RSS Feed
  1. Supaya Kiriman CV/Resume Ga Langsung Dibuang

    September 18, 2014 by Billy Koesoemadinata

    lowker internship

    Iklan lowongan/vacancy seperti ilustrasi di atas, pasti udah pernah diliat dalam ragam bentuk/jenis/Bahasa lainnya. Isinya kurang lebih sama, ngasih info bahwa saat ini sedang dibuka lowongan dan ke mana harus ngirim surat lamaran/CV/resume.

    Saya pribadi, udah pernah bikin iklan seperti ilustrasi di atas lebih dari sekali. Dan, kalo soal ngerespon iklan lowongan seperti di atas, kayanya lebih banyak daripada bikin iklannya. :p

    Intermezzo dikit: kalo soal lowongan gitu, sebagian besar dari kita pasti berharap-harap (cemas) bahwa SDM yang dicari sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pengiklan. Sukur banget kalo cocok dan fit to the team/job, dan bagai musibah kalo ternyata out of the league.

    Anyway, balik lagi ke soal iklan lowongan dan juga berkaitan sama judul, saya pribadi bakal ngebahas hal ini dari 2 sisi sekaligus. Pertama, sebagai pengiklan, kedua sebagai yang merespon iklan tersebut.

    Satu-satu ya…

    Sebagai pengiklan: saya berharap iklan lowongan/vacancy saya cukup jelas memberikan informasi tentang yang saya butuhkan dan saya tawarkan.

    Harapan sederhana: mendapat kandidat yang sesuai untuk lowongan tersebut.

    Harapan yang ga sederhana:

    -          Dapat banyak kandidat yang bakal bikin saya pusing buat milihnya.

    -          Dapat database.

    -          Dapat bakat terbaik yang fit to the job and the team.

    Sekarang, sebagai perespon: saya berharap iklan lowongan/vacancy tersebut sesuai dengan kebutuhan saya saat merespon, yakni butuh kerjaan/duit/penghidupan/kesibukan, dan seterusnya. You name it.

    Harapan sederhana: saya di-hire.

    Harapan yang ga sederhana:

    -          Saya kandidat terbaik.

    -          Saya kandidat yang beruntung.

    -          Lowongan tersebut jadi pembuka rezeki selanjutnya, dan siapa tau jadi karir. *halah*

    Nah, untuk mencapai harapan dari kedua belah pihak (baik sederhana maupun engga) itu ada satu langkah penting yang kadang kelewat atau diabaikan. Bukan soal seberapa serius pekerjaan yang sedang ditawarkan, melainkan seberapa serius si pelamar/SDM melamar pekerjaan yang ditawarkan. Dan langkah tersebut adalah pengiriman lamaran/CV/resume.

    Yep, pengiriman lamaran/CV/resume adalah salah satu bagian vital dalam proses rekrutmen SDM. Personally – sebagai pengiklan, saya mengharapkan lamaran/CV/resume yang saya terima tak hanya bagus, tapi juga diantarkan dengan penuh kebanggaan. Yep, ngeh kan saya ngasih huruf tebal di bagian mana?

    Dan masih personally pula – sebagai perespon iklan, saya mengharapkan lamaran/CV/resume yang saya kirim dibaca lengkap dan jadi pertimbangan utama buat di-hire. Yang ga langsung dibuat gitu. Makanya, selain isi dari dokumen tersebut harus bagus, saya juga harus menarik pengiklan. Salah satu caranya adalah menambah endorsement, ngehubungin langsung (kalo emang kenal) untuk ngasih notifikasi, atau ngasih kata-kata berupa perkenalan diri atau respon iklan dalam email/surat pengantar tersebut.

    Gimana, cukup jelas?

    Btw, untuk diketahui aja: saya menulis post ini bukan dalam kapasitas HRD – karena saya juga ga kerja di bagian HRD. saya menulis post ini dalam rangka berbagi pengalaman, sesuai dengan yang pernah dan sedang saya alami. Bahasa kerennya: best practices. :mrgreen:

    Oiya, vacancy yang ada di gambar pendukung di atas itu valid dan masih open. Serius. :)

    Good luck!


  2. Short Story #250: Pilihan

    September 8, 2014 by Billy Koesoemadinata

    Mala menggigiti bibir bawahnya. Cemas. Beberapa kali ia melihat ke arah arloji bergantian ke ambang pintu apartemennya. Menunggu.

    KLIK! Suara anak kunci terbuka hampir saja membuat Mala melompat terperanjat. Tapi ia menarik napas panjang dan coba mempersiapkan dirinya.

    “Lho, udah pulang?” ujar Angga heran sesaat setelah membuka pintu lebar.

    “Iya, udah dari siang tadi sebenernya.” Mala menjawab dari arah sofa.

    “Oh…” Angga kemudian menutup pintu, melepas mantelnya, dan langsung berbelok menuju dapur untuk mengambil minum.

    Mala kembali menggigiti bibir bawahnya sebelum kemudian menarik napas dan berdiri. Ia mendekati Angga yang sedang berada di meja tengah dapur.

    “Sukses?”

    “Apanya?” Mala merespon cepat, namun dengan perasaan bingung.

    “Audisinya?”

    “Oh itu…” Mala menjawab sambil kemudian memainkan jarinya di atas meja.

    “Gagal ya?” Angga menebak.

    “Aku ga tau. Soalnya aku ga ke sana tadi siang.”

    Angga mengangkat sebelah alisnya. “Oh, emang ke mana?”

    Mala kembali menggigit bibir bawahnya. Bingung hendak menjawab atau tidak. Jikalaupun menjawab, apakah perlu berbohong atau jujur saja.

    “Aku ketemu Daniel.” Mala akhirnya memberitahu. Nada suaranya pelan, tapi cukup terdengar oleh Angga yang berada di depannya.

    Angga menurunkan gelasnya, melihat ke arah Mala yang tengah balik menatapnya. Tatapannya terlihat kesal, ia bisa merasakan jika Mala mengetahui itu, tapi….

    “It was only a quick meet.” Mala memberitahu. Merasa bersalah. “Ada beberapa hal yang perlu diberesin.”

    “Aku pikir semuanya udah beres sejak terakhir kali itu.”

    “Emang udah.” Mala menjawab cepat.

    “Trus?”

    Mala diam. Ia kehabisan kata-kata. Tepatnya, ia kehabisan keberanian untuk mengucapkan kata-kata.

    “We’re done.” Angga memberitahu.

    “But it was just a meet. We’re talked, and that’s it..” nada suara Mala mulai terdengar putus asa.

    “Dulu juga awalnya ketemuan biasa.” Angga merespon sambil kemudian berjalan menjauhi meja, mencoba keluar dari area dapur.

    “Angga…” Mala memegang tangan Angga sebelum menjauh.

    “Please don’t make me as an option.” Angga memberitahu. Membiarkan Mala di balik badannya.

    “Tapi aku memilih untuk bersama kamu.” Mala merespon.

    “Kalo kamu beneran milih buat bersama aku, ga bakalan pernah ada yang namanya Daniel.” Angga memberitahu. “If you are really in love with me, you won’t have the second option since the very first.”

    Perlahan-lahan, pegangan Mala di tangan Angga melonggar dan terlepas.


  3. Short Story #249: Distractions

    September 1, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Aku masih ga gitu ngerti kenapa kamu sampe jadi relawan bencana gitu.” Jane mengomentari Dian yang tengah mengepak barang ke dalam tas ranselnya. “Siap ninggalin apa aja semua kesibukan kamu seketika ada panggilan buat bantu-bantu daerah bencana. Mending deh kalo kamu jadi relawan itu sesuai yang kamu pelajarin di kuliahan, lah ini… malah jadi guru anak-anak!”

    Dian tersenyum, tanpa menghentikan kegiatan mengepaknya.

    “Aku beneran penasaran, bagian mana dari engineering yang bisa dipake buat ngajarin anak-anak?” Jane menambahkan. “Apa kamu ngeshare ke mereka soal gimana mereka harusnya jadi insinyur yang kelak mungkin bisa prediksi bencana?”

    “Hampir ga ada engineering sama sekali, sih.” Dian memberitahu di sela-sela kegiatannya.

    “Trus? Kenapa kamu masih mau jadi relawan? Udah ada tiga kali kayanya deh, kamu ninggalin bangku kuliah buat jadi relawan. Untungnya aja, semuanya pas lagi libur atau bukan ujian.”

    “Buatku untung karena ga ganggu kuliah, tapi buat yang kena bencana? Mereka masih bisa napas dan makan sambil berada di tempat penampungan itu udah cukup beruntung.” Dian memberitahu.

    “Still, I can’t get it.” Jane kembali berkomentar.

    Dian menutup ranselnya, lalu membuat tali simpul di atasnya. Lalu ia berdiri, menghadap Jane yang tengah berada di ambang pintu kamarnya.

    “Sometimes what people really need is distractions. So they forget what their real problems are.” Dian memberitahu. “And the most perfect distractions for those who are unlucky because of disasters? Seeing their young ones happy, and still having good educations.”


  4. Short Story #248: Berharga

    August 25, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Kalo udah gini, rasanya kepengen mati aja.” Lukas berceloteh sambil membuang napas. “Udah ga ada harganya lagi kayanya gue jadi orang.”

    “Hus!” Rania langsung merespon. “Pamali, tau!”

    “Apa sih itu pamali? Gue ga percaya hal begitu itu.” Lukas langsung bereaksi.

    “Better you don’t say that. Kalo kejadian ya nanti bisa nyesel seumur hidup.” Rania menjelaskan.

    “I won’t. Since if it’s happened, I would be already dead.” Lukas kembali merespon.

    “Dibilangin pamali, juga. Masih aja dibahas.”

    “Tapi kan…”

    Andrew melihat kedua temannya mulai bertengkar sambil samar-samar percakapannya terdengar di sela-sela headphone yang tengah memperdengarkan lagu ke kupingnya.

    “Move on lah.” Andrew akhirnya ikut berkomentar.

    Lukas melihat ke arah Andrew dengan alis mengangkat. “Lo dengerin?”

    “Gimana ga dengerin kalo lo bedua berisik amat. Mau gue setel volume sampe kenceng juga, gue bakal tetep tau.”

    “Iya sih, dia kan bisa baca bibir.” Rania menambahkan.

    “Trus, gimana bisa move on kalo gue ga ada alesan lagi buat idup?” Lukas kembali mengeluh. Kali ini diikuti dengan menenggak segelas minuman beralkohol yang berada di dekatnya.

    “Ya emang lo punya alesan buat ga idup?” Andrew langsung merespon.

    “Maksud lo?”

    Andrew mendengus. Ia menarik kursinya agar lebih dekat ke Lukas sementara Rania memperhatikan dari seberang meja yang diterpa angin laut malam.

    “How to do be dead is easy. You just end your life.” Andrew memberitahu. “But do you really have the reason to do it?”

    “Dalam kasus gue, ada. Hidup gue hancur!” Lukas menjawab.

    “Kalo lo bilang hidup lo hancur, loe ga bakal punya cukup waktu buat menyadari itu karena lo pasti udah mati saat ini.”

    “Maksud lo?”

    “Iya, lo kepengen mati karena lo sadar lo masih hidup kan? Masih hidup dalam keseharian yang lo anggap hancur ini?” Andrew kembali bertanya.

    Lukas tak menjawab.

    “Let me tell you something, once you’re dead, that’s it. The end.” Andrew melanjutkan. “But don’t you wanna have another chance to rebuild your life again? Start over a new and try it to be a better one?”

    Lukas kembali tak menjawab. Dalam hatinya ia mulai ragu.

    “Nyerah dalam keterpurukan itu gampang. Bisa lo lakuin sekarang juga.” Rania akhirnya menambahkan. “Tapi yang bikin lo jadi manusia yang lebih berharga adalah, apa usaha yang lo lakuin buat lo bangkit dari keterpurukan.”


  5. Short Story #247: Broken

    August 18, 2014 by Billy Koesoemadinata

    TOK! TOK! Pintu apartemen diketuk. Walau Aldo tengah asyik beres-beres, tapi ia tetap segera menuju pintu sebelum terdengar ketukan sebelumnya. Mudah-mudahan itu deliverynya!

    “Hai..” Santi menyapa di balik pintu yang terbuka.

    “Hei…” Aldo kikuk. Terkejut sekaligus kecewa.

    “Kamu beneran udah pulang ternyata.”

    “Ya.. begitulah.” Aldo menjawab lagi. Ia masih membuka setengah pintunya sambil menghalangi dengan badannya, menghalangi Santi dan pandangannya ke dalam apartemen.

    “Lagi sibuk?”

    “Begitulah.”

    “Oh.. yaudah. Aku cuman pengen ngecek aja kabar kamu pulang itu.” Santi menjelaskan sambil kemudian mundur dan coba berbalik. Tapi…

    “Ga masuk dulu?” Aldo menawarkan. Basa-basi.

    “I’m afraid I’ll disturb you.”

    “You already did when you knocked the door.” Aldo merespon sambil kemudian membuka pintunya agak lebar lalu memberikan jalan.

    Santi maju lagi, tapi ia berhenti di ambang pintu. “Aku sebenernya pengen nanya satu hal doang, sih.”

    Aldo tak menjawab. Ia hanya menatap Santi yang balik menatapnya.

    Hening. Beberapa menit berlalu, namun bagi Santi rasanya hampir satu jam. Jelas pertanyaan yang hendak ia tanyakan tampaknya begitu berat.

    “Pas kamu pergi dulu, sempet mikirin aku ga sih?”

    “Sempet, tapi ga selalu.” Aldo cepat menjawab. “Tau sendiri lah di sana kan aku sekolah, dan banyak tugas yang harus dikerjain biar kelarnya on time.”

    “Bukan itu.” Santi langsung merespon.

    “Trus apa?”

    “Aku penasaran aja apa dulu kamu sempet kepikir buat balik badan lagi, meluk aku lagi, ngasih tau bahwa semuanya bakal baik-baik aja, dan kamu pasti pulang.” Santi menjelaskan.

    Aldo diam. Ia tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia bingung apakah itu harus ia jawab atau tidak.

    “Oke. Aku udah dapet jawabannya.” Santi tiba-tiba menyimpulkan sendiri. “See you.”

    “Tunggu!” Aldo meraih pergelangan tangan Santi sebelum sempat berbalik dan menjauh. “Aku nyesel waktu itu ga berbalik lagi meski aku pengen banget…”

    Santi melihat ke tangan Aldo yang memegangnya, lalu ke wajahnya.

    “I’m sorry I didn’t turn around that day.” Aldo menambahkan. Nada suaranya pelan.

    Perlahan Santi merasa dadanya sesak karena hatinya bergejolak. “I’m glad you didn’t do it.”

    “Kenapa?”

    “Because you’d see my heart broken.”