RSS Feed
  1. Short Story #277: The First

    June 29, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Siapa, Ren?” Cathy bertanya sambil menyetir pada Rena yang duduk di sampingnya.

    “Nyokap.” Rena menjawab singkat.

    “Lo kok kaya’ ga seneng gitu ditelepon dia?” Cathy penasaran sambil tetap fokus ke jalanan.

    “Bosen aja gue, ditelponin sejam sekali gini.” Rena memberitahu. “Gue kan udah gede, tapi kok ya diteleponin kaya’ anak sekolahan gitu. Dicariin lagi di mana, dan lain-lain.”

    “Oh.” Cathy lalu diam sambil tetap mengemudi dengan tenang.

    “Bokap gue lebih-lebih daripada nyokap.” Rena melanjutkan tanpa diminta. “Jelas-jelas dia melek teknologi, bisa ngecek gue lagi di mana pake google maps atau twitter, tetep aja masih neleponin juga per tiga jam buat konfirmasi last statusnya gue.”

    “Wah..” Cathy sedikit berdecak kagum.

    “Ngemalesin tau ga, sih.” Rena berkomentar. “Pengen kaya’ bokap-nyokap loe, dikasitau sekali ya udah. Paling nyaritau kalo ngelanggar jam malam atau ga sesuai yang kita bilang aja.”

    “Well.. Gue justru kagum sama bokap-nyokap lo.”

    “Kenapa bisa? Gue justru dicariin mulu kaya’ gini berarti ga dipercaya gitu.”

    “Mungkin mereka lagi belajar buat lebih percaya sama lo. Tau sendiri lo anak cewek pertama mereka. Lah gue sih, udah anak tengah, sodara gue cewek semua.” Cathy memberitahu.

    “Tapi tetep aja sih, berasa ga bebas. Dimonitor terus bikin ribet.”

    “Itu artinya mereka sayang, lho Ren.”

    “Iya gue juga tau itu artinya sayang, tapi kan ga usah sampe dicariin mulu gini kan bisa.” Rena berdalih.

    “Mungkin mereka cuma pengen jadi orang pertama yang selalu tau kalo lo ada apa-apa. Jadi orang pertama juga yang pertama kali sampe kalo lo nyasar di mana. Jadi orang pertama juga yang bisa nyari bantuan atau ngasih bantuan kalo lo butuh sesuatu.” Cathy menjelaskan.

    Rena terdiam.

    “They just simply want to be the first for you, for your every need. As you are their priority, until you find the one for you.” Cathy mengakhiri.


  2. Short Story #276: Same Page

    June 22, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Sampe mana terakhir kali?” Aurora bertanya.

    “Apanya?” Jones balik bertanya.

    “Kita.” Aurora menjawab.

    Jones tak menjawab dan hanya mengalihkan muka. Ia tidak menyangka jika Aurora akan menanyakan hal itu. Sama seperti ia tak menyangka jika akan bertemu Aurora hari ini, di bandara.

    “Ayolah, buktikan kalo ingatanmu kuat, Jon..” Aurora mengiba.

    “Malas aku.” Jones menjawab sambil sesekali memicingkan mata ke arah layar jadwal penerbangan. Berharap ia sudah dipanggil untuk masuk gate.

    “Yaudah.. kalo gitu jadiin bukti kalo kita bisa jadi temenan baik deh, meski udah ga berhubungan kaya’ dulu lagi…” Aurora memancing.

    “Having this such kind of conversation?” Jones menjawab seadanya.

    “Kamu ga kreatif deh..” Aurora kehabisan kesabaran.

    “Better don’t push your luck.” Jones memberitahu.

    “Maksudmu?”

    Jones menarik napas. Melihat arlojinya, sambil mengintip tulisan di boarding pass. Masih lama.

    “Semuanya berubah.” Jones menjawab.

    “Pastilah semuanya berubah. Kamu berubah, aku juga.” Aurora merespon. “Tapi aku pikir ada beberapa hal yang ga berubah di antara kita. Apalagi, kita masih bisa temenan gini.”

    “Itu menurutmu.”

    “Emang menurutmu gimana?”

    “Ya ga seperti yang kamu bilang tadi.” Jones memberitahu. Coba menyudahi percakapan itu dengan beres-beres lalu coba berdiri.

    “I thought we were on the same page..” Aurora berkomentar.

    “That’s it.” Jones langsung merespon. “I move to every single new page everyday. Maybe that’s why we never matched since.”


  3. Short Story #275: Lies

    June 15, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “So this is it?” Emma bertanya basa-basi sambil memainkan ujung jarinya di pinggiran gelas kopi.

    “Ya, sepertinya ga ada opsi yang lain.” Panji memberitahu sambil duduk tenang bersandar.

    Emma coba tersenyum kecil, meski hatinya retak dan siap pecah berantakan. Kenapa dia ga coba nahan aku?

    “Baiklah.” Emma akhirnya merespon. “Give me few days to take all of my things from your place.”

    “Kenapa mau kamu ambil?” Panji langsung bertanya.

    “Aku ga mau nanti kamu keingetan aku lagi. Kalo kita udah kelar ya, sekalian aja semua yang berkaitan diilangin.” Emma menjelaskan.

    “Kenapa? Buatku itu udah jadi bagian kenangan yang ga bakal aku lupain. Sebagai bagian dari pembelajaran hidup tentang hubungan.”

    “Tapi aku ga mau jadi bagian itu lagi.” Emma memberitahu.

    “Kenapa?”

    Emma diam sejenak. “Ya… karena aku ga mau aja. Ga masuk akal aja kalo kelak kamu berhubungan lagi sama orang lain, trus dia ngedapetin barang-barang terkait aku ada di tempatmu. Ntar dikiranya kita masih couple. Padahal…”

    “Kamu ga pernah jadi pembohong yang oke.” Panji memotong.

    “Maksudmu?”

    “Aku tahu kalo kamu sebenernya ngarep sebaliknya.” Panji memberitahu. “Sama seperti saat kamu bilang mau udahan tadi.”

    Emma diam. Ia senang sekaligus sebal.

    “Sama juga seperti waktu kamu jawab baru pulang dari rumah orangtuamu, padahal kamu pulang dari rumah cowok lain.”

    “Kita masih mau bahas itu?” sergah Emma.

    “Nope. Aku cuma mau kamu tahu, kalo aku bisa tahu kamu bohong apa engga. Dan karena itu, kalo sama aku ngomong jujur apa adanya aja, lah.”

    “Emang kamu ga pernah bohong sama sekali?” Emma bertanya.

    “Engga.”

    “Ga pernah sekalipun? Bahkan white lies?”

    “Nope. I speak only the truth, or at least not lying.” Panji memberitahu. “Because lying only lead to another lies.”


  4. Short Story #274: Standard

    June 8, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Ga capek single terus?” Wanda bertanya pada sahabat lamanya, Cathy yang tengah menemaninya di coffee shop.

    “Single-nya ga capek, nyari dan nunggu orang yang tepatnya yang capek.” Cathy merespon sambil kemudian menyeruput kopinya.

    “Lah, emang yang selama ini datang dan pergi, ga ada yang tepat?” Wanda bertanya lagi.

    “Kalo ada yang tepat, ga bakalan datang dan pergi. Paling datang sekali, trus ga pergi lagi.” jawab Cathy. “Atau mungkin akunya sekalian dibawa pergi.”

    “Haha..” Wanda tertawa yang kemudian diikuti Cathy.

    “Tapi beneran lho Wan, aku capek. Rasanya pengen jadi putri aja gitu, didatengin banyak pangeran buat jemput trus live happily ever after.”

    “Happily ever after only exists in fairy tales.” Wanda memberitahu.

    “Tapi kehidupanmu keliatannya seperti itu!”

    “Well… terlepas dari ga enaknya, emang keliatannya seperti itu sih.” Wanda menjawab. “But stop talking about myself. Let’s talk about you again.”

    Cathy menggerak-gerakkan kepalanya sedikit seperti orang sedang pusing, lalu kemudian menahan dahinya dengan tangan.

    “To be exact, aku udah cukup desperate buat dapetin cowok yang tepat.” Cathy curhat. “I’m going to be 35 in few weeks!”

    “Jangan jadiin umur sebagai patokan harus dapet jodoh.” Wanda memberitahu.

    “But you get your right man when you were so young! Kenapa aku ga bisa juga seperti itu?”

    “Jodoh di tangan Tuhan, Cath.”

    “Kalo gitu jodohku dipegangin terus sama Tuhan ya.”

    “Hus! Ngawur ngomongmu.”

    “Ya abis…” Cathy kembali mengeluh. “Susah bener sih ya dapetin cowok yang tepat sesuai standar.”

    Wanda diam sejenak. Membiarkan Cathy menerawang sebentar ke luar jendela coffee shop.

    “Maybe it’s not the people that were not met your standards. Maybe it is you whose putting your standards too high so no one could ever meet it.” Wanda memberitahu.


  5. Short Story #273: Tunggu Waktu

    June 1, 2015 by Billy Koesoemadinata

    “Kalo diperhatiin baik-baik, banyak hal-hal kecil yang bisa dijadikan alasan kita buat bersyukur, ya.” Februa berceletuk sambil membiarkan desau angin meniup rambutnya untuk kesekian kalinya.

    “Tentu saja.” Michael menjawab.

    “Contohnya juga banyak.” Februa meneruskan sendiri. “Langit malam yang bersih. Lokasi yang bagus buat ngeliat kota. Sampai dengan suhu udara yang enak dengan beberapa angin.”

    “Juga temen nongkrong yang asik.” Michael menambahkan sambil menebak-nebak arah omongan Februa.

    Februa menoleh ke arah Michael yang sedang menyandarkan badannya dan menyesap kopi hangatnya.

    “Kalo ga ketemu kamu, mungkin aku ga bakalan tau ada tempat seperti ini, yang bisa didatengin dengan cukup bebas, aman, dan ada pemandangan yang bagus.” Februa berkomentar.

    “Yah.. tempat ini tinggal nunggu waktu aja sebenernya sampe kemudian semua orang tau, yang berarti kamu juga bakal tau dengan sendirinya.” Michael menjawab sambil menoleh pada Februa yang duduk di atas kap mesin mobil. “Ga ada hubungannya sama ketemu aku.”

    “Menurutku ada, karena aku ga perlu nunggu waktu, jadi bisa tau duluan dibanding orang lain.”

    “Well, if you say so…” Michael menyesap kopinya lagi. Santai menikmati heningnya malam dengan Februa.

    “Kalo ga ketemu kamu juga, mungkin aku udah pindah keluar kota atau pergi jauh entah ke mana.”

    “Semua orang pasti bakal pindah atau pergi, kok. Tinggal nunggu waktu aja.” Michael merespon kalem.

    Februa melompat turun dari kap mobil. “Kalo kita bisa ketemu, apa sebenernya nunggu waktu juga?”

    “Menurutku iya.” Michael bereaksi. “Kenapa kamu nanya begitu?”

    “Karena menurutku, kalo cowokku yang terakhir ga sejahat itu dengan jalan sama cewek lain, mungkin aku ga bakalan ketemu kamu.” Februa berkomentar.

    Michael diam. Ia menghela napas.

    “Kalo kamu ketemu aku duluan, mungkin kamu ga bakalan dijahatin cowok kamu yang terakhir itu.”