahun

    March 9, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Met ultah, ya Ben.” Rara mengucapkan selamat sambil memberikan sebuah bingkisan berukuran besar pada Beni.

    “Wah, makasih Ra. Gue ga nyangka lo inget sama ultah gue, pake acara ngasih kado segala lagi.” Beni menerima bingkisan sambil tersenyum.

    “Sama-sama, Ben. Mudah-mudahan lo suka sama hadiahnya. Gue spesial nyari hadiah sesuai request lo. Yaitu, mau hadiah yang emang lo butuhin.” Rara memberitahu sambil kemudian berjalan menuju kubikelnya yang berada di samping Beni. “Oiya, sekadar petunjuk, yang di dalamnya ini desain terbaru lho.”

    Di kubikelnya sendiri, Beni penasaran dengan bingkisan yang diberikan oleh Rara. Sehingga ia mengesampingkan sejenak beberapa dokumen yang tengah dikerjakan sebelum Rara datang tadi, lalu fokus untuk membuka bingkisan.

    Lapisan demi lapisan bungkusan Beni buka, dan…

    “RARAAA!” Beni berteriak tanpa mengalihkan pandangan dari isi bingkisannya. Rara langsung berdiri melihat ke Beni dari kubikelnya.

    “Kenapa, Ben?”

    Beni terengah-engah, lalu dengan sedikit gemetar membalikkan badannya ke arah Rara.

    “Maksud lo apaan nih ngasih ini ke gue?”

    “Lho, kan gue ngasih hadiah karena lo ultah. Udah gitu, hadiahnya juga sesuai request lo – harus yang emang lo butuhin.” Rara beralasan.

    “Ta-tapi…”

    “Itu gue nyarinya susah lho. Soalnya kan desain terbaru, jadi belom ada di mana-mana. Baru sebagian doang yang bisa buat.”

    Beni memegang isi bingkisannya sambil gemetar dan kehabisan kata-kata.

    “Dan itu udah customized sesuai nama dan juga tanggal lahir lo. Keren, ‘kan?” Rara menambahkan.

    “Ya tapi jangan batu nisan juga kali!”


  3. Short Story #260: Display Name

    March 2, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Hai, semalem temen-temenku ngeganti display name semua contact di hapeku. Bisa ga kamu jawab message ini dan kasitau ini siapa? Aku ga bisa identify karena ga hapal semua nomer hape. Makasih. – Dan.

    Sebuah pesan singkat baru masuk ke dalam ponselnya Mimi. Ia melihat pesan serta nama pengirimnya “Dan”, lalu sejenak terdiam sambil teringat beberapa hal yang telah lalu.

    Kepalanya sebenarnya enggan untuk menjawab pesan tersebut. Apalagi ia masih merasa sangat tidak enak dengan kejadian terakhir bersama Dan, tapi…

    “Apes banget, sih. Next time mungkin hapemu harus dikunci dengan sandi yang lebih canggih.” Mimi mengirim balasan pesannya. Tanpa nama. Tanpa menjelaskan siapa dia.

    “Well, makasih atas sarannya. Aku asumsi kamu salah satu temen programmerku?” Dan membalas lagi setelah beberapa menit.

    Mimi diam. Satu sisi ia senang bisa berkomunikasi lagi dengan Dan, tapi di sisi lain…

    “Nope. Jauh dari itu. Kita kontak lama, Dan.”

    “Oh.” Dan menjawab segera.

    “Aku Mimi, yang dulu jadi pacar kamu.” Mimi merespon tanpa lama setelah mendapat pesan yang sungguh pendek.

    “Oh.. Okay. Makasih. Berarti display name-mu di contact list hapeku masih sama.” Dan menjawab lagi.

    Rasa penasaran sekaligus rasa berharap seketika muncul di dalam diri Mimi. Ia berharap Dan memang tidak pernah lupa akan dirinya, dan masih menyimpan semua kontaknya.

    “Memangnya apa display name untukku?” Mimi bertanya lagi dengan mengirim pesan singkat.

    “Si Kampret.”


  4. Short Story #259: Hidup-Mati

    February 23, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “All those who live, shall die.” Maria menggumam pelan di dalam gelap.

    “Maria, hentikanlah ucapanmu itu.” Steffi merespon. “It’s not helping.”

    “What do you expect?” Maria langsung menjawab dengan nada suara meninggi. Dari balik gelap ia mendekati bagian ruangan yang disinari cahaya temaram lilin.

    “Aku expect kita semua bisa selamat.” Steffi menjawab segera. Emosi. Dadanya naik turun karena napasnya memburu.

    “Cut it out. Sekarang kalian berdua yang ga helping sama sekali.” Max ikut berbicara dari salah satu sudut ruangan.

    Maria dan Steffi sama-sama melihat ke arah Max yang memegang seorang anak. Lalu mereka kembali saling menjauh.

    “We need to get out from here. Find a better place to be safe.” Steffi berkomentar.

    “Iya, tapi tunggu sebentar lagi.” Max merespon.

    Seorang anak perempuan yang sedari tadi diam menarik tangan Max yang menggandengnya. Max menoleh, lalu berlutut.

    “Max, kalo semua yang hidup pasti mati, apa berarti yang ga hidup ga bakalan pernah mati seperti yang di luar sana itu?”

    Max diam sejenak. Berpikir.

    “Ga perlu mikir seperti itu, Manis. Yang terpenting adalah, kita harus cari tempat yang lebih baik supaya kamu aman.” Max menjawab.

    Diterangi api yang terus bergoyang dari lilin yang mulai memendek, anak perempuan itu melihat Max kelelahan. Ia juga melihat Steffi mulai putus asa sementara Maria lagi-lagi berada di dalam gelap.

    Tapi setidaknya itu penglihatan yang lebih baik untuk ia lihat, ketimbang makhluk-makhluk yang dulunya manusia di luar ruangan tempat mereka berlindung saat ini. Berarak-arak mencari sesuatu untuk memenuhi nafsu yang tersisa dari onggokan daging bertulang: LAPAR.


  5. Short Story #258: Nobody

    February 16, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Ga pernah terlintas sedikitpun di pikiranku dulu, kalo aku bakal seperti ini sekarang.” Joko bergumam sambil merapikan setelan yang sudah ia kenakan sejak beberapa jam yang lalu.

    “Emang yang sering terlintas di pikiranmu, apa tho Mas?” Ana bertanya sambil melihat suaminya dari pantulan cermin tempatnya berias.

    “Ya bukan ini.” Joko menjawab. Singkat.

    “Yang bukan ini tuh, apa coba.” Ana merespon lagi. Sedikit usil. “Mosok ga ada penjelasannya.”

    Joko tersenyum. Ia selalu menyukai respon Ana yang seperti itu. Respon yang membuatnya tertarik untuk menikahi wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.

    “Yang sering terlintas dalam pikiranku ya aku ga bakal jadi siapa-siapa. I’m not somebody. I’m just a nobody.” Joko memberitahu.

    Ana berhenti sejenak dari kegiatan meriasnya, kemudian berbalik menatap lelakinya.

    “Nobody?”

    “Iya.”

    Ana tersenyum. Lalu berdiri dan mendekati Joko yang sedang berdiri menatapnya.

    “Mas, aku pernah baca di mana gitu soal nobody ini.” Ana mulai menjelaskan. “Nobody can unite people. Nobody can give bright lights for all of the people. Nobody can ensure that tomorrow will be better.”

    Joko terdiam. Coba meresapi kata-katanya.

    “Dan, from nobody will be somebody. Somebody that will be important, to make sure what nobody could do will be done.” Ana menambahkan.

    Joko diam. Ada semacam getaran di dadanya yang tak bisa ia jelaskan. Yang ia tahu, ia harus menjadi somebody.

    “Aku baru ingat ada yang lebih sering terlintas di pikiranku selain soal nobody itu.” Joko memberitahu setelah beberapa saat ia dan Ana hanya saling menatap.

    “Opo?”

    “Ya kamu, lah.”

    Ana tersenyum kecil. “Ah Mas ini bisa aja. Wis tho, udah ditungguin banyak orang ini.”

     

    NB: Kesamaan nama dan alur, adalah rekaan semata.