“Keputusanmu ini sudah bulat?” Ben bertanya lagi untuk memastikan. “Perlu kubilang berapa kali lagi supaya kamu yakin?” Ida balik bertanya. “Ya.. untuk memastikan saja.” Ben menekankan. “Terutama soal hal-hal yang akan terjadi berikutnya.” “Aku sudah tahu. Dan aku sudah siap.” “Oke.” Ben menenggak minumannya. Mendadak ruang apartemennya terasa lebih hangat. “Kamu kok sepertinya meragukanku? Kenapa?” “Ga kenapa-kenapa.” “Benarkah?”… Read Article →

“Besok kamu ga perlu dateng lagi.” Pipit berdiri memberitahu Magda yang baru saja duduk di meja kerjanya. Muka Magda terkejut. Ia tak menyangka jika niatan masuk kerja di pagi hari itu akan menemui kondisi seperti itu. “Clean up your desk.” “Aku dipecat?” “If you say so.” Pipit beranjak dan menuju mejanya lagi. Magda masih diam sejenak… Read Article →

“Eh, kamu ada di rumah.” Fika menyapa Reni, teman seapartemennya saat ia membuka pintu dan keluar kamar. “Well, I lived here.” Reni menjawab sambil terus menyantap semangkuk es krim di atas sofa ruang tengah. “Kamu yang ke mana aja, kok baru keliatan?” “Di kamar.” Fika menjawab singkat dari atas meja dapur kecil. Menyiapkan makanan. “Hampir kukira kamu minggat.”… Read Article →

TOK! TOK! TOK! Pintu apartemen Agnes setengah digedor. Dengan mata yang masih perih karena kantuk serta kepala yang pening karena belum sadar sepenuhnya, Agnes berjalan enggan dari kamarnya ke depan. Agnes melihat sejenak melalui lubang intip di pintunya untuk melihat siapa yang membangunkannya sepagi itu. Lalu, ketika ia sudah tahu, langsung ia buka pintunya cepat-cepat. “Sepagi… Read Article →

“Di mana lagi yang harus aku tanda tangani? Sudah semua, ‘kan?” Indra bertanya sambil melihat ke arah arlojinya. Ia terlihat antara sebal karena lelah atau ada acara lain. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin agar semua ini lekas tuntas. “Sebentar.” Pramita membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai Indra tandatangani ke dalam sebuah map, lalu menyiapkan map lain dan mengeluarkan isinya ke… Read Article →

Scroll To Top