Tutup

Bukan blog yang ini, tapi yang satu lagi. Saya belum pernah membayangkan sebelumnya kalo saya bakal menutup blog saya. Sama sekali. Kalo domain ga diperpanjang, atau error karena diretas, itu lain cerita — menurut saya. Menutup blog itu lebih perihal akses. Iya, saya sedang menutup akses untuk umum ke blog saya yang itu. Sudah hampir

Jangan Ngaku Pria Sejati, Kalau Dompetnya Masih Replika

Dompet pria kini hadir dalam berbagai model. Baik itu dari segi warna, ukuran, serta bahan. Meski kecil dan lebih sering disimpan di dalam, benda ini bisa membuat tampilan kita jadi lebih kece lho. Dompet juga bisa dijadiin sebagai acuan seberapa sejati kita sebagai pria. Caranya? Adalah dengan melihat keaslian dompet. PENTING! Fenomena Barang KW di Indonesia

Short Story #364: Apa Adanya

“So this is it?” Amanda bertanya sambil memperhatikan Yudi yang sudah berada di dekat pintu. “Sepertinya iya.” Yudi menjawab. “Kamu sendiri yang bilang ga ada jalan lain lagi.” Amanda diam. Memperhatikan. Yudi sendiri masih diam, menunggu. “After all these years…” “Semua hal pasti berakhir.” Yudi menyelesaikan. Lalu bergerak mantap membuka kenop pintu. “Aku berubah meski

Sewindu Lebih

Usia blog dan domain ini mendekati 1 dasawarsa. Belum genap, tapi sudah mendekati. Sewindu sih sudah pasti. Sepanjang itu sudah pernah beberapa kali ganti tampilan dengan template yang sedang saya sukai saat itu. Saking saya sukanya di saat itu, saya bahkan kaya’nya tidak pernah ingat untuk membuat screenshot saat masih published. Kalau sudah ganti, yasudah hilang. Salah

Short Story #363: Aturan

“Aku ga paham kenapa kamu ga pernah nurut sama yang aku bilang..” Arya berkomentar. “Padahal aku ga pernah kasitau yang jelek, apalagi nyusahin.” Perempuan di depannya hanya diam sambil cemberut. Sebal. “..Alhasil seringkali kamu ujung-ujungnya susah sendiri. Mending kalo cuma susah sendiri, lah ini nyusahin aku juga.” “Bilang kalo emang ga mau disusahin, ntar aku

Nama

Nama adalah doa dan pengharapan orangtua terhadap anaknya. Katanya gitu. Iya, begitu. Sebagai lelaki yang sudah menjadi orangtua, saya mengamini perkataan tersebut. Tapi, sehubungan sejak sebelum jadi orangtua saya suka nulis, muncullah pemikiran lain, sbb: Nama yang diberikan pada tokoh atau karakter di cerita fiksi itu termasuk doa dan pengharapan juga kah? Kalo iya, yang

Short Story #362: Kode

“Fiuh…” Utari menghela napas seraya kemudian menutup laptopnya. Ia terlihat bersiap untuk beranjak dari perpustakaan setelah riset. “Udah selesai?” Hans di sebelahnya bertanya. “Hampir.” Utari menjawab. “Nanti malam gue lanjutin lagi. Lo?” “Gue kaya’nya mau submit seadanya aja ini, tapi besok pagi.” Hans memberitahu. “Ntar malem mau coba eksperimen kecil dulu buat pengesahan yang ditulis.”

Rekayasa Sosial

Bukan, ini bukan social-engineering itu – meski secara terjemahan langsung bisa dikaitkan. Rekayasa = engineering, dan sosial = social. Maksud dari tulisan yang saya ambil sebagai judul ini adalah (sedikit) perubahan yang saya putuskan. Di salah satu postingan yang saya buat di blog sebelah (yang sedang diistirahatkan untuk sementara ini, terutama dari peredaran google), saya

Short Story #361: Tak Bisa

“Keputusanmu ini sudah bulat?” Ben bertanya lagi untuk memastikan. “Perlu kubilang berapa kali lagi supaya kamu yakin?” Ida balik bertanya. “Ya.. untuk memastikan saja.” Ben menekankan. “Terutama soal hal-hal yang akan terjadi berikutnya.” “Aku sudah tahu. Dan aku sudah siap.” “Oke.” Ben menenggak minumannya. Mendadak ruang apartemennya terasa lebih hangat. “Kamu kok sepertinya meragukanku? Kenapa?” “Ga kenapa-kenapa.” “Benarkah?”