Rss Feed
  1. Short Story #230: Letting Go

    April 21, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Mendingan kamu relain aja deh.” Frans memberitahu Sofia yang sudah beberapa hari masih enggan untuk bersuara. “Dia ga pantes kamu tangisin gini.”

    Sofia menoleh sejenak ke Frans, lalu kembali melihat ke arah jendela kamarnya yang tertutup. Walau begitu, sinar mentari menerobos kisi-kisi penutup jendela sehingga menciptakan garis-garis cahaya.

    “Jangan sampe hidup kamu sia-sia buat nangisin orang yang belum tentu peduli sama kamu.” Frans kembali memberi saran.

    Sofia sedikit menggerakkan tubuhnya dengan enggan. Ia masih enggan menghadap Frans yang setiap hari selalu mengunjunginya di dalam kamarnya yang temaram karena lampu selalu ia matikan.

    Frans mengusap pundak Sofia pelan-pelan. Hatinya hancur mendapati Sofia dalam kondisi seperti ini sejak beberapa hari terakhir. Tepatnya, sejak Sofia mengetahui bahwa lelaki yang telah memacarinya selama beberapa tahun, akhirnya menikah dengan orang lain tanpa informasi apapun sebelumnya. Tanpa pemberitahuan atau ajakan putus.

    “Kamu perlu inget kalo masih banyak orang yang perhatian sama kamu. Sayang sama kamu.” Frans kembali berusaha memberi semangat. “Termasuk aku.”

    “Aku tahu.” Sofia akhirnya menjawab. Suaranya parau.

    “Kalo gitu, kenapa kamu masih begini?” Frans bertanya lagi.

    Sofia diam kembali. Ia kembali bergerak, kali ini mendekati jendela. Membelakangi Frans.

    Beberapa menit larut dalam hening. Frans hanya bisa memandangi Sofia dari belakang, tanpa berani untuk mendekati dan menyentuhnya kembali.

    “Mulai besok, kaya’nya aku ga bisa ke sini lagi, nemuin kamu.” Frans memberitahu sambil bersiap untuk pergi.

    “Kenapa?” Sofia bertanya lagi dengan suara parau dan masih tak mau menghadap Frans.

    “Karena aku punya prinsip, dan aku mau jalanin prinsip itu.” Frans memberitahu sambil mendekati pintu kamar Sofia dan membukanya. “I’m going to find my own happiness.”

    Sofia diam.

    “Sometimes letting something go will give you everything. Because sometimes, the best way is to let it go, and happiness will come.” Sambil melangkah keluar kamar, Frans menghela napas. “And I’m letting you go.”

    Sofia memejamkan matanya saat kemudian pintu kamarnya terdengar menutup.


  2. Short Story #229: My Best

    April 14, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “I think we need a break.” Samuel memberitahu.

    Ajeng yang sedari tadi hanya berdiam diri di sampingnya, menoleh. Seharusnya ia terkejut, tapi ia merasa biasa saja. Ia tahu, Samuel akan berkata demikian.

    “Kita atau kamu?” Ajeng memastikan.

    Samuel balas menatapnya.

    “Ayolah, ‘Jeng. Kamu pasti tahu kondisi kita lagi ga baik. Daripada berujung ke sesuatu yang kita sesali bersama?” Samuel menjawab dengan pertanyaan.

    “I’ll take it as you need a break.” Ajeng berkomentar. “Ga usah berdalih, deh.”

    Ajeng kemudian melenggang menuju dapur apartemen. Membiarkan Samuel tetap duduk di kursi sofa ruang tamu.

    Semenit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam berlalu dan Ajeng masih berdiam diri di dapur. Hampir tak melakukan apa-apa selain berdiri di dekat meja kecil dan menunggu.

    “Kalo aku beneran perlu break, apa itu salah?” Samuel bertanya sambil berjalan mendekati Ajeng di dapur.

    “Dan kamu butuh tiga puluh menit buat ngasih aku pertanyaan itu?” Ajeng balik menjawab dengan pertanyaan.

    Samuel mengangkat tangannya sambil menghela napas. “Ayolah, Jeng. Inilah alasannya kenapa aku pikir kita butuh break.”

    “Karena kamu selalu butuh waktu untuk bertindak?” Ajeng mulai meninggikan nada suaranya. Sebelah tangannya di pinggang, sementara sebelah lainnya mencengkeram pinggiran meja.

    “Aku butuh waktu untuk berpikir, Jeng!” Samuel berteriak.

    “Untuk kemudian minta break?!” Ajeng juga berteriak.

    Samuel sudah mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, beberapa kata umpatan sudah berada di ujung lidahnya untuk kemudian ia lontarkan. Tapi…

    “Kita break dari sekarang.” Samuel kemudian berbalik menuju ruang tamu. Bersiap pergi.

    “Fine.” nada suara Ajeng masih tinggi. “…untuk jangka waktu yang tak ditentukan.”

    Samuel berhenti sejenak sambil memakai jaketnya. Ia hendak merespon lagi, tapi ia urungkan.

    “I’ll be back when you’re better than this.” Samuel memberitahu dengan nada suara pelan sambil kemudian membuka pintu.

    “Ga usah balik sekalian!” Ajeng kembali berteriak. “If you cannot handle me on my worst, you don’t deserve me on my best!”

    PRANG! Sebuah piring pecah menabrak pintu yang menutup.


  3. Short Story #228: Universe

    April 7, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Film Hollywood kadang ga masuk akal, deh.” Santi berkomentar setelah keluar dari salah satu studio bioskop. Ia baru saja selesai menonton film superhero Amerika rilis terbaru.

    “Ya namanya juga film, sah-sah ajalah apapun yang terjadi.” Adam, salah satu cowok yang jadi teman dekatnya berkomentar.

    “Emang sih, tapi tetep aja ga masuk akal.” Santi menambahkan. Mereka masih berjalan bersama keluar bioskop.

    “Yang penting kan filmnya laku. Trus, lo juga nonton kan?”

    “Gue nonton film lebih karena penasaran, bukan karena ngefans sama filmnya.” Santi berhenti. Dahinya berkerut dan tampangnya serius.

    “Tetep aja, itu nonton.” Adam yang ikut-ikutan berhenti lalu berdiri di sampingnya, kembali berkomentar.

    “Hhh.. beda emang sih cara pikir kita, Dam.” Santi mulai kembali berjalan. “Dan gue masih heran aja gitu kenapa kita bisa temenan dari dulu.”

    “Mungkin karena beda itu, sih San.” Adam langsung menimpali. “Liat aja… Selama ini siapa sih yang sanggup tahan lama sama lo kalo ga beda sama lo?”

    “Maksud lo?” Santi kembali berhenti. Mereka sudah berada di luar bioskop dan berada di salah satu lantai mal.

    “Well.. coba lo inget-inget aja siapa yang katanya sepemahaman dan sepikiran sama lo, trus masih sama lo?”

    “Gue ga ngerti pertanyaan lo, dan ga tau arah pembicaraan ini ke mana.” Santi berkomentar.

    Adam bergeser ke depan Santi hingga ia bisa langsung bertatapan dengan Santi.

    “Michael, Razak, Hans? Mereka masih sama lo ga sampai saat ini?”

    “Kenapa lo malah nyebutin semua mantan gue?” Santi makin tak mengerti.

    “Gue kan nanya sesuai topik awal tadi, beda cara pikir.” Adam memberitahu.

    Santi diam sejenak. Ia melihat Adam di depannya yang sepertinya hendak memberitahunya sesuatu, tapi ia tak bisa menangkap apa maksudnya.

    “Dam, kita ga di universe yang sama deh, kayanya. Gue sama sekali ga ngerti.” Santi siap untuk berjalan lagi ketika Adam memegang pergelangan tangannya.

    “Gue harus di universe yang mana buat lo, supaya lo tau kalo gue sayang banget sama lo?” Adam bertanya.


  4. Short Story #227: Try

    March 31, 2014 by Billy Koesoemadinata

    Vivi bolak-balik membuka laporan yang sedari tadi ia pegang. Ia mencari-cari sesuatu, sebuah permintaan yang pernah ia lakukan dulu, tapi belum ia dapatkan di laporan yang ia dapatkan. Sejenak kemudian, ia menghela napas, lalu melihat sejenak ke jendela besar di ruangan kantornya.

    “Tok-tok.” pintu ruangannya diketuk.

    “Aku selalu tau kalo kamu yang datang, ‘Za.”

    “Oh ya?” Reza berjalan santai masuk ke dalam ruangan Vivi, sebelah tangannya masuk ke dalam saku celananya. Menggenggam sesuatu. Ia lalu berhenti di tengah ruangan, tepat di depan meja Vivi yang masih melihat ke luar ruangan. “Dari mana kamu tau?”

    “Cuma kamu yang masih aja ngetok pintu ruangan aku, walaupun pintu aku selalu terbuka.” Vivi memberitahu sambil kemudian melihat ke arah Reza.

    “Oh ya?”

    “Iya, cuma kamu yang begitu. Bahkan asistenku sendiri sudah kubilang untuk langsung saja memanggil namaku jika pintu terbuka – yang sepertinya selalu ia infokan ulang ke semua orang di kantor sini jika hendak bertemu denganku.”

    “Well, setauku ga ada yang seberani aku sih kalo mau langsung ketemu kamu.” Reza berkomentar. Ia berjalan mendekat ke arah kursi di depan meja Vivi, lalu bertumpu pada salah satunya.

    “Maksudmu?” Vivi penasaran.

    “Ya.. mereka sepertinya segan, dan lebih memilih untuk menemuimu melalui asistenmu.”

    “Mungkin. Udah lama aku curiga begitu sih.” Vivi memberitahu. “Bahkan sepertinya keseganan mereka ga cuma perihal buat ketemu aku, tapi juga soal laporan.”

    “Apa maksudmu?” kali ini Reza yang penasaran.

    “Ini, baca deh.” Vivi menyodorkan berkas laporan yang tadi tengah dibacanya, lalu kembali melihat ke arah luar jendela. “Coba kamu kasitau aku kalo kamu nemu profiling yang pernah aku request di meeting kantor dulu.”

    Reza membuka-buka laporan yang tadi ia dapat dari Vivi. Matanya belum melihat kejanggalan sampai beberapa halaman terakhir.

    “Aku ga liat profiling lengkap yang pernah kamu request-”

    “Nah kan.” Vivi langsung berkomentar.

    “-Tapi aku juga liat notifikasi soal profiling ini di halaman-halaman belakang.” Reza melanjutkan.

    “Masa?” Vivi langsung kembali menoleh ke arah Reza yang sudah menyodorkan kembali laporan tadi ke arahnya, dengan dibuka pada halaman-halaman terakhir.

    Vivi lalu membaca persis di halaman yang Reza tunjukkan tersebut.

    “Well, you just saved someone’s job.” Vivi berkomentar sambil melihat kembali ke Reza yang tersenyum kecil.

    “Just like old days, huh?”

    “Bedanya, dulu kerjaanku yang kamu selametin.”

    “Ya… waktu kan terus berjalan, dan sekarang kamu bisa lebih maju dan bahkan setara denganku.” Reza berkomentar.

    “Memang, waktu berjalan dan berbagai hal berubah.”

    “Beberapa engga, sih.” Reza langsung bereaksi, lalu diam. Giliran ia yang menatap ke luar jendela sambil masih berdiri dan menumpukan sebagian tangannya ke kursi di depan Vivi.

    “Are we good?” Vivi penasaran, ia bertanya dari kursinya.

    Hening sejenak.

    “Yeah, we’re good.” Reza akhirnya menjawab sambil tersenyum kembali.

    “Great then.” Vivi lalu menyimpan laporan yang tadi ia baca ke meja.

    “By the way, just because you do not feel or see the results, doesn’t mean other people didn’t try hard enough to make it.” Reza memberitahu sebelum kemudian berjalan ke arah pintu ruangan Vivi.

    “Sepertinya pernah kudengar..” Vivi mengangkat sebelah alisnya sambil melihat kepergian Reza.

    “Kamu yang bilang begitu padaku, dulu.” Reza menjawab tanpa membalikkan badannya, lalu berbelok dan menghilang di luar ruangan Vivi.


  5. Short Story #226: Worst Thing

    March 24, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Kamu serius sama ucapanmu ini, Guh?” Icha bertanya. Memastikan yang didengarnya baru saja tak salah arti.

    “Iya. Aku serius.” Teguh menegaskan. “Aku selalu serius dengan ucapanku, ‘kan.”

    “Dan ga bakalan kamu tarik lagi?”

    “Aku ga pernah narik ucapanku. Yang ada, aku hanya mengubah pikiranku dan mengubah keputusanku. Seperti saat ini.”

    Icha berdiri dari duduknya. Ia berjalan bolak-balik di sekitar samping Teguh. Sesekali kepalanya melihat ke langit-langit ruang tengah apartemen.

    “Tapi, bukannya kamu ga pernah seperti itu? Mengubah keputusanmu?” Icha tak yakin. Ia berhenti dan menunggu jawaban Teguh.

    “Untukmu, aku rela melakukannya.” Teguh memberitahu. “Untukmu, aku rela melakukan apapun agar kau bahagia.”

    Dahi Icha berkerut. “Apa hubungannya dengan kebahagiaanku? Dari mana kamu tahu apa yang membuatku bahagia?”

    Teguh mengubah arah duduknya sehingga mengarah ke Icha yang sedang berdiri menghadapnya. Tangannya meraih tangan Icha, lalu menggenggamnya.

    “Cha.. I’m your husband. I know you even though you deny it.”

    Icha diam. Matanya melihat ke arah Teguh yang melihat balik ke arahnya.

    “Bagaimana jika aku ga balik lagi? Kamu ga bakal nyesel udah ngebiarin aku pergi?” Icha bertanya.

    “Aku bohong kalo bilang ga bakal nyesel.” Teguh menjawab dengan tenang. “Tapi, seenggaknya aku tahu kalo kamu bahagia dengan keputusanmu untuk pergi.”

    Icha kembali diam.

    “And whatever makes you happy, I’m happy.” Teguh menambahkan.

    Icha semakin diam. Tangan Teguh ia lepaskan agar ia bisa berbalik dan mengangkat kepalanya ke arah lampu dengan harapan bisa menahan agar air matanya tak lekas jatuh melintasi pipinya.

    Teguh menunggu. Ia lalu berdiri, berusaha mendekati Icha, hendak memeluknya tapi kemudian ia tahan. Ia hanya berdiri di belakang Icha yang masih membelakanginya, sedekat mungkin yang ia bisa.

    Teguh kemudian mendekatkan kepalanya ke samping kepala Icha. Mendekatkan mulutnya ke telinga Icha.

    “Cha, you should know that.. I thought the worst thing ever in my life is to see you go. But then I realize, seeing you unhappy is worse than that.” Teguh berbisik.