RSS Feed
  1. Yuk, Kunjungin 7 Tempat Populer Di Negeri Kimchi!

    April 22, 2015 by Billy Koesoemadinata

    Korea, negara ini adalah negara yang lagi naik daun di Asia Timur ngalahin Jepang dan China. Maraknya K-Drama dan demam boyband juga girlband ngebuat Korea menjadi salah satu negara yang saat ini banyak dijadiin tujuan oleh para pelancong. Banyaknya spot-spot menarik dan lokasi-lokasi yang romantis membuat Korea Selatan juga sering dijadikan sebagai destinasi honeymoon atau lokasi prewedding, lho.

    Nah, jadi kalo udah bosen dengan kunjungan ke Kuala Lumpur atau Singapura karena seringnya tiket promo AirAsia ke dua kota ini, Korea Selatan bisa jadi prioritas buat next destination traveling. Semua orang juga bisa dapetin tiket promo AirAsia tujuan Seoul di website resmi AirAsia atau dengan beli di Traveloka.com. Udah dapet tiket, pasti perlu juga buat bermalam dong. Nah, buat tempat bermalam dengan tarif low budget, bisa nginep di Metro Hotel, Hotel Icon, dan Daehanjang Motel buat jadi pilihan.

    Back to Korea, ini dia 7 tempat populer yang rekomen buat didatengin di Korea! Siap?

    1. Myeongdong, Seoul

    Myeongdong, Seoul

    Kalo baru berkunjung ke Korea buat pertama kali, Myeongdong adalah sebuah tempat yang sayang buat dilewatin gitu aja karena bisa liat Korean street style, shoping, makan, dan nonton.  Terletak di pusat kota Jung-gu daerah Seoul, Myeongdong adalah distrik perbelanjaan utama Seoul. Di sini terdapat berbagai store dengan harga menengah hingga brand internasional seperti Polo Ralph Lauren, Forever 21, Bulgari and Louis Vuitton, Zara and Uniqlo. Puluhan merek kosmetik top Korea seperti Laneige, Nature Republic, Missha, The Face Shop dan Skin Food juga bisa didapetin di sini.

    2. Insadong, Istana Bukchon dan Gwangbokgong Palace

    Terletak di wilayah yang sama Jungno-gu, di utara Myeongdong. Istana-istana di Seoul adalah lokasi yang harus dikunjungi. Di Istana Gwangbokgung (Gyeongbokgung) dan Changdeokgung kita bisa pelajari kerajaan kuno Korea, sejarah rakyat di desa Buchon (Bukchon), makanan dan seni tradisional di Insadong.

    3. N Seoul Tower, Seoul

    N Seoul Tower

    Terletak di atas gunung Namson dengan ketinggian 243m, N Seoul Tower letaknya ga gitu jauh dari Myeongdong. Perjalanan bisa dengan berjalan kaki dari Myeongdong ke N Seoul Tower. Di N Seoul Tower bisa didapet pemandangan indah kota Seoul dan daerah sekitarnya. N Seoul Tower juga jadi daya tarik wisata utama di Seoul. Sejak renovasi tahun 2005, N Seoul Tower kini memiliki dek bawah yang terkenal dengan pagar gembok cinta.

    4. Nami Island

    Nami Island

    Namiseom atau Nami Island jaraknya sekitar 63 km dari Seoul ke arah Chuncheon, sekitar satu jam perjalanan dengan kereta api. Nami Island terkenal dengan pohon indah yang berjajar di sepanjang jalan, pepohonan ini sangat terkenal di salah satu K-drama populer yang judulnya ‘Winter Sonata’. Karena letaknya yang ga jauh dari Seoul, banyak pasangan dan keluarga yang dateng berkunjung ke pulau kecil buatan manusia ini dan kalo buat para penggemar K-Drama mengunjungi tempat ini di musim dingin adalah suatu kewajiban!

    5. Heaundae, Busan

    Busan, Korea

    Busan, Korea

    Pantai Haeundae ini bisa dibilang pantai yang paling terkenal di negeri ini. “Haeundae” dinamakan demikian ketika seorang sarjana kuno Silla Raya (BC 57-AD 935) berjalan melewati pantai ini dan terpesona, kemudian meninggalkan kata-kata “Hae Un Dae” pada dinding batu di sana. Pantai Haeundae juga sering digunakan sebagai tempat pertunjukan, lho.

    6. Pulau Jeju (Jeju Island)

    Jeju Island

    Jeju Island

    Pulau Jeju (Jeju Island) atau yang dikenal juga dengan nama Jejudo adalah pulau terbesar yang ada di Korea Selatan. Tempat wisata di Korea Selatan ini ditempuh dengan perjalanan kurang lebih mencapai 130 km dari pantai Korea Selatan. Pulau Jeju juga memiliki julukan sebagai Island of The Gods lho, soalnya pulau ini punya keindahan alam terbuka yang meliputi padang rumput, tebing, gunung, air terjun dan padang bunga liar yang indah. Pulau ini juga sering digunakan sebagai tujuan bulan madu atau lokasi prewedding. Siapa mau ke sini?

    7. Taman Hiburan

    tamanhiburan

    Korea Selatan punya dua andalan taman hiburan, yaitu Lotte World dan Everland yang berlokasi di Seoul dan Yongin. Lotte World terkenal dengan theme park indoornya yang sering dipakai sebagai lokasi syuting film, sementara Everland terkenal dengan taman bunga serta bangunan-bangunannya yang indah seperti di negeri dongeng.

    Keren-keren kan ya ketujuh tempat yang wajib kunjung itu? Saya sendiri, udah ke-4 dari 7 tempat itu. Hehe… Jadi ga sabar pengen ke Korea lagi supaya bisa lengkapin ke semua 7 tempat itu. *siap-siap booking tiket ke Traveloka*


  2. Short Story #267: Hal Lain

    April 20, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Kamu masih inget, ga warna kesukaan aku apa?” Wanda bertanya manja pada Sakti yang tengah menonton TV di sebelahnya.

    “Kuning.” Sakti menjawab sambil mengunyah berondong jagung.

    “Salah… aku suka warna merah, tau.” Wanda merespon.

    “Oh.. iya ya? Aku ingetnya kamu suka kuning.”

    “Ih..aku suka warna merah kan soalnya warnanya mentereng gitu. Masa gitu aja ga inget?”

    “Iya, sorry. Aku lupa.” Sakti memberitahu.

    “Sekarang coba lagi, makanan kesukaan aku apa?” Wanda bertanya lagi. Kali ini tanpa nada manja.

    Sakti diam sejenak sambil masih melihat TV dan mengunyah berondong jagung.

    “Nasi padang?” Sakti menebak.

    “Salah!”

    “Sate padang?”

    “Salah!”

    “Lontong sayur padang?”

    “SALAH!” Wanda akhirnya berteriak. “Kamu kok jadi nebak-nebak gitu, sih?”

    “Ya aku ingetnya ada kata-kata ‘Padang’-nya. Tapi lupa persis apaan makanannya.” Sakti berkelit.

    “Hiiihh!” Wanda berdiri dari sofa, lalu menuju dapur kecil di dalam apartemen yang berada persis di belakang sofa mereka.

    Sakti sadar jika ia salah, lalu ia matikan TV menyimpan berondong jagungnya dan menuju dapur. Menuju Wanda. Lalu memeluknya dari belakang karena Wanda tak mau melihat wajahnya.

    “Udah.. jangan marah, dong.” Sakti memohon.

    “Gimana ga marah kalo orang yang katanya care banget sama aku ga inget sama sekali soal apa aja kesukaan aku?” Wanda mengomel.

    “Ssshh… Aku ga inget kesukaan kamu bukan berarti aku ga sayang atau ga care lho…” Sakti memberitahu.

    “Ah, ngeles aja.” Wanda merespon sambil coba melepas pelukan Sakti, tapi gagal.

    “Aku ga ngeles. Aku ga inget beberapa hal yang kebetulan kesukaan-kesukaan kamu karena ya aku ingetnya yang lain.” Sakti memberitahu dengan sedikit berbisik.

    “APA?! Wanita lain?!” Wanda merespon setelah mendengar kata ‘yang lain’. Dan akhirnya ia berhasil melepaskan pelukan Sakti.

    Sakti diam sejenak. Ia berusaha memeluk Wanda lagi, tapi gagal. Sementara itu muka Wanda menegang. Kesal. Sebal. Amarah terkumpul.

    “Bukan wanita lain.. Aku sibuk mikirin dan keingetan hal lain yang bukan kesukaan kamu.” Sakti menjelaskan. “Aku mikirin dan nginget-nginget gimana caranya supaya kamu ga kekurangan, dan semua keinginan kamu bisa aku penuhin.”

    “I-itu….” Wanda kehabisan kata-kata.


  3. Short Story #266: Kita Perlu Bicara

    April 13, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Kita perlu bicara.” Dea memberitahu Joni saat mereka sudah setengah perjalanan pulang.

    “Dari tadi memangnya kita ga bicara?” Joni menjawab sambil terus mengemudi kendaraan.

    “Bicara yang serius, Jon.”

    Joni diam. Ia menghela napas sambil terus mengemudi dengan berhati-hati. Dalam hatinya ia tahu, untuk lebih baik menunggu saja jika Dea sudah mengatakan apapun yang serius.

    “Kok diem aja?” Dea bertanya.

    “Lah ya aku nunggu kamu mau bicara yang seriusnya apa?”

    “Hhh… at least respon kek, jadinya aku tau kapan aku harus ngomong.”

    “Kamu mau ngomong kapanpun juga aku ga pernah ngelarang, ‘kan.” Joni memberitahu. “Udah, balik lagi ke inti. Apa hal serius yang mau kamu bicarain sampe ga bisa nunggu di rumah?”

    Dea mengubah posisi duduknya sehingga agak bersandar ke pintu mobil dan menghadap Joni.

    “Aku pengen jalan-jalan-“

    “Oke, sebut tanggalnya. Nanti aku ambil cuti.” Joni langsung merespon.

    “Biarkan aku ngelarin kalimat aku dulu, Jon.” Dea bereaksi. “Aku pengen jalan-jalan sendiri. Ga sama kamu.”

    Joni diam. Menunggu.

    “Ga ada respon?”
    “Aku bingung mau respon apa.” Joni menjawab setelah beberapa menit. Pandangannya masih ke jalanan.

    “Ya ngebolehin atau engga? Sama alesannya.”

    “Hmm..” Joni bergumam. Sambil masih menyetir ia berpikir dan sesekali melihat ke arah Dea yang masih juga menatapnya. Menunggu.

    “Please let me know immediately.”

    “Kenapa buru-buru? Emangnya kamu udah pesen tiket pesawat dan akomodasi?” Joni bertanya sambil menoleh ke arah Dea karena sedang berada di lampu merah.

    “Udah.” jawab Dea segera.

    “Oh.”

    Lalu hening. Dea membuang mukanya ke luar jendela mobil. Joni masih coba memandangi Dea dari belakang kepalanya.

    “Ya kalo gitu sih, hati-hati di jalan, ya. Kamu udah tau aku expect apa aja kalo kamu jalan jauh ga sama aku, baik itu sama temen kantor, temen segeng, dan lain-lain.”

    “Tapi boleh, ga?”

    “Buat apa kamu tau lagi boleh apa engga kalo segala macemnya udah kamu siapin tanpa ijin aku dulu?” nada suara Joni meninggi. Tak lama ia menarik napas dalam-dalam coba menenangkan dirinya.

    “Kenapa kamu ngomong gitu?” Dea bertanya.

    “Karena aku tadinya udah mikirin gimana supaya keinginan kamu tercapai, tapi ya… aku jadi tau kalo percuma aja secara kamu kayanya ga mau aku pikirin.”

    “Aku cuma coba mempermudah, Jon. Biar semua udah cepet siap. Cepet berangkat. Cepet pulang, ‘kan?”

    “Ya. Aku tau. Semoga perjalanan kamu menyenangkan.” Joni menutup komentarnya sambil membelokkan kendaraannya ke dalam komplek rumah mereka.


  4. Short Story #265: Sensitif

    April 6, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Masih diem-diem aja?” Maria bertanya sambil menaruh mantelnya ke gantungan di balik pintu, lalu membuka sepatu boots-nya sebelum masuk ke ruang tengah.

    “Masih. Sama seperti pas kamu berangkat tadi.” Katie menjawab santai sambil menonton TV.

    Maria menuju dapur kecil di belakang ruang tengah, mengambil cangkir dan menuang teh hangat. Lalu menuju meja panjang dekat jendela samping. Salju kecil terlihat mulai turun di luar jendela di bawah langit yang gelap.

    “Udah, jangan dipikirin.” Maria menyarankan.

    Andra menoleh dengan enggan.

    “Bisa jadi kamu aja lho yang terlalu sensitif. Omongan orang kan emang macem-macem sesuai dengan pribadinya.” Maria menambahkan. “You’d be better get over it.”

    “Pengaruh zodiak kali.” celetuk Katie kencang, sehingga terdengar hingga ke dekat jendela.

    “Iya emang. Pisces itu cenderung sensitif. Banget.” Andra menjawab sebal.

    Maria mengusap-usap punggung Andra berusaha menenangkannya. “Udahlah..”

    Andra menarik napas. “Terlalu sensitif atau engga, ga seharusnya juga sih mereka ngomong gitu ke aku.” Andra mengingat-ingat kejadian tidak enak beberapa malam sebelumnya.

    “Yang begitu kan udah risiko manusia jadi makhluk sosial.. Tinggal kitanya aja gimana mau nyikapinnya. Entah itu kamu emang terlalu sensitif atau engga.” Maria merespon.

    “Tapi emang ga enak lho jadi orang sensitif gini.” Andra menjawab. “Apalagi terlalu sensitif. Apa aja bisa berasa banget.”

    “Berasa boleh, tapi jangan terlalu dipikirin atau dimasukin hati.” Maria menyarankan.

    Andra diam. Ia kembali melihat ke arah jendela.

    “Udah ya.. Udah.”

    “Aku udah ga terlalu mikirin lagi sih omongan mereka itu.” Andra memberitahu.

    “Bagus-” Maria hendak memuji tapi kemudian terpotong.

    “Tapi ada yang lain yang bikin aku kepikiran dari malam itu. Tapi mungkin akunya aja yang terlalu sensitif jadinya ya berasa.”

    “Emang apaan?” Maria penasaran.

    Andra menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya.

    “Aku bingung aja, kok kamu kayanya ga nyadar kalo ada cewek namanya Katie di ruang tengah kita sejak beberapa malam lalu itu?”


  5. Short Story #264: Ringback tone

    March 30, 2015 by Billy Koesoemadinata

    Ponsel Derrick berbunyi di atas meja kecil samping sofa. Sambil malas-malasan, Derrick melihat sejenak ke arah layarnya, lalu melihat sebuah nomer yang belum ada di daftar kontaknya.

    Pasti sales kartu kredit nih.

    Derrick menyimpan ponselnya lagi dan membiarkannya untuk berbunyi terus menerus, sampai kemudian mati sendiri.

    Kalo bukan sales dan emang beneran perlu gue, pasti bakal nelepon lagi ga lama dari sekarang.

    Dan tak sampai semenit, ponsel Derrick berbunyi lagi. Ia kali ini masih duduk bersandar di sofa, lalu melihat sejenak ke layarnya dan mengenali bahwa nomernya adalah yang sama dengan yang sebelumnya.

    Tunggu bentar lagi.

    “Ya, halo?” Derrick menyapa. Tapi, tak ada suara jawaban. Lalu putus. Tut-tut-tut…

    “Iseng bener.” Derrick bergumam sambil tiduran sambil membawa ponselnya, lalu ia coba memejamkan mata.

    Beberapa menit kemudian, ponsel Derrick berbunyi lagi. Dengan perasaan yang sedikit kaget, Derrick langsung mengangkat teleponnya sambil tetap terpejam.

    “Ya, halo?” Sepi, tak ada jawaban. Lalu putus lagi. Tut-tut-tut…

    Dengan enggan, Derrick membuka mata, lalu melihat recent call-nya.

    Nomer yang sama. Siapa sih ini? Beneran iseng banget.

    Derrick baru saja hendak memejamkan mata lagi, ketika ponselnya berbunyi lagi. Tapi kali ini bukan bunyi telepon, melainkan pesan masuk.

    “Kamu masih suka aja sama lagu itu. Yang jadi RBT-mu.”

    Derrick diam sambil membaca pesan itu. Ia berpikir cukup lama, sambil mengingat-ingat ia pernah memberitahu ke siapa saja tentang kesukaannya pada lagu yang jadi RBT nomer teleponnya.

    Oh, dia.

    [MASA LALU. JANGAN DIRESPON]. Begitu nama kontak yang Derrick simpan untuk nomer telepon yang sedari tadi miss-call & mengirim pesan kepadanya.