Short Story #327: Dalam Kebenaran

“Fixed. Gue ga bakal lagi ngedukung dia.” Jose menyimpan koran kampus yang sedari tadi dibacanya ke meja dapur.

Rizal, teman sekosnya yang baru habis makan siang di dapur, mengambil koran tersebut, lalu membaca perlahan.

“Trus, nyesel?”

“Ah, udah pasti itu sih.” Jose menjawab cepat sambil kemudian mendengus. Tampaknya ia kecewa sekali dengan subjek berita yang ia baca tadi.

Rizal menyimpan korannya, lalu mulai membakar rokok dan ia hisap.

“Pasti banyak orang yang bakal reaktif sama berita itu.” Rizal mengomentari sambil mengepulkan asap.

“Maksudmu pro dan kontra?”

“Ya tipikal politik lah.” Rizal memberitahu. “Sedikit banyak, proses yang selama ini kamu ikutin soal dia kan bagian dari pembelajaran politik.”

“Aku ga percaya kamu ngomong gitu.”

“Karena itu kenyataan?”

“Bukan, karena keluar dari mulutmu yang selama ini terkesan abai, apatis, ga peduli sama kehidupan kampus.” Jose mengambil minum, menyegarkan tenggorokannya.

“Hehe.. berarti pencitraanku berhasil.” Rizal terkekeh. “Anyway, kalo emang kamu peduli dan simpatik sama yang dia kerjain, yang dia visikan untuk kampus, harusnya kamu ga langsung percaya sama berita ini, lah.”

“Tapi ini ditulis di koran kampus! Kalo ga ditulis, mungkin selamanya aku ga bakal tau kalo ternyata dia bobrok juga.” nada suara Jose sedikit meninggi.

Rizal mengembuskan asap rokoknya dengan santai. “Setiap orang ga ada yang sempurna, sih setauku.”

“Tapi kenapa dia harus punya kesalahan yang sama dengan yang lainnya?”

“Balik lagi, politik. Kamu sendiri yang pernah bilang kan, dalam politik pasti segala macam dikupas dan yang harusnya objektif jadi subjektif.” Rizal menjelaskan. “Lagipula, kamu juga berarti ga beda jauh sama yang lain, berusaha untuk objektif ketika menyerang yang ga kamu suka, tapi langsung subjektif terhadap hal yang kamu suka.”

“Lagi-lagi.. aku ga percaya dengan pendengaranku.”

“Ketika kamu tahu kalo ga ada yang sempurna, maka kamu pilihlah yang kesalahannya paling sedikit.” Rizal meneruskan. Mengabaikan komentar Jose. “Apalagi, orang awam mudah banget ngeliat kesalahan orang lain, ketimbang kebenaran yang sudah dia kerjakan.”

“Tapi kenapa orang lebih mudah ngeliat sebuah hal-hal yang salah, daripada hal-hal benar yang terjadi?”

“Karena mereka hidup dalam kebenaran, bukan sebaliknya.” Rizal menutup sambil mematikan rokoknya.

 

NB: short story ini tidak bertujuan untuk mendukung atau tidak mendukung salah satu calon kepala daerah pada proses pilkada.

Long John, Penyelamat agar Tetap Hangat Kala Traveling ke Negeri Musim Dingin

Pernah jalan-jalan ke negeri 4 musim saat winter (musim dingin)? Pernah ngalamin kedinginan karena badai salju? Atau lagi siap-siap buat bepergian ke negeri 4 musim saat winter? Lebih baik baca dulu postingan ini.

Sebagai makhluk tropis — manusia yang terbiasa dan lama tinggal di iklim tropis, tentunya terbiasa juga untuk selalu hangat hampir setiap saat. Kalaupun kedinginan, biasanya ga lebih saat naik gunung, tinggal di sekitar gunung, dan atau lagi hujan lebat. By default, makhluk tropis hampir ga pernah ngalamin yang namanya salju dan atau suhu di bawah 10 derajat Celcius, atau bahkan di bawah 0 derajat. Tapi karena satu dan lain hal — salah satunya karena kesempatan, harus gimana kalo pergi ke negeri 4 musim saat musim dingin yang suhunya bisa mendekati nol dan atau terkena salju?

Long John

Long John. sumber: https://fitinline.com/article/read/long-john/

Jaket tebal, baju dan pakaian tangan panjang, sampai dengan berlapis-lapis pakaian hangat dan kaos kaki pasti jadi pilihan utama untuk melengkapi perjalanan tersebut. Meski begitu, cara tersebut kurang praktis dan kalo diterapin bisa jadi bikin susah bergerak — karena berlapis-lapis pakaian tersebut. Ada cara yang lebih praktis, yakni dengan menggunakan long john — juga dikenal sebagai long underwear.

Wikipedia: Long underwear, also called long johns or thermal underwear, is a style of two-piece underwear with long legs and long sleeves that is normally worn during cold weather. It is commonly worn by people under their clothes in cold countries. sumber: di sini

Saya pertama kali mengenal long john di tahun 2007 lalu. Singkat cerita lagi penugasan di Tiongkok (China) di saat winter. Penugasan tersebut butuh banget interaksi di luar ruang (outdoor) dan atau ruangan yang tanpa pemanas — karena kebutuhan teknis. Sebagai makhluk tropis, saya awalnya sedikit kewalahan. Kurang lebih seminggu pertama, saya pake pakaian berlapis-lapis, termasuk kaos kaki. Alhasil, susah gerak dan masih kedinginan pula meski udah pake jaket tebal! Kemudian ada salah satu kolega kerjaan bilang “Harusnya pake long john dulu jadi daleman.”

Pergilah saya ke salah satu hipermarket besar, dan beli 2 setel long john. Pertamanya agak sangsi dengan penampakannya yang lebih seperti pakaian dalam ketat, tapi ya karena udah ga tahan dingin akhirnya dicobalah. Jadi, long john digunakan di atas pakaian dalam, lalu dilapis pakaian kasual (kaos, celana panjang, kaos kaki), baru kemudian sweater (kalo suka pake), jaket dan sepatu. Masih berasa dingin sih, tapi seenggaknya udah ga susah gerak dibanding pake pakaian berlapis-lapis.

Pengalaman lain dengan long john sang penyelamat agar tetap hangat terjadi medio 2013-2014 lalu. Seperti pernah dibaca di sini juga (mungkin), saya ke Korea dan Jepang pas lagi musim dingin. Berhubung long john yang saya beli taun 2007 lalu sudah wassalam entah ke mana, akhirnya beli baru di ITC Kuningan. Lagi-lagi, sangsi karena produknya (dijual) dalam negeri. Tapi karena udah butuh, akhirnya beli dan dibawa-lah ke Korea dan Jepang. Hasilnya? Mayan anget, sama seperti waktu di Tiongkok (China) dulu. Malah pernah saya iseng ngetes pada saat pulang long john ga saya lepas sampe turun di bandara Jakarta. Hasilnya? Keringetan segede biji jagung. :lol:

Long john ini punya beragam warna (harusnya), juga ukuran. Jadi kalo mau beli, carilah yang sesuai dengan ukuran badan. Soalnya kalo kekecilan atau kegedean, ya jelas ga bakal maksimal jaga hangatnya. Selain itu, sebagian besar long john punya lengan yang panjang, kalo pake kaos (T-shirt) tangan pendek jadi kaya’ kepanjangan gitu. Ga perlu risau atau misleuk (mislook), karena di luar negeri sana juga banyak kok yang begitu. Lagipula, pilih kedinginan (karena ga pake atau lengannya long john dipendekin), atau berasa aneh? Saya sih, pilih ga berasa aneh juga ga kedinginan (soalnya dilapis sweater lagi :lol: ).

Nah, berhubung sekarang udah November dan di negeri 4 musim lagi autumn (musim gugur) dan akan masuk ke winter (musim dingin), yang lagi berniat buat jalan-jalan ke sana karena penasaran dengan salju, mending nyiapin long john dari sekarang. Udah banyak yang jual sih harusnya, apalagi e-commerce udah menjamur. Jadi ga perlu takut susah nyarinya. :) Dan kalo misal takut gerah pas berangkat, ya simpenlah di tas yang dibawa ke kabin. Jadi begitu turun dari pesawat, bisa langsung ganti — atau ganti di toilet pesawat sebelum landing.

Short Story #326: Deserve

Mochtar tak mempercayai penglihatannya. Lidahnya seakan membeku, kelu. Meski begitu dadanya berdegup kencang. Ia seakan-akan kembali ke peristiwa dua tahun yang lalu. Di tempat yang sama, meski di kota yang berbeda.

Perlahan, ia coba untuk tak mengindahkan perasaannya. Coba ia acuhkan. Tapi…

“Mas Mochtar, kamu sekarang tugas di sini?” suara lembut wanita menyapa dari sudut terjauh matanya.

Mochtar berlagak kaget. Ia menyetel mimik mukanya agar terlihat heran sambil memalingkan muka ke arah suara.

“Eh, Mala.” ucapnya pelan. Sesuatu yang kemudian ia sadari salah. “Iya, aku tugas di sini. Coincidence banget ya bisa ketemu di sini.”

Mochtar mendekati Mala, tapi ia tak duduk dan hanya berdiri di depannya. Sedikit canggung, Mala pun kemudian berdiri.

“Apa kabarmu, Mas?”

“Baik, kamu sendiri?”

“Seperti bisa kamu lihat.” Mala menjawab cepat. Lalu tersenyum. Dan Mochtar pun kembali terkenang nostalgia.

“Mau ke mana lagi dari sini?”

“Maluku.”

“Ga pulang?”

“Nanti, setelah tiga tempat lagi dari Maluku.”

“Ceritanya, kamu perjalanan dari timur ke barat?”

“Ya.. begitulah.” Mala menjawab dengan mimik ramah.

Lalu hening. Mochtar berpura-pura melihat boarding pass-nya yang sudah ia pegang sejak dari loket check-in tadi.

“Pesawatmu ke mana?”

“Makassar.” jawab Mochtar datar.

“Lanjut tugas atau pulang?”

“Aku pulang. Istirahat dulu. Mumpung dikasih off.” Mochtar memberitahu.

“Kapan-kapan kita ngopi lah ya. Catching things.” Mala menawarkan.

“Ya.. boleh.” Mochtar menjawab agak ragu. “Tapi lebih baik ga usah, sih.”

Raut muka Mala berubah. Mochtar pun menyadari dan buru-buru coba memperbaiki.

“Eh, bukan karena aku ga mau ngobrol ya.”

“Kamu udah berkeluarga?” Mala penasaran.

“Maunya, sih.” Mochtar cepat menjawab. “Tapi.. aku cuma ga mau keingetan lagi hal-hal lama.”

“Maksudmu? Don’t we have good memories?”

Mochtar menarik napas sekejap.

“Aku takut keingetan lagi rasa sakit pas kamu memutuskan untuk pergi.” Mochtar memberitahu.

Mala terdiam. Mukanya menyiratkan penyesalan.

“I left because you deserve better, Mas.” Mala memberitahu.

“I don’t. I just need you, then I’ll be better.” Mochtar memberitahu.

Short Story #325: Not Broken

“Sampai kapan kita mau begini?” Arya bertanya.

Gita, pasangannya yang tengah berada di sampingnya menoleh. Mengabaikan pemandangan langit malam yang tengah ia nikmati sedari tadi.

“Maksudnya?”

“Iya, begini. Seperti ini.”

“Kamu ga konkrit.” Gita berkomentar santai lalu menatap langit lagi.

“Hubungan kita, mau kapan seperti ini?” Arya meneruskan.

Gita diam sejenak. Angin malam berhembus. Kencang. Tipikal angin laut.

“Emangnya ada yang salah? Setauku ga ada.” Gita menjawab sambil coba meraih tangan Arya untuk dipeluk, tapi…

“Aku mau hubungan kita ke jenjang selanjutnya.” Arya sedikit menjaga jarak.

“Kenapa?”

“Karena sudah seharusnya.” Arya memberitahu.

“Lagi-lagi, kamu ga konkrit. Kalo kamu bilang karena umur, aku masih bisa paham.”

“Sejak kapan cinta harus konkrit? Kadang kan emang ga perlu rasio buat ngertiin sesuatu dalam sebuah hubungan?”

Gita diam kembali. Sudah lama sepertinya sejak terakhir kali ia memperbincangkan hal serius dengan Arya. Ia mengingat-ingat, terakhir kalinya adalah… saat ia setuju untuk menerima permintaan Arya menjadi pasangannya.

“Tapi kamu tahu kan sejarahku tentang hubungan dan percintaan?”

“Justru karena aku tahu…” Arya menjawab. “Aku bisa saja bertekuk lutut sekarang juga untuk memintamu lagi, kali ini ke sebuah hubungan yang lebih serius. Tapi, kamu kan selalu penuh dengan pertimbangan dan juga perlu hal yang konkrit.”

Gita diam lagi. Ia tahu bahwa Arya benar. Tapi…

“Kenapa kamu ga pengen hubungan kita seperti ini aja? Nyaman, ‘kan? Nothing is wrong. Nothing is broken.”

“Just because something is not broken, doesn’t mean we don’t need to fix it.” Arya menjawab.

“In contrary, you don’t need to fix something that is not broken.” Gita merespon.

Lalu hening. Hanya terdengar deburan ombak malam yang dibelah oleh kapal pesiar.

Short Story #324: Rapuh

“Butuh waktu berapa lama lagi sampe lo bisa kaya’ dulu?” Rangga bertanya.

“Maksudnya?” Jacky menjawab bingung sambil menyimpan pensilnya ke meja gambar.

“Ya.. kaya’ dulu lagi. Excited. Energik. Hidup!” Rangga bertanya lagi sambil menyandarkan badannya ke sisi meja gambar Jacky.

“Eng.. emangnya sekarang gue ga hidup? Excited dan energik kaya’nya lebih ke persepsi pula, sih.” Jacky menjawab santai.

“Hhh…” Rangga menutup mukanya. “Lo berubah sejak jadi jomblo lagi, Jack.”

Jacky mengangkat alisnya sebelah. “Yaelah.. bahas itu lagi.”

“You are wasting time on your jomblo stats, Jack!” Rangga memberitahu sambil mengguncang-guncang pundak Jacky.

Jacky tersenyum. “Thanks bro. Somehow, kelebayan lo yang bikin gue nyadar kalo gue masih idup.”

“Siaaaaalll.. gue serius, inih!” Rangga gemas. “Lo mau gue kenalin ke cewek mana lagi? Anak kuliahan? Anak perpus? Geeky? Smart? Sensual? Bilang aja brooo..”

Jacky tertawa.

“Udahlah, Ga. Ga demen gue sama semua cewek yang lo kenal. Beda orientasi.”

“Maksudnya, orientasi lo udah bukan ke cewek lagi, tapi ke……” Rangga menyambar sambil diam-diam menjauh sedikit.

“WOY!” Jacky menebak yang di pikiran Rangga sambil kemudian menonjok bahunya. Untungnya, studio gambar sedang sepi saat itu, jadi teriakan kaget Rangga tidak mengganggu pengguna lainnya.

“Udah deh, ntar malem ikut gue, yak. Udah lama sejak terakhir kali lo ikut gue jalan kan?”

“Nope. Gue mau kelarin gambar ini dulu.” Jacky menolak dengan mengambil pensilnya lagi. Bersiap untuk kembali mendesain.

“Deadline-nya masih lama, bro.”

“I know. Tapi mayan lah buat ngisi waktu.”

“Nah nah.. bener kan, lo wasting time on your jomblo stats!” Rangga mengulang. “Mending cepetan cari cewek lagi deh sama gue.”

“Hahaha.. thanks but no thanks.” Jacky memberitahu sambil coba ambil posisi serius lagi.

“Ah.. lo ga asik ah.” Rangga mulai beranjak.

“Eh, Ga!” Jacky memanggil dan Rangga berhenti melihat ke arahnya. “Buat gue, nyari cewek itu kaya’ main bola, tau. Percuma aja nyerang dengan cara nyari mulu, kalo ternyata pertahanan alias hatinya masih rapuh.”

“Giling.. untung gue bukan cewek, kalo iya bisa udah kelepek-kelepek dah denger kalimat tadi.”

Lalu keduanya tertawa dan melanjutkan kegiatan masing-masing.