RSS Feed
  1. Short Story #249: Distractions

    September 1, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Aku masih ga gitu ngerti kenapa kamu sampe jadi relawan bencana gitu.” Jane mengomentari Dian yang tengah mengepak barang ke dalam tas ranselnya. “Siap ninggalin apa aja semua kesibukan kamu seketika ada panggilan buat bantu-bantu daerah bencana. Mending deh kalo kamu jadi relawan itu sesuai yang kamu pelajarin di kuliahan, lah ini… malah jadi guru anak-anak!”

    Dian tersenyum, tanpa menghentikan kegiatan mengepaknya.

    “Aku beneran penasaran, bagian mana dari engineering yang bisa dipake buat ngajarin anak-anak?” Jane menambahkan. “Apa kamu ngeshare ke mereka soal gimana mereka harusnya jadi insinyur yang kelak mungkin bisa prediksi bencana?”

    “Hampir ga ada engineering sama sekali, sih.” Dian memberitahu di sela-sela kegiatannya.

    “Trus? Kenapa kamu masih mau jadi relawan? Udah ada tiga kali kayanya deh, kamu ninggalin bangku kuliah buat jadi relawan. Untungnya aja, semuanya pas lagi libur atau bukan ujian.”

    “Buatku untung karena ga ganggu kuliah, tapi buat yang kena bencana? Mereka masih bisa napas dan makan sambil berada di tempat penampungan itu udah cukup beruntung.” Dian memberitahu.

    “Still, I can’t get it.” Jane kembali berkomentar.

    Dian menutup ranselnya, lalu membuat tali simpul di atasnya. Lalu ia berdiri, menghadap Jane yang tengah berada di ambang pintu kamarnya.

    “Sometimes what people really need is distractions. So they forget what their real problems are.” Dian memberitahu. “And the most perfect distractions for those who are unlucky because of disasters? Seeing their young ones happy, and still having good educations.”


  2. Short Story #248: Berharga

    August 25, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Kalo udah gini, rasanya kepengen mati aja.” Lukas berceloteh sambil membuang napas. “Udah ga ada harganya lagi kayanya gue jadi orang.”

    “Hus!” Rania langsung merespon. “Pamali, tau!”

    “Apa sih itu pamali? Gue ga percaya hal begitu itu.” Lukas langsung bereaksi.

    “Better you don’t say that. Kalo kejadian ya nanti bisa nyesel seumur hidup.” Rania menjelaskan.

    “I won’t. Since if it’s happened, I would be already dead.” Lukas kembali merespon.

    “Dibilangin pamali, juga. Masih aja dibahas.”

    “Tapi kan…”

    Andrew melihat kedua temannya mulai bertengkar sambil samar-samar percakapannya terdengar di sela-sela headphone yang tengah memperdengarkan lagu ke kupingnya.

    “Move on lah.” Andrew akhirnya ikut berkomentar.

    Lukas melihat ke arah Andrew dengan alis mengangkat. “Lo dengerin?”

    “Gimana ga dengerin kalo lo bedua berisik amat. Mau gue setel volume sampe kenceng juga, gue bakal tetep tau.”

    “Iya sih, dia kan bisa baca bibir.” Rania menambahkan.

    “Trus, gimana bisa move on kalo gue ga ada alesan lagi buat idup?” Lukas kembali mengeluh. Kali ini diikuti dengan menenggak segelas minuman beralkohol yang berada di dekatnya.

    “Ya emang lo punya alesan buat ga idup?” Andrew langsung merespon.

    “Maksud lo?”

    Andrew mendengus. Ia menarik kursinya agar lebih dekat ke Lukas sementara Rania memperhatikan dari seberang meja yang diterpa angin laut malam.

    “How to do be dead is easy. You just end your life.” Andrew memberitahu. “But do you really have the reason to do it?”

    “Dalam kasus gue, ada. Hidup gue hancur!” Lukas menjawab.

    “Kalo lo bilang hidup lo hancur, loe ga bakal punya cukup waktu buat menyadari itu karena lo pasti udah mati saat ini.”

    “Maksud lo?”

    “Iya, lo kepengen mati karena lo sadar lo masih hidup kan? Masih hidup dalam keseharian yang lo anggap hancur ini?” Andrew kembali bertanya.

    Lukas tak menjawab.

    “Let me tell you something, once you’re dead, that’s it. The end.” Andrew melanjutkan. “But don’t you wanna have another chance to rebuild your life again? Start over a new and try it to be a better one?”

    Lukas kembali tak menjawab. Dalam hatinya ia mulai ragu.

    “Nyerah dalam keterpurukan itu gampang. Bisa lo lakuin sekarang juga.” Rania akhirnya menambahkan. “Tapi yang bikin lo jadi manusia yang lebih berharga adalah, apa usaha yang lo lakuin buat lo bangkit dari keterpurukan.”


  3. Short Story #247: Broken

    August 18, 2014 by Billy Koesoemadinata

    TOK! TOK! Pintu apartemen diketuk. Walau Aldo tengah asyik beres-beres, tapi ia tetap segera menuju pintu sebelum terdengar ketukan sebelumnya. Mudah-mudahan itu deliverynya!

    “Hai..” Santi menyapa di balik pintu yang terbuka.

    “Hei…” Aldo kikuk. Terkejut sekaligus kecewa.

    “Kamu beneran udah pulang ternyata.”

    “Ya.. begitulah.” Aldo menjawab lagi. Ia masih membuka setengah pintunya sambil menghalangi dengan badannya, menghalangi Santi dan pandangannya ke dalam apartemen.

    “Lagi sibuk?”

    “Begitulah.”

    “Oh.. yaudah. Aku cuman pengen ngecek aja kabar kamu pulang itu.” Santi menjelaskan sambil kemudian mundur dan coba berbalik. Tapi…

    “Ga masuk dulu?” Aldo menawarkan. Basa-basi.

    “I’m afraid I’ll disturb you.”

    “You already did when you knocked the door.” Aldo merespon sambil kemudian membuka pintunya agak lebar lalu memberikan jalan.

    Santi maju lagi, tapi ia berhenti di ambang pintu. “Aku sebenernya pengen nanya satu hal doang, sih.”

    Aldo tak menjawab. Ia hanya menatap Santi yang balik menatapnya.

    Hening. Beberapa menit berlalu, namun bagi Santi rasanya hampir satu jam. Jelas pertanyaan yang hendak ia tanyakan tampaknya begitu berat.

    “Pas kamu pergi dulu, sempet mikirin aku ga sih?”

    “Sempet, tapi ga selalu.” Aldo cepat menjawab. “Tau sendiri lah di sana kan aku sekolah, dan banyak tugas yang harus dikerjain biar kelarnya on time.”

    “Bukan itu.” Santi langsung merespon.

    “Trus apa?”

    “Aku penasaran aja apa dulu kamu sempet kepikir buat balik badan lagi, meluk aku lagi, ngasih tau bahwa semuanya bakal baik-baik aja, dan kamu pasti pulang.” Santi menjelaskan.

    Aldo diam. Ia tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia bingung apakah itu harus ia jawab atau tidak.

    “Oke. Aku udah dapet jawabannya.” Santi tiba-tiba menyimpulkan sendiri. “See you.”

    “Tunggu!” Aldo meraih pergelangan tangan Santi sebelum sempat berbalik dan menjauh. “Aku nyesel waktu itu ga berbalik lagi meski aku pengen banget…”

    Santi melihat ke tangan Aldo yang memegangnya, lalu ke wajahnya.

    “I’m sorry I didn’t turn around that day.” Aldo menambahkan. Nada suaranya pelan.

    Perlahan Santi merasa dadanya sesak karena hatinya bergejolak. “I’m glad you didn’t do it.”

    “Kenapa?”

    “Because you’d see my heart broken.”


  4. Short Story #246: Fixed

    August 11, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Penasaran aja nih Ren, kenapa kamu mau nerima lagi Adit?” Lola bertanya sambil menyetir mobilnya di tengah jalan Jakarta yang macet.

    “Karena aku sayang sama dia.” Rena menjawab singkat.

    “Beneran sayang?” Lola bertanya lagi.

    “Iya.”

    Lalu hening. Lola diam sambil kemudian menghentikan mobilnya di depan lampu merah.

    “Kenapa kamu nanya begitu?” Rena balik bertanya.

    “Aku pengen aja. Penasaran kan tadi aku bilang.” Lola menjawab.

    “Penasaran karena?”

    “Karena aku pengen tau.”

    “Kenapa pengen tau?”

    “Karena aku penasaran.”

    Rena berhenti sejenak. Ia sudah terbiasa bercakap-cakap dengan Lola dengan pertanyaan dan jawaban yang selalu berputar. Tapi, ia tetap butuh tahu apa alasan Lola bertanya tentang hubungannya.

    “Apa yang ada di pikiranmu setelah tau aku balik lagi sama Adit?”

    “Aku terkejut sih.” Lola menjawab sambil kembali mengemudi setelah lampu merah berganti hijau.

    “Oh.”

    “Aku terkejut karena menurut aku kamu harusnya move on dari dia.” Lola menjelaskan tanpa diminta.

    “Aku move on dari masa lalu, tapi dengan orang yang sama.” Rena merespon.

    “Ya… itu pilihanmu, sih. Sama seperti aku yang boleh memilih untuk berpendapat bahwa ga seharusnya kamu balik lagi sama Adit.”

    Rena diam. Ia agak sebal dengan komentar Lola, tapi ya… apa haknya dia untuk melarang Lola berkomentar? Sama seperti ia tak mau dilarang oleh Lola untuk berhubungan dengan Adit.

    “I know… my heart was broken because of him.” Rena bergumam sambil melihat ke arah luar jendela. Ke mobil-mobil yang mulai menyalakan lampunya karena hari berganti malam.

    “Itu dia alasan komentarku.” Lola langsung berkomentar.

    “Apa?”

    “You can’t be fixed by the person who broke you.”


  5. Short Story #245: Rasa Sakit

    August 4, 2014 by Billy Koesoemadinata

    “Suster, tolong siapin beberapa perban dan juga obat merah ya buat pasien bapak….” Lena membuka tirai UGD lalu kehabisan kata-katanya saat ia menyadari seorang pria yang tengah berbaring di ranjang dengan beberapa perban dengan warna merah.

    “Hai Len.” pria itu menyapa.

    Lena sempat diam sejenak.

    “Suster, tolong siapin juga catatan medis baru buat pasien.” Lena menambahkan yang langsung dituruti oleh suster jaga dan kemudian pergi.

    “Jangan bilang kalo kamu abis touring, Chris.” Lena mulai memeriksa beberapa perban di bagian kaki dan tangan.

    “Aku ga touring. Aku abis mudik.” Chris menjawab sambil membiarkan Lena memeriksa luka-lukanya.

    “Trus kok bisa luka-luka begini? Emang ada kecelakaan di mana?”

    “Ya.. aku pulang mudik naik motor, sih.”

    Lena menghembuskan nafasnya sambil sedikit melepas paksa sebuah perban.

    “Aduduh!” Chris mengaduh.

    “Eh.. sori.” Lena meminta maaf yang langsung diikuti dengan memeriksa luka tersebut.

    “Kamu bisa lebih hati-hati ‘kan Chris kalo bawa motor. Ini kejadiannya kamu disenggol, jatuh ngantuk, atau gimana sih? Bahaya tau ga sih luka-luka begini. Bisa sakit banget kalo sampe salah perawatan. Untung langsung dibawa ke UGD.” Lena menceramahi Chris.

    “Wew.. drastis juga ya perubahan dari juru rawat ke dokter.”

    “Aku masih koas. Belum dokter penuh.” Lena memberitahu sambil kemudian menyuruh suster jaga untuk mulai memberikan obat luar ke luka-luka Chris.

    “Oh… tapi ocehanmu panjang lebar tadi itu ngangenin juga ya ternyata.” Chris berkomentar.

    Lena diam sejenak. Ia berusaha untuk profesional.

    “Tahan dikit ya, bakal sakit dikit, nih.” Lena memberitahu Chris setelah ia melihat suster jaga menyiapkan obat luar dengan dosis agak banyak di luka yang cukup besar.

    “Aku tahan rasa sakit, kok Len.” Chris merespon segera, yang selanjutnya dalam hati ia sesali karena ternyata tindakan suster jaga terhadap lukanya menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat – tapi ia hanya meringis.

    Diam-diam, Lena tergelitik. Ia mendadak teringat betapa dulu Chris sulit sekali diobati tiap kali kedapatan mengalami beberapa luka luar setelah pulang touring. Dulu, saat mereka masih bersama.

    “Kalo kamu tahan rasa sakit, harusnya kamu juga bisa tahan berhubungan sama aku.” Lena bergumam kecil.

    Chris mendengar gumaman kecil Lena namun ia diam saja. Setidaknya, sampai suster jaga pergi sejenak untuk mengambil sesuatu meninggalkan ia dan Lena.

    “I can stand any single pain. Really.” Chris memberitahu.

    Lena tersentak. Ia kaget kenapa Chris bicara seperti itu. Apakah ia tadi mendengar gumamanku?

    “Then why did you leave?”

    “Because I couldn’t stand the one that cause it.”