RSS Feed
  1. Short Story #243: Jauh Dekat

    July 21, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Ternyata kabar itu benar. Kamu memang pergi hari ini.” Dara mengomentari seorang pria yang tengah menurunkan tas dari taksi di lobby keberangkatan bandara.

    Pria itu berbalik. Ia tak tampak heran dengan kehadiran Dara.

    “Aku percaya bukan kebetulan kita bisa ketemu di sini, sekarang.” Ihsan menjawab sambil membayar taksi lalu mulai mengenakan tas punggungnya, serta mengangkat sebuah koper kecil.

    “Bawaanmu tak cukup banyak untuk orang yang pindah.” Dara melanjutkan komentarnya. Mengikuti Ihsan melangkah ke dalam bandara.

    “Kenapa harus? Aku pindah kan buat mulai hal baru.” Ihsan merespon tanpa memperlambat langkahnya sambil mencari counter untuk check in pesawatnya. “Seperti restart, kadang beberapa hal emang harus ditinggalkan.”

    “Termasuk aku?” Dara bertanya dari belakang Ihsan karena mulai ketinggalan.

    Ihsan kemudian berhenti. Ia menunduk sebentar sambil menarik napas sebelum kemudian berbalik menghadap Dara.

    “You have made your choices. So let me made mine.” Ihsan memberitahu.

    “Tapi soal pindah keluar negeri ga pernah jadi pilihan. Dibahas sekalipun belom pernah seingatku.” Dara merespon dengan mengontrol nada suaranya agar terkesan datar.

    “Seingatku, beberapa hal tak perlu kubahas lagi denganmu setelah kamu mengambil putusan itu.” Ihsan membalas. “Karena kamu pun melakukan hal yang sama, bukan?”

    Dara diam. Ia seakan-akan kehabisan kata-kata.

    “Oke. Sudah kuduga.” Ihsan siap berbalik lagi namun terhenti.

    “Jadi kamu lebih milih untuk berada dengan jarak ribuan kilometer denganku?”

    “Kalaupun jaraknya hanya belasan kilometer, apakah ada bedanya?”

    “Aku tak tahu.” Dara menjawab pelan.

    Ihsan diam. Dalam hatinya berkecamuk. Ia ingin sekali untuk mendekati Dara, memeluknya, dan mengucapkan perpisahan. Ia juga yakin Dara menginginkan hal yang sama. Tapi…

    “I got to go.” Ihsan memberitahu.

    “Mungkin kita emang butuh jarak yang begitu jauh supaya bisa tau lagi apa yang ga berhasil di antara kita, sebelumnya.” Dara mendadak berkata. “Mungkin jarak bisa bikin kita kembali ngerasain hal yang dulu pernah ada.”

    Ihsan masih belum juga melangkah, namun ia sudah membelakangi Dara. Diam, ia mendengarkan.

    “Mungkin jarak akan menghasilkan kerinduan untuk mendekat.” Dara melanjutkan. “Mungkin jarak jauh yang mendekatkan adalah yang terbaik.”

    “Sepertinya begitu.” Ihsan tiba-tiba merespon. “Dan yang pasti itu lebih baik daripada tetap dekat, namun terasa amat jauh.”


  2. Short Story #242: Benar Salah

    July 14, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Dari mana kamu tahu mana kabel yang benar, dan mana yang salah?” Adam penasaran.

    Josh tersenyum sambil merapikan peralatan tukangnya. Ia baru saja memperbaiki instalasi listrik di rumah Adam.

    “Kata orang sih practice makes perfect.” Josh menjawab singkat.

    “Masa?” Adam tak percaya. Ia mengikuti Josh ke ruang tamu untuk membereskan sisa peralatannya.

    “Ya… itu kan kata orang.”

    “Kalo kata kamu sendiri?”

    Josh berhenti sejenak setelah menutup toolbox sambil setengah berlutut.

    “Well.. apa ya? Aku ga gitu jago bikin kata mutiara.” Josh berkomentar.

    “Ya ga perlu jadi kata mutiara juga.” Adam memberitahu. “Cukup kasitau aku aja gimana caranya kamu bisa tau mana yang bener dan mana yang salah.”

    “Aku sebenernya ikut caranya Edison, si penemu bola lampu itu.”

    “He? Kok bisa?” Adam semakin penasaran.

    “Ya.. konon sebelum akhirnya dapet rancangan bola lampu yang paling stabil, dia ngelakuin ratusan bahkan ribuan rancangan yang berakhir dengan kegagalan.”

    “Hubungannya apa?”

    Josh diam sejenak. Ia lalu tersenyum. “Katanya Edison saat bola lampu menyala stabil, ‘aku bukannya ngehasilin satu rancangan yang bekerja, melainkan juga ngehasilin ratusan dan bahkan ribuan rancangan yang ga akan bekerja.’”

    “Trus? Maksudnya apa?”

    “Kadang kita perlu melakukan hal yang salah atau jahat, hanya supaya kita tahu mana yang benar dan baik.” Josh memberitahu sambil menyelesaikan pemberesan alat-alat tukangnya sebelum kemudian pergi.


  3. Short Story #241: Jauh

    July 7, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Kamu lagi luang? Aku perlu bicara.” Imma mendadak menghampiri Yogi yang tengah asyik membaca buku di kantin kampus.

    “Aku lagi luang, tapi… bukannya kita sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu?” Yogi bingung.

    “Sudah kubilang kan, kalo AKU perlu bicara?”

    Yogi hendak membantah lagi seperti biasanya, tapi untuk kali ini ia diam. Membiarkan Imma yang kemudian duduk di depannya.

    “Ada apa?” Yogi bertanya sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.

    Imma menggigit bibir bawahnya. Matanya sejenak melihat ke kanan dan ke kiri. Resah.

    “Hei.. kamu bisa bicara apapun dan kapanpun, Imma.” Yogi memberitahu.

    Imma menarik napas. Berharap agar dirinya menjadi lebih tenang.

    “Aku tahu sebenarnya kita lagi sepakat buat ga ketemu atau ngobrol apapun dulu…” Imma mulai berbicara. “Dan, aku juga tahu kalo kesepakatan itu harus kita jalani, sesuai dengan obrolan terakhir kita.”

    “Oke, terus?”

    “Kayanya kita perlu buat kesepakatan baru.”

    Yogi mengangkat sebelah alisnya. “Kesepakatan baru? Tentang?”

    Imma menggigiti bibir bawahnya lagi. “Kesepakatan untuk mengakhiri kesepakatan yang sebelumnya.”

    “Oke, aku bingung.” Yogi mengangkat tangannya sebatas pundak.

    Imma menarik napas. “Intinya, kita udahin aja deh kesepakatan buat ga ketemu dan ga ngobrol dulu itu.”

    “Lho, kenapa? Mendadak gini?” Yogi penasaran.

    “Soalnya… semakin aku jarang berinteraksi sama kamu, aku ngerasa semakin jauh dari kamu.” Imma memberitahu. “Dan di saat yang bersamaan, aku jadi nyadar betapa pentingnya kamu ada di keseharian aku.”

    Yogi diam. Berusaha mencerna.

    “I miss you.” Imma memberitahu.


  4. Short Story #240: Kuat

    June 30, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “What do you want?” Rani bertanya dengan nada ketus ketika ia mendapati David di anak tangga depan rumahnya.

    “Ketemu kamu.”

    “Buat apa lagi?” Rani bertanya lagi sambil kemudian berdecak malas.

    “Ada yang harus aku katakana.” David memberitahu. Ia masih berdiri di anak tangga depan rumah Rani.

    “Kamu bisa telepon. Nomerku masih ada, ‘kan?”

    “Aku lebih suka bilang secara langsung. Karena aku ga tau apakah kamu masih mau denger suara aku di telepon.”

    “Ck..” Rani sebal. Ia sebenarnya bisa saja melewati David begitu saja menuju pintu depan rumahnya lalu masuk ke dalamnya. Membiarkan David berada di teras – jika ia memang memiliki keinginan yang kuat untuk berbicara dengannya.

    David menuruni anak tangga. Ia mendekati Rani.

    “Cukup sampai di situ aja, Vid.” Rani memperingatkan David di jarak semeter darinya. “Hakmu untuk lebih mendekatiku hilang di malam kepergianmu.”

    David terdiam.

    “Aku minta maaf.” David memberitahu.

    “Apa kamu bilang? Maaf?”

    “Iya. Aku minta maaf.” David mengulang.

    Rani menarik napas. Dadanya penuh, dan ia ingin sekali meluapkan seluruh amarah yang telah bertumpuk sejak beberapa bulan lamanya. Tapi…

    “Aku ga sekuat itu, Vid.” Rani bersuara pelan. Kepalanya menunduk.

    “Ran…”

    Rani lalu setengah berlari melewati David, menaiki anak tangga rumahnya dan masuk. Pintunya ia tutup, dan ia bersandar sampai akhirnya terduduk.

    Perlahan, terdengar seseorang menaiki anak tangga dan mendekati pintu.

    “Apa maksudmu, Ran?”

    Rani menarik napas. Hatinya kalut. Tapi ia coba menenangkan dirinya untuk menjawab David.

    “Orang yang kuat adalah mereka yang mau minta maaf. Sementara orang yang lebih kuat, adalah yang bisa memaafkan.” Rani memberitahu. “Aku bukan orang yang seperti itu.”


  5. Short Story 239: Aman

    June 23, 2014 by Billy Koesoemadinata

    wpid-screenshot_2014-06-21-01-23-05-1.png

    “Gimana Jepang? Asik kan jalan-jalan di sini?” Ita bertanya pada Topan, sepupunya yang datang berkunjung ke Tokyo sambil liburan. Mereka tengah berjalan santai sore di Yoyogi setelah menjelajah Shibuya.

    “Well, buat jalan-jalan oke. Tapi kalo buat kerja, kalo gue dibayar minimal 4x dari biaya hidup di sini, baru gue mau.” Topan memberitahu.

    “Kenapa?”

    “Kaya’nya kerja di sini melelahkan banget, ya. Jam kerjanya panjang, dan mereka cenderung sungkan sama yang senior. Mirip orang Jawa.” Topan berkomentar.

    “Ah, perasaan lo doang kali.” Ita bereaksi. “Gue belom pernah nemu yang sungkan-sungkan begitu.”

    “Mungkin karena lo masih kuliah kali, bukannya kerja.” Topan memberithau. “Dan itu keliatan banget pas gue naik subway bareng-bareng mereka di jam-jam sibuk.”

    “Hmm.. bisa jadi ya.” Ita merespon. “Ya.. tapi seenggaknya kalo stay di sini ga perlu khawatir soal kejahatan. Segala macem otomatis, banyak kamera pengawas, dan lain-lain.”

    “Yeah, right.” Reaksi Topan seakan meremehkan.

    “Lho kenapa?” Ita penasaran. “Jelas kan mau pulang jam berapapun ya aman-aman aja. Buktinya kaya’ beberapa malam yang lalu itu, lo pulang jam berapa tuh? Jam 12? Tenang kan? Aman, ‘kan?”

    “Well, mungkin maksud lo aman dari hal-hal jahat yang bisa dilakukan orang lain kan? Ga perlu takut sama orang lain gitu, ‘kan?”

    “Iya. Emang ga aman gitu?”

    “Bukannya ga aman.” Topan memberitahu. “Justru karena saking amannya, gue malah takutnya sama yang bukan orang.”