Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan. “Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi. “Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem. “Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas… Read Article →

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus. Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut. “Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari… Read Article →

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan. “Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik. “Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu. Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya. “Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.” “Tapi beda denganku, ‘kan?” Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.” “Kenapa?” Panji diam lagi…. Read Article →

Diego melihat selembar kertas di tangannya untuk kesekian kalinya. Informasi yang tertera di sana masih sama. Bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa studi di Eropa. Tapi, ia bimbang. “We’ll be just fine.” Santi memberitahu. Menguatkan. “Yang kamu maksud kita, apakah hubungan di antara kita berdua atau masing-masing kita dengan mereka?” Diego bertanya sambil… Read Article →

Martha baru saja masuk ke dalam apartemen ketika Guntur keluar dari kamarnya, lalu tas punggung di kursi ruang tamu. Tepat di atas dua buah koper beda ukuran di bawahnya. “Udah bulat?” Martha bertanya sambil mengunci pintu lalu menuju dapur kecil. “Ya.” Guntur menjawab sambil melihat lagi ke barang-barangnya. “Udah semuanya?” “Yang bisa kubawa, iya.” “Jadi… Read Article →

Scroll To Top